
Satu Minggu berlalu semenjak kejadian itu, kejadian yang membuat Bila harus menitipkan Adam pada Bian dan Ed. Kejadian yang membuat Bila mengurung dirinya sendiri di kamar nya, dan kejadian yang membuat Bila merasa sangat tidak berharga di mata pria itu.
Pria itu sangat berpengaruh pada Bila. Baik hati maupun pikiran Bila, meskipun, Bila tegaskan sekali lagi bahwa dia sangat pasif dalam hubungan nya dengan Heri.
Tapi jika bicara soal cinta, jangan di ragukan lagi.
''Bil, makan dulu'' ujar Bian menyodorkan sendok makan yang berisi nasi pada Bila.
Bila menoleh, kemudian dia membuka mulut nya, mengunyah nya dengan pelan dengan tatapan kosong nya. Tatapan yang sama seperti saat Bila kehilangan kedua orang tua nya dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan senapan mainan yang di lampirkan di punggung Adam, dan coretan arang yang berada di kedua pipinya, hari ini, Adam sudah bersiap untuk menghibur sang ibu yang tengah di buat kecewa oleh pria tak bermodal itu.
''Kamu sudah siap Dam?'' tanya Ed menggendong bayi itu, hari ini, toko milik Bila tutup, karena pemasok bunga yang biasanya mengirim bunga mengalami kecelakaan ketika mengirimkan bunga ke tokonya.
''Hihihi'' jawab Adam terkikik geli.
''Baik kalau begitu komandan, mari kita ke mamah!'' seru Ed meletakkan tubuh Adam pada lantai dengan posisi tengkurap di atas sebuah skateboard milik Bila.
Karena memang, bayi itu masih belum bisa merangkak dengan sendiri nya. Hanya bisa tengkurap dengan menegakkan kepalanya saja.
Dan sekarang Ed tengah memakai alternatif berupa skateboard untuk luluasa membantu bergerak bayi Adam.
''Tunggu dulu, seperti nya ada yang sedikit keliru'' Ed menerka-nerka.
''Ah, iya, sebentar, tunggu di sini dulu ya'' ujar Ed beranjak dari hadapan bayi Adam.
Sekitar tiga menit, berlalu, Ed kembali dengan sabuk yang berada di tangan kirinya. Ed memakaikan sabuk itu di punggung Adam agar supaya Adam tidak terjatuh jika bergerak.
Jika Adam terjatuh maka Bila akan mengomelinya, ah bukan, Bian juga.
''Baiklah, kamu siap, go!'' serunya menarik skateboard yang sudah Ed modifikasi dengan tali di ujung nya.
''Winggg!!!'' skateboard itu di tarik menggunakan tali oleh Ed, tawa khas bayi kecil menggelegar di seluruh rumah milik Bila, membuat Bila yang tengah memakan makanan nya menoleh ke arah Bian.
''Di mana dia?'' tanya Bila membuat Bian tersenyum. tersenyum cukup lega. Setidaknya Bila dapat merespon dengan sendirinya ketika mendengar suara tawa dari bayi itu.
__ADS_1
''Dia sedang bersama E—''
''Dor- Dor- Dor-!" suara Ed menghiasi, dia menyeret skateboard ke arah Bian dan Bila yang tengah duduk.
"Hihihi" tawa bayi Adam menghiasi.
Dapat Bian lihat, bahwa bibir Bila mulai menipis serta naik ke kedua sisinya.
Bila tersenyum, sudah satu Minggu dirinya tidak melihat perkembangan Adam dengan mata kepalanya sendiri, dia terlalu sibuk dengan kenangan nya bersama dengan pria tak bermodal itu hingga melupakan Adam—bayi titipan yang mampu membuat dunianya seakan kembali pada asalnya.
"Dor- dor- dor!" seru Ed mengambil tubuh Adam, dan meletakkan nya di depan kedua orang dewasa itu.
"Sebut aku Panglima besar Adam!" papar Ed kemudian duduk di depan kedua orang berbeda kelamin itu.
