Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Kabar...


__ADS_3

"Mm, kenapa kau tidak pulang tiga hari?" tanya Bila membuka obrolan ditengah mereka dengan perasaan canggung.


"Kenapa canggung?" tanya Avalon menaikkan sebelah alisnya, matanya menatap Bila tajam nan dalam.


Bila meneguk ludahnya kasar, dia menggeleng pertanda tidak ingin menjawab pertanyaan dari Avalon.


Avalon berjalan kearah Bila, melepas kemeja berlengan pendek yang membalut tubuh kekarnya. Avalon duduk didepan Bila, dia mengulurkan tangannya untuk membelai pipi istrinya.


Bila terkejut, dia mematung dengan mata yang saling menatap pada mata Avalon. "Ke-kenapa?" tanya Bila gugup.


"Apa kau gugup?" tanya Avalon membuat Bila mengangguk samar.


"Aku tau bagaimana cara agar kau tidak gugup" ujar Avalon.


"Ba-bagaimana?"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Apa sudah tidak canggung?" tanya Avalon tersenyum miring, dia merenggangkan tubuhnya setelah beberapa jam hanya berdiri dengan tujuan untuk mencari kepuasan.


"Sial4n! Kau selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan!" umat Bila merekatkan selimut ke tubuhnya.


"Milikmu juga tambah sempit," sahut Avalon membuat pipi Bila memanas dengan wajah yang sudah memerah bak permen lolipop berwarna merah.


"Apa yang kau katakan" tanya Bila gugup ia mengalihkan pandangannya, kalian sudah pasti tahu apa yang baru saja suami istri itu lakukan.


"Kau masih juga gugup?" lanjut Avalon. Bila diam, dia tidak merespon apa yang dikatakan oleh Avalon.


"Tapi, bukankah kau yang tadi berteriak-teriak tadi?"


Bila menoleh, "Kapan aku berteriak?"


 "Ah.. Ava, lebih dalam, emuhmmm ini sangat nik—"


"Sial4n, jangan dipraktekkan, bodoh!" pekik Bila tertahan. Satu tangannya membekap mulut Avalon yang sama sekali tidak ia filter. Namun, karena ke gegabahan nya, selimut yang membalut tubuh Bila kini terjatuh dan menampilkan dua bukit kembarnya yang menurutnya sangat kecil.

__ADS_1


"Itu mu juga semakin besar, apa karena setiap malam aku mainkan?" tanya Avalon melihat bukti Bila dengan tatapan berbinar namun bertanya dengan nada yang sangat polos, polos seperti balita yang tidak mengerti apapun.


Bila terkejut dengan arah pandang Avalon, dengan sigap ia menarik kembali selimut yang sempat terjatuh dan menutup asetnya agar pria gila didepannya tidak memakan aset itu.


"Sudahlah, Avalon! Jangan bersikap bodoh seperti itu!" geram Bila menghela nafasnya.


Avalon mengangguk disertai dengan tawa sumbang nya, dia membenarkan posisi duduknya. Suasana hening, hanya ada suara deru nafas dan detik jam yang terdengar oleh telinga mereka.


"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Bila membuat tawa Avalon menggelegar di seluruh kamar mereka.


Bila terdiam, apa dirinya salah mengucapkan pertanyaan? Atau bagaimana?.


"Kena—" ucapan Bila terhenti ketika tawa pria yang memiliki wajah yang banyak bekas luka itu terhenti, pria itu menatap mata Bila tajam dan sangat dalam.


Seakan sedang menjelajahi lorong yang bisa mengetahui apa yang Bila pikirkan sekarang, kemarin, ataupun lusa.


"Apa kau tidak mau jujur, Angelina Salsabila Hibrida?" tanya Avalon dengan nada rendahnya, tak lupa tatapan mata yang membuat Bila menelan ludahnya dengan kasar.


Hibrida? marga yang dimiliki oleh Avalon asli, jadi ia sudah menjadi istri yang dianggap oleh Avalon, dengan bukti Avalon menyebutnya dengan marga yang dimiliki pria itu. Dan untuk kalimat pertama yang diucapkan oleh Avalon, Bila sudah yakin jika pria itu sudah mengetahui semuanya.


"Semuanya benar" jawab Bila.


Avalon hanya diam, dia tak menjawab, namun tatapannya semakin menajam seakan menuntun penjelasan dari apa yang diucapkan oleh sang istri.


