
"Cara berjalan anda sudah sangat bagus nyonya, seperti seorang wanita bangsawan yang berkelas" puja Ana melihat sang nyonya berjalan mondar mandir dengan cara yang dipelajari dari Rose, dulu.
Untung saja Bila waktu itu memanfaatkan pelajaran dari orang yang kurang ajar itu.
"Ah, kau pandai memuji, Ana" ujar Bila tersipu malu, ia sekarang berputar putar di depan cermin besar yang menampilkan seluruh tubuhnya.
"Ini, aksesorisnya, nyonya" ujar Ana memberikan sebuah tas kecil berwarna putih dengan pernak pernik mutiara asli.
"Dompet?" monolog Bila melihat dompet kosong yang kini sudah berada di tangannya dengan lekat.
"Aku harus memasukkannya apa?" tanya Bila pada dirinya sendiri.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Avalon membuka pintu walk in closed. Di belakangnya terdapat dua orang pria yang sudah membantu Avalon memilih pakaiannya.
"Ava!" pekik Bila berbinar, dia berlari dengan heels yang membuat Ana melotot, sang nyonya memiliki keseimbangan tubuh yang sangat tinggi.
"Ada apa?" tanya Avalon melihat Bila dari atas kebawah.
"Apa aku cantik?" tanya Bila berputar didepan Avalon.
__ADS_1
"Kau selalu jelek, jadi jangan bertanya hal itu" jawab Avalon membuat bibir Bila maju beberapa centi meter ke depan.
Bila teringat sesuatu, tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Avalon, dia menghampiri Avalon lebih dekat, melemparkan tas mutiara tadi keatas lantai dengan santainya.
Ana kembali menahan nafasnya ketika melihat sang nyonya melemparkan benda kecil namun sangat mahal itu dengan santai.
Bila memasukkan kedua tangannya kedalam jas Avalon, dan hal itu membuat Avalon terkejut.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Avalon merasa tangan Bila bergerak bebas dibelakang jasnya.
"Aku mau mengambil ini!" ujar Bila menunjukkan satu benda yang sudah dia dapati dari belakang tubuh Avalon.
Bila tersenyum melihat senjata api yang dipegangnya. Senjata api yang memiliki berat mencapai 1,6 kilogram bernama Desert Eagle— senjata mematikan yang dibuat oleh Israel.
Bila melihat senjata itu dengan seksama, lalu senyum di bibirnya tercetak. "Senjata yang mematikan, aku suka!" ujar Bila berjongkok mengambil dompet dan memasukkan pistol itu kedalamnya.
"Ayo pergi!" sambung Bila menggandeng lengan Avalon.
Belum juga keterkejutan selesai keterkejutan yang dialami oleh Avalon, kini, pria itu kembali dikejutkan dengan kelakuan Bila yang sangat santai menanggapi senjata berbahaya itu. Bahkan wanita gila itu memuji senjata yang bisa saja menghabisi nyawanya dalam waktu kurang lebih lima detik.
__ADS_1
"Ayo pergi!'' rengek Bila menarik kecil lengan Avalon membuat pria itu terbangun dari lamunannya.
"Ambilkan aku senjata lagi!" titah Avalon membuat seorang pria dibelakangnya mengangguk, lalu berjalan masuk kembali kedalam walk in closed.
"Aku juga, ambilkan aku belati" pekik Bila menoleh.
"Dia mengambilnya dimana? Aku ingin ikut!" sambung Bila ingin bergerak dan mengikuti pria tadi. Namun Avalon lebih cepat menahan Bila agar tidak bergerak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Avalon menggeram.
"Aku hanya ingin membentengi diriku" Bila mengerti apa perkataan Avalon yang jika orang lain yang mendengar akan terasa sangat tidak masuk diakal mereka.
Untung saja Bila wanita yang pandai, dia menyambungkannya setiap pertanyaan dari Avalon dengan ucapan pria itu sebelumnya.
Avalon diam. "Ini senjata apinya, tuan, dan ini belatinya nyonya" ujar pria tadi menyodorkan sebuah nampan yang diatasnya berisi pistol dan belati permintaan dari sepasang suami istri itu.
Bila berbinar melihat belati yang terukir itu, dengan cepat dia mengambil sebelum Avalon mengambilnya. Entah kenapa dia sekarang sangat bersemangat.
Avalon hanya menghela nafasnya, dia sekarang sudah paham apa yang dilakukan oleh Bila, wanita itu ingin mengisi dompetnya, namun bukannya dengan uang seperti wanita kebanyakan, wanita itu justru memilih dengan senjata yang mampu melindungi dirinya ketika ada suatu yang mengancamnya.
__ADS_1
Sekali lagi, Avalon harus berpikir lama dengan apa yang dilakukan oleh Bila.