Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Ancaman.


__ADS_3

Avalon melihat Bila yang sudah tidur diatas ranjang rumah sakit dengan tatapan sendu. 30 menit yang lalu, Avalon menampar atau lebih tepatnya memukul tengkuk Bila hingga membuat istrinya itu pingsan.


Avalon harus melakukan hal nekat ini, mengingat bahwa Bila tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Wanita itu memberontak dengan kuatnya sampai Avalon terheran sendiri, kenapa Bila memiliki tenaga besar seperti itu padahal wanita itu baru saja tersadar dari obat biusnya.


"Beri aku kesempatan selama satu bulan" ujar Avalon langsung ketika mendapati Bila yang sudah tersadar dari pingsannya.


Bila menoleh, "Kau lagi bajing4n!" lirih Bila melihat tangannya sudah kembali terpasang infus.


"Tidurlah, ini masih pagi, tiga jam lagi Adam kesini" ujar Avalon mengelus rambut Bila, sementara tangan satunya melihat jam tangannya yang menunjukkan angka enam pagi.


Bila terdiam sebentar, dia tidak mau membalas perkara Avalon yang hanya bisa membuat dirinya merasa sakit hati.


"Pergilah, aku sudah muak dengan wajahmu!" usir Bila secara halus.


"Baiklah," Avalon berdiri dari kursinya, "Cepat sembuh, aku akan kembali nanti" sambungnya mengelus kepala Bila dan kemudian mengecup keningnya lama.


Bila kembali menahan amarahnya. Avalon bersikap seperti seorang yang sangat amat mencintai wanitanya. padahal itu tidak. Menurutnya.


Setelah mencium kening Bila, Avalon akhirnya pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Bila dengan seluruh pikirannya.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Selamat datang kembali Mommy!" pekik Lengkara dan Adam menyambut kedatangan Bila dari rumah sakit. Wanita itu tersenyum tipis melihat sambutan hangat yang dilakukan oleh kedua anaknya dan ketiga sahabatnya dibelakang Adam dan Lengkara.


Tiga Minggu berlalu, selama Bila berada didalam rumah sakit untuk perawatan pasca operasi, wanita itu kini boleh untuk pulang, dengan syarat setiap Minggu Bila harus datang ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan rahimnya yang sempat bergeser.


Selama tingga Minggu, hanya Avalon yang merawat Bila. Tidak seorangpun yang datang mengunjungi Bila sejak malam itu. Karena tindakan tegas Avalon yang melarang dengan keras dan tegas untuk Bian, Ed, dan Gina agar menuruti seluruh perintahnya.


Avalon memakai jurus jitu yaitu surat kontrak yang diberinya dulu. Surat yang berisi bahwa Ed, Gina, dan Bian harus mati dulu sebelum keluar dari Camora.


Dan syarat itu mampu membuat Bian, Ed, dan Gina terdiam' tanpa Avalon memakai tenaganya.


"Terimakasih" ujar Bila mengambil buket bunga tulip yang kemasannya compang-camping. Buket itu ia dapatkan dari tangan Lengkara.

__ADS_1


"Aku membuatnya sendiri, mom" ujar Lengkara memeluk Bila. Di lanjut dengan Adam.


"Di bantu aku" timpal Adam.


"Wah sangat bagus, mommy bangga melihatnya!" ujar Bila mengapresiasi karya kedua anaknya.


Adam dan Lengkara mundur, kini saatnya Gina yang berdiri didepannya dengan kedua tangan yang terbuka lebar. "Aaa, Bila....!!" pekik Gina memeluk tubuh Bila dengan erat.


"Sudah lama tidak bertemu" ujarnya cipika-cipiki ala-ala wanita. "Aku tidak diperbolehkan oleh suamimu" sambungnya dengan bibir yang maju 3 centimeter ke depan.


Bila hanya diam, dia sudah mengetahui hal itu dari Avalon, selama tiga Minggu bersama dengan pria itu tanpa diberi jeda sedikitpun, Dan selama tiga Minggu itu Bila mendapati diri Avalon yang lain.