"Semuanya memang benar, apa yang kau ketahui, apa yang ku cari dan apa yang duga, semuanya adalah aku, aku, Angelina Salsabila Hibrida. Istrimu" ujar Bila menjelaskan. Dia memutus kontak mata mereka, lalu beranjak pergi kearah kamar mandi meninggalkan Avalon yang sedang mencoba untuk menerima semua pengakuan Bila yang selama tiga hari ini selalu Avalon harapkan untuk sebuah kebohongan semata.


Namun, takdir lagi-lagi tidak berpihak padanya, dia, dan harapannya kini telah pupus dengan pengakuan sang istri.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Flashback....


Tubuh Avalon menegang setelah semalaman mencoba meretas data pribadi sang istri, dia melihat file yang berisi banyak data, dari data kriminal hingga data yang selama ini wanita itu sembunyikan.


Kali ini, dia sendiri yang turun tangan mencari informasi terkait dengan sang istri, menurut Avalon, menunggu bawahan yang dia miliki pasti banyak menguras waktu banyak.

__ADS_1


Avalon tidak menyangka, bahwa Bila telah menandatangani sebuah kontrak perjanjian yang terikat seumur hidupnya.


Avalon membaca semua tulisan kecil itu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Terlebih lagi ketika Avalon mengetahui bahwa Bila setiap satu minggu sekali setelah menikah dengannya pasti melakukan sebuah peretasan yang bernilai puluhan dolar di perusahaan besar yang juga menjadi saingannya.


Uang itu masuk kedalam rekening Bila, dan rekening itu sekarang sudah terisi separuh dari isi rekeningnya.


Bila juga berada didalam sebuah organisasi yang mengikat itu sejak lama, bahkan Bila menandatangani kontrak perjanjian itu ketika menginjak usianya delapan belas tahun.


Di dalam file itu, juga terdapat jejak kriminal Bila secara rinci, dari dimana dia melakukan kejahatan, siapa korban, jam, detik, bahkan jumlah atau hasil yang didapat oleh Bila.


Avalon kembali terkejut sekaligus tidak menyangka, didalam hatinya terbesit jika semua ini adalah bohong, Avalon tidak ingin memiliki istri yang terikat dengan perjanjian itu. Dia sudah mampu, mampu untuk membiayai semua yang diperlukan oleh Bila.


Avalon ingin, hanya dirinya saja yang masuk kedalam dunia yang entah dimana cahaya keluarnya. Dunia yang sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya tenang.


Namun, nasi sudah menjadi bubur, Avalon harus menerima semua kenyataan ini dengan mentah-mentah. Dan, Avalon harus segera kembali untuk berbicara dengan Bila secepatnya. Meskipun didalam hatinya berharap bahwa apa yang dibacanya adalah kebohongan semata.


Avalon mematikan komputernya, dia tidak membaca semua jejak kriminal istrinya, yang dia ingin tahu sudah ia ketahui, yaitu, Bila termasuk bagian dari dunianya. Dan kini Avalon bisa membawa Bila kedalam dunia itu dengan kekuatan yang dimilikinya.


Avalon harus menjaga Bila, kemungkinan besar musuhnya sudah mengetahui bahwa ia sudah memiliki istri dan pasti akan menyerang Bila untuk mengincar kelemahan yang di milikinya.


Avalon beranjak dari lap komputer itu, namun ketika dia hendak keluar dari pintu lab itu, ponselnya berbunyi.


Avalon mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Hmm"


"Tuan, maafkan saya, namun ada seorang yang berhasil meretas keamanan perusahaan milik anda" ucap pria yang bertugas sebagai pemegang keamanan di ujung sana.


"Lalu? Apa kalian tidak bisa mengendalikannya?" tanya Avalon menaikkan suaranya.


"Maafkan kami tuan, karena setelah orang itu meretas kita, orang itu mengacak-acak kemudian mengunci file berkas kita dengan tiga kali encrypt"


Sialan, kalah begini dia harus yang turun tangan langsung menghadap komputer. Karena tiga kau enkripsi tidaklah mudah, butuh keahlian khusus untuk membuka itu. Keamanan di perusahaannya masih lemah dalam hal keamanan. Avalon harus memberikan orangnya.


Avalon mematikan panggilan itu, keluar dari lab komputer milik kelompok Camora dan menuju perusahaan untuk menangani hal ini.

__ADS_1


Avalon bisa saja menyuruh salah satu dari anggota keamanan Camora, namun hal itu sangat beresiko karena anggota Camora memiliki sebuah tanda taato di belakang mereka dengan tulisan aksara Jawa.


__ADS_2