
"Avalon!!"
"Avalon!!"
"Avalon!!" pekik Bila mencari keberadaan Avalon sembari berlari dari kejaran Ana, pelayan pribadinya.
"Nona, mari memakai gaun dulu!!" Ana berlari dibelakang sang nyonya, dadanya naik turun karena mengejar sang nyonya yang memiliki kecepatan berlari sangat cepat.
"Dimana Avalon?" tanya Bila berhenti didepan seorang pelayan yang tengah membersihkan debu-debu di patung kecil disepanjang koridor.
"Ada dikamar nona Lengkara, nyonya" jawab pelayan itu. Bila mengangguk, kemudian kembali berlari kearah kamar Lengkara.
"Nyonya, tolong berhenti" pinta Ana sedikit berteriak.
Bila tak mendengar suara itu, ah lebih tepatnya ia tidak ingin mendengarnya.
Brak...
"Hos.. Hos.. Hos... Avalon!!" Bila menekuk lututnya, dia lelah, pagi sekali dia sudah harus berlari demi menghindari dari pelayan pribadiny itu, Bila mengatur nafasnya.
"Kenapa aku harus memakai gaun?" tanya Bila kemudian.
Avalon menoleh, dan langsung dikejutkan dengan kondisi Bila yang tengah menekuk lututnya dengan handuk yang masih melekat di kepalanya.
Avalon mengode pengasuh Lengkara untuk membangunkan tidur balita itu, lalu dia menghampiri sang istri.
"Ken—"
"Nyonya!!" pekik Ana terengah-engah sembari membawa satu buah dress berwarna putih yang memiliki motif.
"Nyony—" Ana terdiam melihat keberadaan Avalon, dia menegakkan tubuhnya kemudian membungkuk 110°.
"Maafkan saya tuan" ucapnya.
Avalon hanya diam, lalu mengamati penampilan sang istri, istrinya itu hanya memakai kimono dengan handuk yang melilit rambutnya, jadi, dia berlari hanya menggunakan itu?, bagaimana jika para bodyguard melihat tubuhnya? Apa Bila tidak memikirkan hal itu?.
Avalon menoleh kearah kanan dan kiri, di lorong itu ada banyak bodyguard yang berjejer, awalnya memang sedikit, namun ketika Bila datang Avalon memperbanyak penjagaan di mansion ini.
Para bodyguard itu hanya menatap kearah dengan dengan tubuh yang tegap, di telinganya masing masing terpasang sebuah earphone.
"Kenapa ku berlarian dan hanya mengunakan kimono itu?" tanya Avalon menggeram, dia menatap tajam kearah Bila.
Bila meneguk ludahnya kasar, "Kenapa aku harus memakai gaun?" tanya Bila.
Avalon melirik kearah wanita dibelakang Bila, wanita itu tengah membawa sebuah gaun. "Apa kau tidak memberitahunya?" tanya Avalon pada Ana.
Ana mendongak sebentar, lalu dia kembali menunduk setelah tatapan sang tuan mengarah kepadanya. "Saya sudah menyampaikannya pada nyonya tuan, namun nyonya tetap saja menolak" jawab Ana membuat Avalon mengangkat satu alisnya. Kenapa istrinya ini sangat bandel?.
Bila tersenyum kaku, "Tapi aku tidak ingin memakai gaun itu, aku tidak nyaman!" elak Bila dengan cepat.
__ADS_1
"Jika peraturan dilanggar apa yang akan didapatkan?" tanya Avalon lelah, nanti, jika ada waktu Avalon akan mengambilkan sebuah buku untuk Bila.
"Sebuah hukuman," jawab Bila lirih, di sudah tahu akan hal itu, tapi dia tidak ingin memakai gaun, Bila merasa sangat gerah dan tidak bisa bergerak bebas ketika menggunakan gaun yang memiliki rok itu. "Tapi aku tidak nyaman, Avalon"
"Nanti juga akan terbiasa, dan mulai sekarang biasakan!" final Avalon mengulurkan tangannya pada Ana.
Ana yang mengerti langsung memberikan gaun itu pada tuannya, lalu izin untuk pergi dari sana.
"Pakailah, atau aku yang akan memakaikannya, dan sebentar lagi seseorang akan datang" ujar Avalon memberikan gaun itu pada Bila.
Bila mengambilnya dengan lesu, tidak bisa menolak karena tahu hukuman yang dibicarakan oleh Avalon sangat menyakitkan, yaitu, dia harus berlari mengelilingi mansion sebanyak 50 kali.
Gila, mansion sebesar itu dia harus mengelilinginya sebanyak 50 kali, apa tidak patah tulang kakinya? Bila pernah akan dihukum, dulu. Namun hukuman itu tidak berlaku karena Avalon memberikannya sebuah toleransi, namun dengan syarat jatahnya ditambah dua ronde di setiap malam. lalu ia berjalan masuk kedalam kamar Lengkara. Di ikuti oleh Avalon dibelakang nya.
"Kemana Lengkara?" tanya Bila celingukan mencari keberadaan Lengkara.
"Mandi, mungkin" jawabnya duduk di kursi.
"Adam, bagaimana?"
"Adam tengah bersiap"
Bila mengangguk, Bila tak perlu menghampiri Adam dan membantunya untuk bersiap, karena bocah itu tidak pernah mau untuk dibantu sejak bocah itu sekolah untuk pertama kalinya.