Avalon yang sama sekali bukan Avalon yang biasanya. Avalon yang banyak berbicara dan Avalon yang banyak menjawab dengan jujur pertanyaan atau menanggapi komentar pedas dari mulut Bila dengan senyuman Bila dapati pada tiga Minggu itu.


Namun, meskipun begitu, kebencian yang dirasakan oleh Bila tidak berkurang sedikit pun. Kebencian itu masih ada, namun Bila sudah pandai menyembunyikan kebencian itu dan mengunggahnya dalam bentuk perkataan pedasnya.


Dan kurang satu Minggu terhitung sejak tiga Minggu yang lalu Avalon meminta untuk Bila memberikannya kesempatan ketiga kalinya.


"Ah, itu bukan salahku," jawab Bila.


Ed tersenyum dengan Bila yang juga tersenyum, "Kemari!" ujar Bila membuka kedua lengannya.


Ed tersenyum lebar, ia berlari hendak memeluk Bila, namun ketika tubuh mereka hendak menempel, Avalon terlebih dahulu menarik tubuh Bila hingga kebelakang.


"Tidak ada yang boleh memeluk tubuh istriku, hanya aku dan anak-anakku, dan sesama wanita" ujar Avalon memeluk tubuh Bila setengah.


Ed yang seperti diberi harapan palsu akhirnya mendengus kasar. Sementara Bila yang sudah muak dengan ke- posesif an Avalon hanya diam tidak menanggapi. Sepeda itu juga Avalon dalam tiga Minggu terakhir.


Bahkan ketika seorang dokter pria hendak memeriksa perut yang dijahitnya, tidak diperbolehkan oleh Avalon, pria tua itu meminta agar dokter wanita yang memeriksa Bila. Alasannya Avalon hibrida tidak mau apapun yang menjadi miliknya dilihat oleh orang lain. Termasuk dokter itu. Bahkan ketika ada suster pria yang hendak menyuntik dirinya, Avalon tidak mengizinkan. Dan seperti yang lalu, harus wanita.


Bila kita keposesifan itu hanya berlaku untuk orang lain, ternyata tidak, itu berlaku juga dengan sahabatnya.


"Aku sahabatnya!" geram Ed.

__ADS_1


K


"Aku suaminya, dan aku berhak untuknya!" sergah Avalon cepat.


"Suami yang baru mengaku ketika istrinya hendak meninggalkannya" celetuk Bian dibelakang sana.


Avalon diam. "Ayo istirahat dulu," ujar Avalon menuntun tubuh Bila.


Bila menurut, dia tidak banyak berbicara sekarang, berbeda dengan dulu.


"Aku pergi" ujar Bila pada ketiga sahabatnya.


"Mommy, nanti ajari Lengkara merakit bunga yaa!!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤...


"Ayo berbaring" ujar Avalon menarik pelan kedua kaki istrinya untuk berselonjor.


Bila diam, dia hanya menikmati perlakuan Avalon padanya.


"Apa kau haus?" tanya Avalon lagi, dia kini sudah terduduk didepan Bila di ranjang yang sama. Satu tangannya memegang ponsel lalu meletakkannya diatas nakas samping ranjang Bila.


Bila hanya diam, pertanda dia tidak haus.


"Apa kau lapar?" lagi-lagi Bila hanya diam diam menatap Bila datar.


"Baiklah, kalau begitu ayo cepat tidur," ujar Avalon mengecup berkali-kali punggung tangan Bila.


Bila kembali hanya diam. "Aku ingin bercerai," ujar Bila membuat tubuh Avalon menegang.


Avalon diam, "Tidur lah, ini sudah malam" ujar Avalon seperti menghindari topik ini.


"Jangan mengganti topik pembicaraan Avalon!" sentak Bila tak sabaran. Avalon selalu menghindari topik ini. Selalu. Jika tidak berkelit maka Avalon akan pergi meninggalkan Bila sendirian.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan mengecek laporanku" ujar Avalon berdiri lalu meninggalkan Bila sendirian.


Bila menatap tajam Avalon yang berjalan pergi darinya, lalu dirinya nampak kembali berpikir. Sedetik kemudian dirinya menoleh dan mengambil ponsel Avalon yang tertinggal.


__ADS_2