Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Jadi?


__ADS_3

"Kelompok Camora pasti memiliki markas" celetuk Bila ketika selesai mendengar cerita dari mulut Avalon tantang asal mula Camora yang dia ketahui sebagai sebuah kelompok bawah tanah yang terkenal dengan kesetiaan mereka terhadap pasangannya, dan terkenal akan kehormatan mereka terhadap seorang perempuan. Baik ketua maupun anggota mereka.


Namun, meskipun terkenal akan hal itu, kelompok Camora juga tidak bisa diremehkan dengan mudahnya, mereka sangat bringas terhadap musuh mereka, orang yang mencegah usaha mereka dan seorang wanita yang berusaha untuk menghancurkan kelompok mereka.


Walaupun kelompok Camora sangat menghormati seorang wanita, namun mereka tidak segan untuk membunuh wanita, dengan catatan bahwa wanita itu ada niatan untuk menghancurkan markas mereka.


"Punya, nam—"


"Ayo kesana!" dengan cepat Bila duduk dan menatap Avalon dengan pandangan yang berbinar-binar.


"Aku ingin kesana! Ayo kita pergi!" ujar Bila tersenyum hingga menampakkan gigi rapinya.


"Apa kau tidak melihat bahwa sekarang sudah sangat malam?" ujar Avalon menaikkan sebelah alisnya.


"Tapi, orang seperti mu pasti bergerak dimalam hari, Ava~" bujuk Bila, dia tiba-tiba sangat ingin mengetahui markas Camora berada dimana dan apa saja yang berada didalam markas itu.


Setelah mendengar cerita Avalon yang membuatnya sangat penasaran dengan Camora, Camora didirikan oleh orang hebat dan pasti kelompok itu juga sama hebatnya.


"Besok, sekarang mari tidur" ujar Avalon membenarkan perkataan sang istri, mereka bergerak di gelapnya malam. Ia tidak mengelak, karena otaknya masih berjalan dengan baik. Istrinya ada bagian dari dunianya.


"Aku mau sekarang, Ava~" rengek Bila menggoyang-goyangkan lengan Avalon.


"Sudah malam, menurut lah!" ujar Avalon dengan nada santai namun tegas seperti memberi peringatan secara tidak langsung.


"Ya~" Bila lesu, dia kembali tidur dengan posisi sama seperti tadi, yaitu tidur dengan ber-bantalkan lengan kekar Avalon.


Dia mengetuk-ngetuk dada Avalon dengan jari telunjuknya sebagai protes akan kekesalannya.


"Ayolah, Ava, aku mohon" ujar Bila mengetipkan kelopak matanya beberapa kali.


"Tidak," jawab Avalon tegas.

__ADS_1


Bila kesal, dia beranjak dari tidurnya dan duduk dengan menatap tajam Avalon. "Sial4n kau! Aku tidak akan tidur dengan mu lagi, selama satu bulan!" pekik Bila menunjuk Avalon dengan jari telunjuknya dan dagu yang dinaikkan.


"Coba saja, aku akan tidur dengan wanita lain, banyak yang mengantri untuk tidur denganku" jawab Avalon menohok hati Bila yang lembut bagaikan deterjen cair.


Avalon iseng, dia ingin mengetahui reaksi dari sang istri yang memiliki sifat sangat bertolak belakang dengan dirinya. Dirinya yang tidak suka basa-basi, monoton memiliki istri seperti Bila yang setiap ada saja tingkah ajaibnya yang mampu membuat Avalon menahan nafas sejenak untuk meredam emosi yang menguasainya.


"Ok—oke," Bila menelan ludahnya kasar. Apa benar yang dikatakan oleh Avalon itu? Tapi, bukankah pria itu pernah mengucapkan padanya bahwa dia adalah yang pertama.


"Coba saja kalau berani, jangan harap untuk menyentuhku lagi, bajing4n" pekik Bila berdiri diatas kasur, dia berkacak pinggang melihat Avalon yang tengah berbaring dengan lengan sebagai bantalannya.


"Baik, jika itu m—ahhhhkkk Bila!" Avalon meringis, ketika perutnya diinjak oleh kaki Bila.


"Bila! Lepaskan!" ujar Avalon mencoba menyingkirkan kaki Bila dari atas perutnya, sebenarnya dia bisa saja langsung menghentakkan kaki Bila, namun, dia mengetes seberapa kuat tenaga yang dimiliki oleh Bila.


"Apa kau berniat mengkhianati ku?!" tanya Bila semakin menekan kakinya.