Katanya, dia ingin mandiri, Bila hanya memberikannya izin. Selain untuk Adam belajar kemandirian, Adam juga cukup sudah dewasa untuk memakai baju sendiri.
"Lalu, aku harus memakai ini di mana?" tanya Bila.
"Sial4n! Apa otakmu sudah hilang?!" pekik Bila terkejut, yang benar saja, meskipun mereka sudah saling melihat setiap malam.
"Kenapa?" Avalon menaikkan sebelah alisnya, gaya andalannya ketika malas untuk berucap panjang lebar.
"Malulah, bodoh!" sahut Bila mendengus, sudah dipaksa untuk memakai dress ini, dia juga dipaksa untuk memakainya didepan yang pemaksa.
"Pakailah!" perintah Avalon, Bila hanya mengangguk mengiyakan, dia tidak memiliki kuasa lagi untuk menolak disini.
Bila perlahan menurunkan kimononya, mencari sebuah benda yang dapat melindungi bukit kembarnya didalam gantungan baju itu.
Avalon duduk diam, dia melihat body sang istri dengan tatapan yang lapar, sudah dua hari dia melewatkan malam yang biasanya terjadi.
"Jangan macam-macam!" peringat Bila menyadari hal itu, namun, ada sesuatu yang berada di otaknya sekarang. Bagaimana jika dia membuat Avalon tersiksa?.
Bila memakai pelindung itu dengan menghadap tepat Avalon, tubuhnya dia posisikan dengan posisi yang menurutnya sangat sexy.
"Bila, jangan memancing!"
"Hhahah!!" tawa Bila menggelegar, dengan cepat dia membelakangi Avalon dan menunduk untuk mengambil gaun diatas ranjang itu.
"Bila!!" geram Avalon melihat belahan berwarna merah muda itu, dia tidak ingin beranjak, karena jika ia beranjak maka jadwalnya akan kembali kacau. Meskipun dia duduk dengan tersiksa dan nafas yang ditahannya.
__ADS_1
Bila kembali tertawa, lalu dengan cepat menggunakan gaun itu, dia harus terbiasa mulai sekarang, karena Avalon bukanlah pria yang manis, pria itu adalah pria yang sangat tegas, peraturan tetaplah peraturan.
"Mommu~~"
Pekikan terdengar, Bila menghela nafasnya lega karena telah memakai bajunya tepat waktu.
Bila menghampiri sang anak yang tengah digendong oleh seorang perempuan. Balita cilik itu tengah memakai handuk yang melilit tubuhnya.
"Anak mommy sudah mandi?" tanya Bila mengambil tubuh Lengkara dan menggendongnya.
"Mommy~ huuuuh~" rengek Lengkara dengan bibir yang bergetar.
"Lengkara mandi dengan air apa?" tanya Lengkara pada pengasuh balita itu.
"Air hangat nyonya" Bila mengangguk, "Tolong baju dan perlengkapan Lengkara dibawa kesini" pengasuh itu mengangguk, lalu dia beranjak untuk mengambil perlengkapan nona mudanya.
"Mommy" pekik Adam berlari kearah Bila dan Lengkara.
Bila menoleh, dapat Bila lihat bahwa pria kecil itu sudah memakai baju sekolahnya dengan rapi "Pagi kakak" ujarnya tersenyum.
"Pagi kakak!" Lengkara mengikuti perkataan Bila.
"Pagi mommy, Kara!" Adam mencium pipi Bila.
"Khem" Avalon berdeham melihat keromantisan keluarga bahagia itu, bahagia tanpa mengikutsertakannya.
"Daddy, pagi~" Adam menghampiri Avalon, lalu mengecup pipi pria itu dan duduk disebelahnya.
Adam sudah menerima keberadaan Avalon sebagai Daddy nya, sama seperti Lengkara yang menerima mommy nya, lalu, kata sang mommy, Adam tidak boleh membedakan antara mommy dan Daddy nya, jika Bila diberi satu kecupan, maka Avalon juga sama demikian.
"Bagaimana pagimu, son?" tanya Avalon mulai berbincang, pria dengan jas hitam yang melekat itu menunduk untuk melihat Adam.
"Baik, sama seperti biasanya, kenapa Lengkara sudah bangun?" tanya Adam pada Avalon, tak biasanya Lengkara bangun ketika dirinya hendak pergi ke sekolah.
"Lengkara akan sekolah juga" jawab Avalon.
Bila terkejut, "Sekolah? Sekolah apa, dia masih kecil!" tanya Bila melotot.
"Setiap dua Minggu sekali Lengkara akan sekolah," jawab Lengkara membuat Bila mengangguk, rupanya begitu, dia tidak mengetahui hal itu.
Ternyata baju yang digunakan oleh Lengkara adalah seragam sekolahnya, tak heran kenapa baju itu sedikit lebih formal.
"Baiklah, kalau begitu mommy akan ikut mengantarkan Lengkara sekolah"
Lengkara tersenyum lebar, "Hore!!" pekiknya.
"Adam?" tanya Adam lirih, sembari menunduk dan memainkan jari jemarinya.
"Mommy juga akan mengantarkan Adam, benarkan Daddy?" tanya Bila pada Avalon. Avalon hanya mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, Let's go!"
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤ (◍•ᴗ•◍)❤.