Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
16 pria bodoh.


__ADS_3

"Sssttt, sial4n!" ringis pria yang berbicara dengan Bila tadi. Pria itu memegang perut sebelah kanannya yang mengeluarkan darah dari timah panas yang dikeluarkan oleh Avalon.


Para anak buahnya terkejut, mereka sudah mengacungkan pistol mereka kearah Bila dan Avalon. Namun, mereka tidak berani menarik pelatuk dan menembak, tanpa adanya perintah dari pria tadi.


Bila menghampiri Avalon dengan tergesa, lalu dia bergelantungan di lengan kokoh milik Avalon. "Ava, mereka hendak memperkosaku, tapi aku takut" rengek Bila mengerucutkan bibirnya lima senti ke depan.


Para anak buah pria itu hanya menonton apa yang sepasang suami istri itu lakukan, karena tidak adanya perintah dari sang atasan, karena atasan mereka tengah menahan rasa ras sakit yang menguasainya dibantu oleh dua orang disampingnya.


"Apa yang kau takutkan?"


"Aku takut milik mereka kecil, aku alergi terhadap benda keci—"


Dor..


"Yak, tidak kena, apa perlu aku ajari cara untuk menembak?" tanya Bila mengejek, karena tembam yang dikeluarkan oleh pria yang menjadi ketua itu meleset.


"Silal4n! serang mereka!" pekik pria itu sedetik kemudian Bila dan Avalon melompat untuk menghindari hujan an peluru yang mengarah pada mereka.


Bila memilih untuk menancapkan jarum yang dimilikinya, sementara Avalon memilih untuk menggunakan tenaga dan belati di tangannya.


"Lebih baik kau mengincar tengkuk mereka, lalu, aku akan memukulnya!" teriak Bila melompat.


Benar, mereka harus bekerjasama untuk menghemat waktu dan tenaga mereka. Lagipula mereka hanya menggunakan pistol untuk menyerang, mungkin mereka tidak bisa bela diri.


Avalon mengikuti apa yang diinginkan oleh Bila, dia melompat kesana kemari menghindari hujan an peluru dan menggores tengkuk mereka dalam. Setelah tengkuk di gores, Bila memukul tengkuk itu dengan kencang.


Satu...


Dua...


Tiga...


Empat..


Orang tergeletak, ketua dari para pria lemah ini merasa sangat marah. "JAGA TENGKUK KALIAN!" pekiknya mengetahui taktik yang digunakan oleh sepasang suami istri itu.


"Sial4n!" Bila geram, dia diam sebentar lalu melihat kondisi, jalan itu sudah menjadi lautan darah.


Lalau, Bila teringat sesuatu, dia mengambil kedelapan jarum itu dan mulai kembali menggila. Dia menancapkan jarum itu tidak di tengkuk, namun di segala sisi kulit yang memungkinkan untuk ditancapkan. Meskipun efeknya tidak terlalu cepat jika ditancapkan di tengkuk.


Karena, di tengkuk terdapat syaraf yang menghubungkan aliran darah dari tubuh ke otak, jika syaraf itu di tancapkan oleh sebuah jarum yang berisi racun, aliran darah itu akan membawa racun langsung kotak dan mengakibatkan terjadinya kematian yang sedikit cepat.


Avalon juga menyerang, tangan sebelah kanannya terkena goresan peluru disaat dia sedikit kehilangan fokus karena melihat istrinya berhenti dan megambil sesuatu dibalik roknya.


Dor..


Dor...

__ADS_1


Dor...


Dor...


"Adam, Lengkara takut!" lirih Lengkara memeluk tubuh Adam dan menyembunyikan wajahnya di badan bocah berusia tujuh tahun itu.


Nyatanya, meskipun mereka tidak melihat kebelakang dan melihat apa yang terjadi, ada suara tembakan, jeritan hingga makian yang terus terlontar hingga membuat mereka sangat takut. Tidak mungkin hanya Lengkara, Adam tidak takut.


Adam menutup telinga Lengkara dengan kedua tangannya, di menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut untuk menenangkannya.


"Jangan takut, aku berada disini" ujar Adam.


Lengkara mengangguk.


***


Lima...


Enam...


Tujuh...


Delapan...


Sembilan....


Sebelas....


dua belas...


