Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
500 juta.


__ADS_3

"Tadi, apa kau tidak mendengar suara?" tanya salah satu satpam pada teman nya.


"Aku mendengar nya, tapi, mungkin, hanya seekor kucing yang mencoba turun dari atas tembok" jawab teman satpam itu menggerak-gerakkan senter yang memantulkan cahaya yang berada di tangannya ke arah kanan, kiri, atas, bawa, ke arah balkon.


"Tidak ada, ayo kembali" ujar nya lalu kembali bersama satu temannya itu.


Di balik tembok yang menjulang tinggi itu, dua kepala—tiga, perlahan muncul ke atas, mereka adalah ketiga orang pria itu. Mereka merangkak naik ke atas dengan seluruh tenaga nya lalu duduk di atas tembok yang menjulang itu.


"Sialan, berat banget bangs4t!" umpat Ed melihat kedua tangan nya yang memerah.


"Cialan!" umpat Adam mengikuti umpatan yang di lontarkan oleh Ed tadi.


"Bagaimana Bi?" tanya Ed melihat cara untuk bersembunyi.


"Kera, satu!" seru Bian se-perdetik kemudian Bian dan Ed sudah bergelantungan di belakang tembok tinggi itu hanya menggunakan kedua tangan nya sebagai tumpuan, karena di bawah mereka sekarang banyak beling sebagai jebakan.


Bian hanya diam, dia melirik ke arah Adam yang berada di belakang pundak Ed. "Are you okay, Dam?" tanya Bian sedikit khawatir karena Adam seorang balita baru tumbuh yang sudah Bila ajak nekat untuk ikut merampok di rumah orang.


"Dam oke!" jawab nya mengacungkan jari jempol nya pada Bian.


"Sssttt..." mereka bertiga menoleh ke arah Bila yang menurunkan tali yang dia gunakan tadi.


Bian dan Ed mengangguk, mereka bergantian untuk bergelantungan dan menaiki balkon rumah itu, sesampainya di sana, mereka berdua melihat Bila yang kembali mengotak-atik kembali tablet yang berada di tangannya.


"Kenapa Bil?" tanya Ed melihat bibir Bila yang bergerak gerak seperti sedang mengumpat.


"Tidak, ayo kita masuk, Ed, bisa kan?" tanya Bila berdiri dari duduk nya.


Ed mengangguk, dia mengambil sebuah benda kecil yang berukuran sedikit panjang di saku celananya, memasukkan benda itu dan memutar nya sebentar dan..


Ceklek..


Pintu balkon ruang kerja itu terbuka. Adam yang berada di gendongan Ed melihat apa yang di lakukan oleh Ed dengan seksama. Mencoba memahami dan memasukkan nya ke dalam otak cerdas nya.


"Ayo masuk!" ujar Bian mendahului pergerakan mereka, Bian menekan satu tombol yang berada di jam nya lalu munculah cahaya seperti cahaya senter di ponsel. Sangat terang.


Bian mencari di mana saklar lampu berada, lalu, menekannya membuat ruangan yang semula gelap gulita itu kini menjadi terang benderang. Bian meletakkan sebuah alat kecil di samping saklar lampu itu.


"Cari data juga, siapa tahu bisa jual" ujar Bila mulai mencari di mana letak uang dan benda-benda berharga di ruangan itu.

__ADS_1


Bian dan Ed mengangguk, mereka mulai berpencar mencari sesuatu yang bisa menghasilkan uang untuk mereka.


Bila di bagian meja, Bian berada di laci- laci, sementara Ed mencari cari di seluruh ruangan.


"Aku dapat sebuah kertas yang berisi tentang projek baru yang akan di luncurkan oleh perusahaan milik pria pemilik rumah ini, apa berguna Bil?" tanya Bian melihat lihat kertas yang bertumpukan di laci yang sedang dia cek.


"Masukkan ke dalam tas sesuatu yang menurut mu berharga!" jawab Bila memasukkan kertas ke dalam tas nya.