"Tidak, aku hanya bergurau, lepaskan!" jawab Avalon sedikit kesakitan, ternyata tenaga sang istri tidak boleh ia remehkan. Avalon tidak masalah dengan sikap Bila padanya, dia rasa bahwa Bila sekarang sedang mengeluarkan kekesalannya karena tidak ia perbolehkan untuk pergi ke markasnya, malam ini.


Ya..., meskipun cara melampiaskan kekesalannya tidak wajar.


Avalon geram, perutnya mulai sakit, dia menarik nafas dan sedetik kemudian tubuh Bila melayang dan kini sudah berada diatas ranjang dengan keadaan tengkurap.


"Sial4n, kau bajing4n!" pekik Bila mencoba kembali duduk dari posisinya, namun tubuhnya ditarik oleh Avalon dan pria itu mendekap tubuh Bila dengan sangat erat sehingga Bila kesulitan untuk bernafas dengan benar.


"Lepaskan aku, Avalon!" Bila mencoba memberontak dari dekapan erat Avalon.


"Ternyata kau tidak hanya kuat masalah ranjang, dan tenaga mu cukup bagus untuk ukuran seorang wanita kurus sepertimu" bisik Avalon membuat Bila terdiam lalu mendengus kasar.


Terkadang, Avalon kewalahan dengan stamina Bila ketika berada di ranjang.


"Sial4n, bilang saja kau yang lemah, bajing4n!" pekik Bila menyikut dada Avalon yang berada dibelakangnya.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo tidur aku akan berangkat tiga jam lagi"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤...


"Mommy!!" Adam membangunkan tidur Bila, ia menggerakkan lengan Bila agar wanita yang menjabat sebagai ibunya itu segera terbangun.


"Mommy!" panggilnya lagi.


"Eughh... Apa, Dam?" Bila melenguh panjang, dia ingin segera membuka matanya, namun sepertinya setan yang berada di ranjangnya menariknya agar tetap tidur dan terus menutup matanya.


"Mommy, ayo bangun, lihat apa yang dilakukan oleh Lengkara!" ujar Adam mulai heboh, di heran sendiri, kenapa sang mommy tidak bangun juga padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Mommy, ayo bangun!!" Adam geram, dia menarik tangan Bila agar duduk dengan seluruh tenaga yang ia punya.


Bila duduk dengan rambut yang acak-acakan, matanya masi menutup, namun raganya ingin dia segera bangun.


"Ayo mommy, lihat apa yang dilakukan oleh Lengkara!" ujar Adam berhasil membuat mommy nya duduk.


Bila mengangguk, dia duduk dan mulai turun dari ranjang dengan mata yang masih terpejam. Adam turun dari ranjang besar mommy nya. Dia menggapai tangan Bila dan menarik wanita itu lalu menuntun Bila untuk segera melihat apa yang dilakukan oleh Lengkara.


Bila berjalan mengikuti arahan dari Adam, sesekali menguap ditengah tengah perjalanan. Sementara, para pelayan yang tengah membersihkan mansion dan para bodyguard yang tengah berjaga hanya menunduk ketika sang nyonya lewat dengan dituntun oleh tuan mudahnya.


Sembari mengucapkan kalimat penenang agar mereka tidak melihat lagi tubuh sang nyonya yang hanya terbalut dengan celana tidur dan tank top yang hanya menutup bongkahan milik sang nyonya yang mereka lihat sangat besar.


Mereka tidak sengaja melihat hal itu, jika mereka melihat itu dengan sengaja, maka jangan dihentikan sang tuan besar akan mengamuk dan meletakkan mereka diperbatasan yang taruhannya adalah nyawa mereka.


Meskipun bekerja di mansion ini juga taruhannya nyawa, namun kesempatan nyawa mereka akan hilang hanya 30%. Sementara jika berada diperbatasan, nyawa mereka mungkin akan diberi kesempatan oleh musuh hanya , 92%.


Mereka sangat tahu dengan sifat sang tuan yang sangat tegas itu, bagi sang tuan, miliknya adalah miliknya, tidak boleh ada yang menyentuhnya, jangankan menyentuh, melihat miliknya dengan sengaja dan tatapan yang mendamba akan tuannya congkel mata orang itu.


Karena, hal itu bukan hanya sekedar ucapan semata, mereka pernah menyaksikan dengan langsung bagaimana Avalon mengeksekusi musuhnya karena melihat sang anak— Lengkara dengan tatapan damba karena kecantikan yang dipancarkan oleh wajah cantik nan menggemaskan itu.

__ADS_1


"Nyonya!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


__ADS_2