Tergeletak dengan jarum yang berfungsi selama empat menit itu, mereka terjatuh mengenaskan. Orang orang yang melihat rekan rekan mereka sudah tewas pun ada sedikit keraguan untuk melanjutkan pertemuan kecil ini.


Sementara ketua yang tengah duduk berselonjor melihat bawahannya bertempur berdiri, dia marah hingga seluruh tubuhnya memerah karena amarah yang menggebu.


Avalon tersenyum miring, istrinya bukan wanita berandalan biasa, sepertinya dia adalah bagian dari mereka melihat bagaimana cara Bila menghabisi lawan tanpa bersusah payah. Avalon akan menyelidikinya lagi, sebelumnya dia tidak menyelidiki hingga ke akar-akarnya.


Karena menurutnya, Bila hanya seorang wanita berandal jalanan seperti orang orang yang mereka hadapi saat ini.


"SEBENTAR!!!" teriak Bila seketika menghentikan pertempuran antara Avalon dan ketiga orang itu.


Sementara sang ketua adalah orang yang dicari oleh Bila saat ini.


"Avalon, kemana pria yang kau tembak tadi?" tanya Bila celingukan mencari keberadaan pria itu.


Avalon menggedikkan pundaknya, kemudian dia mengambil kesempatan untuk menghabisi ketiga orang yang mengeroyoknya.


"Selesai" ucapnya.

__ADS_1


"Kurang satu, Av—"


"Mommy!" pekik Lengkara membuat kedua orang itu menoleh dan terkejut dengan Adam yang sudah menjadi tawanan dari pria tadi.


"Lepaskan aku, maka aku akan melepaskan anakmu!" ucap pria itu tanpa berbasa-basi. Pria itu mengacungkan pistol miliknya


Karena yang terpenting sekarang adalah nyawanya, dia telah melihat para rekannya dihabisi dalam hitungan menit dengan membabi-buta.


"Baik, tapi—"


Dor...


"Menyusahkan!" maki Avalon menembak pria lemah yang dengan gayanya ingin menyerang mereka. Keenam belas orang itu mati, habis tak tersisa hanya memerlukan waktu selama dua puluh menit.


"Adam!!" pekik Lengkara menghampiri Adam kemudian memeluk tubuh itu. Adam menegang.


"Kenapa?" tanyanya mengelus rambut Lengkara lembut. Dia takut ketika seorang pria membuka pintu mobil mereka dan langsung menarik Adam keluar.


"Adam tidak apa-apa?" tanya Lengkara membuat Adam menggeleng.


"Tidak"


"Ayo anak anak, kita berangkat ke sekolah!" ucap Bila mengiring kedua anak itu untuk masuk kedalam mobil.


Mereka semua masuk, lalu melanjutkan kembali perjalanan menuju sekolah Adam dan Lengkara, meskipun mereka sedikit telat namun tak masalah.


Dan dalam mobil pun mereka tida ada yang berani membahas masalah tadi, membahas ketika sang ayah membunuh pria itu dengan pistol yang dibawanya tepat dihadapan dia anak kecil yang akan mengingat kejadian ini selama sisa hidupnya.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Silal4n! gaun ku terkena noda, bagaimana ini?" umpat Bila melihat seluruh gaunnya yang hampir terciprat oleh darah dari orang-orang lemah itu.


Avalon melirik sekilas, "Biarkan saja, kau akan mendapatkan yang baru" timpal Avalon.


"Tapi yang setelan cela—"


"Peraturan tetaplah peraturan, Bila" potong Avalon cepat, dia tahu akal licik dari istrinya itu.


Bila merengut kecil, dia sudah beberapa kali meminta bahkan memohon namun hasilnya tetap sama, hukuman lima ronde menantinya.


"Kenapa kau tidak merubah saja peraturan itu, kau, kan kelapa keluarga" ujar Bila seperti menemukan sebuah ide cemerlang di otaknya.


"Tidak, aku bukan keturunan asli Camora," tolak Avalon sedikit tidak nyaman untuk mengubah isi dari peraturan didalam mansion.


"Berarti Adam bisa merubahnya, jad—"


"Sudahlah, jangan membahas itu, dan aku ingatkan sekali lagi, bahwa, peraturan tetaplah peraturan, jadi jika aku mendengar kau berbicara membahas tentang gaun lagi, bukan lima, namun sepanjang malam!"

__ADS_1


***


__ADS_2