Ed membuka laci meja di depannya, matanya berbinar binar ketika melihat jejeran pulpen yang harganya bisa menyaingi gaji yang di berikan oleh Bila.


"Dam, ini, bawa" ujar Ed memberikan lima biji pulpen berwarna hitam pada Adam.


Adam mengambil pulpen itu, meletakkan nya di perutnya.


"Ada berkas!" pekik Ed lagi ketika melihat sebuah berkas di depannya.


"Berkas?" beo kedua orang di belakang nya. Mereka berdua menoleh ke arah Ed lalu meninggalkan pekerjaan mereka dan menghampiri Ed.


"Wah, kita akan kaya Bi!" Bila menepuk pundak Bian dengan nada yang berbinar.


"Seperti tidak pernah melihat uang saja ku Bil,"


"Tet...tettt... Tetttttt"


"Sialan, kita lupa jika setiap pukul dua belas malam ada satpam yang kemari!" seru Bian ketika mendapati jam tangan nya berbunyi ketika mendapatkan sinyal elektronik yang berjarak dekat dengannya.


"Sial, bagaimana ini Bil, di sini tidak ada—"


Ceklek..


Duar....


"Tet....Tetttt.....Tetttt..."


"Bangun, kebakaran!" pekik seorang pria menjauhi ruangan kerja itu sambil berteriak histeris. Pasalnya ketika dia membuka pintu ruang kerja sang majikan, pria itu menemukan percikan api dan kini sudah mulai tersebar.


Suara alarm terdengar.


Sementara ketiga orang yang menyebabkan terjadinya kebakaran yang hanya berlangsung selama lima belas menit itu sudah berada di luar tembok sambil berlari menuju ke arah bukit tempat mereka pertama kali singgah.

__ADS_1


Masih ingat dengan alat kecil yang di tempelkan oleh Bian tadi? Iya, alat itu bernama tempus ignis, atau api sementara yang di ciptakan oleh Bian satu tahun sebelum mereka beristirahat sebentar.


Alat itu pertama kali di uji coban Bian baru saja, alat yang akan meledak secara otomatis ketika ada benda yang bergerak dalam radius 1 kilo meter dari sinyal pemancar nya.


Alat itu akan meledak dan menimbulkan percikan api yang kecil dan lama kelamaan menjadi besar hanya dalam waktu lima belas menit. Jika lima belas menit berlalu, api itu akan otomatis padam.


Api itu tidak permanen, bahkan tidak panas.


"Hanya lima gebok yang kita bawa" ujar Ed duduk selonjoran di hadapan Bila yang juga tengah duduk.


"Are you oke, Dam?" tanya Bila mengambil tubuh Adam.


"I'm fine" jawab Adam mengacungkan jempol nya pada Bila. wanita itu terkekeh kecil.


"Satu gebok yang kau pegang itu berjumlah seratus juga bodoh!" sahut Bian.


"Sayang nya kita tidak bisa mengambil semua yang berada di berangkas itu" bibir Ed maju satu centi.


"Bersyukur!" ujar Bila.


"Omong-omong, pemilik rumah itu bodoh ya?"


"Maksudnya?"


"Ya, berangkas milik nya tidak di gembok"


"Mungkin" sahut Bila dan Bian bersamaan.


Hening sebentar..


"Tapi, aku masih bingung, kenapa ada ap—" ucapan Ed terhenti karena Adam lebih dulu mengoceh.


"Mommy, ama om bat, Dam sok ngin cepelti mommy dan om!" (Mommy, sama Om hebat, besok Adam ingin seperti mommy dan om!) jelas adam dengan mata yang berbinar-binar.


Ketiga orang dewasa di samping nya seketika terdiam mendengar kata yang di lontarkan oleh Adam. Apa mereka melakukan hal yang benar dengan mengajak balita seperti Adam ikut langsung dalam aksi mereka yang pertama kali setelah beristirahat?.


••••


Jangan lupa untuk like, subscribe, serta komen nya juga. Love satu termos...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2