ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Kak Kai?


__ADS_3

“Mama sudah tua, daripada Mama menikah lagi lebih baik kau yang segera menikah. Ingat usiamu sudah memasuki kepala tiga ndra.” Mama Alya mengingatkan sambil berjalan menjauhi kamar Shila. Ia tidak ingin anak bungsunya itu tahu jika dirinya tengah bersedih karena akan ditinggal oleh Shila.


“Bagimana jika kita menikah bersama-sama Ma?” Goda Andra lagi yang lebih dulu berlari menuju kamarnya kemudian terbahak. Ia tidak ingin mendapatkan hadiah kembali dari Mama Alya.


“Dasar bocah gendeng.” Gumam Mama Alya sambil mengulum senyumnya. Wanita paruh baya itu meneruskan langkahnya untuk menyiapkan makan malam bagi anak serta menantu barunya.


*


Kaisar memandang koper yang sudah siap dibawa. Ia merebahkan tubunya di sofa yang semalam ia jadikan tempat tidur. “Mustahil jika perempuan membawa barang-barang sedikit. Padahal isinya hanya sepatu, tas dan baju. Namun bisa sebanyak ini.” Ocehnya lelah karena ikut membantu istrinya berkemas.


“Maaf Prof, aku tidak menyangka jika barang yang aku bawa akan sebanyak ini padahal masih banyak lagi sisanya yang sengaja kutinggal dirumah.” Ucap Shila tidak enak ketika melihat Kaisar kelelahan karena membantunya.

__ADS_1


“Prof lagi.” Kaisar berdecak sebal “Coba kau latih mulutmu itu agar tidak memanggilku seperti itu terus. Aku tidak mau sampai kena tegur Mama Risa, Mamamu dan juga kakak ipar.” Bibir Kaisar terasa gatal karna sekarang dirinya sudah memiliki kakak ipar yang usianya jauh dibawahnya.


Shila mengerucutkan bibirnya kesal “Ya maaf, aku belum terbiasa kak.” Shila mencoba memanggil Shila dengan panggilan ‘kak’ seperti yang Kaisar mau.


“Maka dari itu biasakan, bagaimana kau akan terbiasa jika terus saja memanggil Prof.” Gerutu Kaisar


“Baru juga satu hari kita menikah, nanti juga lama-lama terbiasa.” Balas Shila tak mau kalah. Dirinya merasa kesal karna Kaisar mempermasalahkan panggilan.


Shila beranjak bangun dari ranjangnya lalu menghampiri Kaisar. “Ayo kita makan dulu kak, setelah itu kita kembali ke rumahmu.” Shila menarik Kaisar untuk mengikutinya. Meskipun lelah dan belum begitu lapar tapi Kaisar tidak mungkin menolak ajakan dari Mama mertua dan juga kakak iparnya.


Makanan yang tersaji di meja makan cukup beragam, mulai dari aneka baceman dan juga sayuran. Shila dan Andra memang menyukai baceman, entah itu ayam ataupun hanya tahu tempe. Mereka pasti akan menyukainya.

__ADS_1


“Ambilkan nasi dan lauk untuk suamimu.” Ujar Mama Alya yang melihat Shila justru duduk dengan santainya lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Shila tidak mungkin membantah Mama Alya karna yang diberitahukannya adalah hal yang benar. Kaisar sudah menjadi suaminya dan sebagai istri dia harus melayaninya.


Shila mengambil piring Kaisar lalu menyendokkan secentong nasi keatasnya. “Kau menginginkan lauk yang mana kak?” Tanya gadis tersebut tanpa menoleh suaminya karena dirinya sibuk melihat aneka lauk yang tersedia.


“Kau itu melayani Kaisar bukan melayaniku. Aku bisa mengambil sendiri.” Sahut Andra yang mengira jika Shila hendak melayani dirinya.


Sama dengan Andra, Mama Alya sendiri juga bingung. Bukankah barusan dirinya sudah menyuruh Shila untuk melayani Kaisar, tapi kenapa kini putrinya itu justru melayani Andra. Padahal Shila tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.


Shila menatap Andra dengan jengah. “Jangan geer, aku melayani kak Kai bukan melayanimu.” Ujarnya dengan wajah seolah-olah sedang mengejek kakaknya tersebut.

__ADS_1


“Kak Kai?” Beo Mama Alya dan Andra bersamaan.


__ADS_2