"Bagaimana? apa sudah cocok menjadi ayah?" celetuk Ed menaik-turunkan kedua alisnya.
Bian memutar bola matanya malas, "Umur berapa dia kata dokter?" tanya Bian membuat perhatian Bila yang semula tertuju pada Adam kini beralih pada Ed.
Dia menatap Ed dengan tatapan seperti sedang menunggu sebuah penjelasan.
"Kenapa dia ke dokter? apa sakit?" pertanyaan lirih itu keluar dari tubuh Bila yang sedikit mengecil serta wajah yang pucat itu.
"Lalu, bagaimana kita dokter itu?" tanya Bila.
Kedua pria itu saling tatap, mereka tersenyum tipis ketika mendapati Bila yang seperti nya sudah bangkit dari keterpurukannya, dan seperti nya bayi Adam sangat berpengaruh besar bagi kehidupan Bila selanjutnya.
Karena, selama satu Minggu, Bila hanya ada di dalam dunia nya sendiri, tidak menjawab ketika tidak di suruh menjawab, tidak berbicara ketika tidak sedikit di paksa, dia hanya mengangguk dan menggeleng sebagai jawaban.
"Katanya, usia Adam menginjak enam bulan bulan depan, karena di lihat dari perkembangan nya yang sudah bisa mengangkat kepala nya sendiri dan tengkurap dengan sendirinya dan... oh iya, dari giginya yang sudah empat" jawab Ed.
"Empat?" beo Bian dan Bila bersamaan. Perasaan kedua orang itu Minggu kemarin Adam masih memiliki gigi sebanyak dua, sekarang kok empat?.
"Giginya tumbuh lagi" jelas Ed menggelitik perut Adam sedikit, membuat Adam tertawa dan memperlihatkan keempat giginya.
Bian dan Bila mengangguk, perempuan itu kembali melihat Adam yang tengah tidur dan memainkan senapan mainan dengan kedua tangan dan kakinya.
Tak lupa dengan ocehan nya yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Apa kau tahu apa lagi kata dokter itu?" tanya Ed pada Bila.
Bila kembali menoleh, "Apa?" tanya nya.
"Kata dokter itu, bayi seumuran dengan Adam sudah bisa di gini kan" Ed mengambil senapan mainan itu dari Adam, membuat bayi itu menangis.
Bian yang tidak tahu hanya melihat apa yang tengah di lakukan oleh sahabat nya itu.
Pertama-tama, Ed mengambil bayi itu dengan kedua tangannya, kedua tangannya berada di bawah leher dan di pantat bayi itu, kemudian Ed dengan perlahan mendudukkan bayi itu dengan bersandar pada dada dan lengan kanan nya.
"Jangan marah dulu" ujar Ed ketika melihat wajah dari kedua sahabat nya itu sudah memancarkan aurah yang seperti akan memakan Ed hidup hidup.
"Apa yang kau lakukan Ed?" tanya Bian menggeram kecil.
"Ini kata dokter, dokter itu bilang, di usia yang menginjak enam bulan Adam sudah bisa di belajari duduk," jelas Ed
Bian membuang nafas lega.
Adam sudah tidak lagi menangis ketika Adam me-ngemut jari jempol milik Ed.
Semuanya diam, mereka hanya fokus dengan Adam yang sedang berada di pangkuan Ed.
"Jadi bagaimana Bil?" tanya Ed membuka pembicaraan di antara mereka bertiga.
"Bagaimana?"
"Apa kau masih memikirkan orang itu?" tanya Ed membuat tatapan Bila kembali kosong.
"Sialan!" geram Bian melemparkan sendok yang berada di tangannya ke kepala Ed.
"Sss"
"Oek...oekk..."
•••
- Pertumbuhan gigi membutuhkan waktu sekitar delapan hari, termasuk empat hari sebelum dan tiga hari setelah gigi melewati gusi.
__ADS_1
Google.