
"Dad, mana hadiahku?" tanya Adam datang menghampiri Avalon dengan nafas yang ngos-ngosan. Dia baru ingat, jika kemarin. malam Daddy nya menjanjikannya sebuah hadiah untuk apa yang dia lakukan.
Semua orang yang memang sedang berkumpul di taman bunga tulip sembari berbincang-bincang serius dengan menikmati senja diujung barat sana pun menoleh. Mereka memberhentikan bincang-bincang mereka karena ada anak kecil.
Adam datang dengan Lengkara dibelakang pria kecil itu.
Avalon mengangguk, "Kemari lah!" titah Avalon. Adam mengangguk dengan senyum yang merekah. Dia menghampiri Avalon dengan mata yang berbinar.
"Daddy akan memberikan aku hadiah apa?" tanya Adam tidak sabaran.
Avalon diam, tangannya terulur kebelakang tubuhnya dan mengambil sesuatu. "Berikan tanganmu!" ujar Avalon yang langsung dituruti oleh Adam. Adam mengulurkan tangannya pada Avalon.
Semua orang hanya diam dan menyimak apa yang dilakukan oleh ayah dan anak itu.
"Hadiah untukmu, simpanlah, dan jaga dia dengan baik" ujar Avalon santai memberikan sebuah pistol dengan berat yang mencapai dua kilo pada Adam.
Semua orang terkejut, tak terkecuali Bila yang sedang memakan jeruknya. Dia seketika tersedak karena melihat tingkah gila Avalon yang memberikan anak sekecil Adam sebuah pistol. Jika itu pistol mainan Bila tidak akan melarang. Ini, pistol ini adalah pistol asli yang bisa membunuh seseorang dalam waktu hitungan menit.
"Hentikan kegilaan mu itu Avalon!" pekik Bila hendak mengambil pistol ditangan Adam, namun kalah cepat dengan gerakan Adam yang menghindarinya.
"Pistol yang sangat bagus, Dad, kapan aku bisa memakainya?" tanya Adam santai, dia memandang takjub pistol yang berada di genggamannya. Sungguh, ini adalah benda yang ingin sekali Adam miliki sedari dulu. Ketika melihat Ed memakainya.
Ed dan Bian serta Gina hanya diam tak memberikan opini apapun, mereka sudah angkat tangan karena kegilaan Avalon yang melewati kegilaan Bila. Mereka kira, Bila adalah orang gila namun waras yang mereka temui, namun ternyata ada yang lebih gila. Yaitu Avalon, pasangan dari wanita gila.
Termasuk Lengkara yang hanya melihat dengan polosnya. Dia tidak tahu apapun apa yang dilakukan oleh orang dewasa didepannya. Kehidupan orang dewasa sangat memusingkan, pikirnya.
"Avalon, kau sudah gila?!" pekik Bila.
"Diam lah!" Avalon menatap tajam kearah Bila. Bila diam, dia menuruti kemauan Avalon agar dirinya diam.
"Nanti, jika sudah waktunya, untuk sekarang, kamu jaga pistol itu, jangan sampai hilang, karena itu adalah salah satu pistol kesayangan tuan Andrew" ujar Avalon lirih diakhir kalimatnya. Dia masih mengingat bagaimana sang tuan besar menghabisi musuhnya dengan sekali tembakan dengan satu peluru itu.
"Siapa Andrew itu?" tanya Adam menyeletuk.
Avalon menggeleng, "Tidak, hanya orang, sebaiknya Adam menyimpan pistol itu agar tidak hilang, kemudian, bermainlah dengan Lengkara, Oke?" tanya Adam mengangguk lalu menundukkan setengah badannya dan mengangguk sebagai bentuk terimakasih dan kemudian beranjak pergi dari hadapan kelima orang dewasa itu.
Adam berjalan sambil dituntun oleh Lengkara, sementara kedua tangannya memegang pistol yang sangat berat itu.
Setelah Adam dan Lengkara pergi, dia kembali duduk dengan tenang, seakan tidak pernah terjadi apapun.
"Avalon, apa yang kau lakukan?" tanya Bila menggeram.
Avalon menoleh, "Hanya memberikan sebuah hadiah"
__ADS_1
"Dia masih kecil, Ava!" otot Bila melotot, wajahnya sudah memerah menahan geram.
"Dan dunia mafia tidak memandang kecil ataupun besar, Angelina!" tandas Avalon tegas.
Pikir Avalon, Adam adalah pewaris, dia harus dididik dari sekarang untuk menyiapkan mental dan fisiknya menjadi yang terkuat. Karena Avalon tidak tahu takdir apa yang akan terjadi kedepannya. Entah itu bik ataupun buruk.
Bila menghela nafasnya kasar. Lagi lagi dia tertampar akan kenyataan.
"Tapi, apakah anak sekecil Adam harus dilatih seka—"
"Harus, Adam harus memiliki mental yang kuat serta fisik yang memadai untuk menjadikannya seorang pemimpin" potong Avalon cepat.
Bila terdiam, "Terserah kau saja, aku akan gila jika memikirkan itu sekarang" Bila menarik nafasnya.
"Baiklah, lanjutkan!" perintah Avalon membuat Ed yang sedari tadi hanya menyimak gelagapan.
"Ah, tadi sampai latihannya ya, baiklah, aku akan menggunakan teknik latihan variasi, mulai dari berlari melompat dan menusuk, tapi disini akan mendominasi dengan teknik melompat dan berguling di udara"
Avalon mengangguk, jika dilihat dan didengar dari cerita Bila, Ed adalah pria yang memiliki tubuh yang sangat kuat dan kecepatan dan ketepatan yang sangat menakjubkan. Sementara Bian, pria itu lebih dominan ke sisi otak. Kalau Gina, dia hanya bisa bela diri dan menguasai senapan jarak jauh.
"Baiklah, besok pagi, pukul satu dini hari, kalian akan aku bawa ke markas".
Ed terkejut, sementara Bian hanya bersikap tenang, dan Gina sedang belajar dari sang suami agar bisa bersikap tenang sepertinya.
"Tidak, mereka sudah bergerak satu Minggu yang lalu, kita sudah terlambat satu langkah"
"Apakah itu Arion?" tanya Bila.
"Arion dan diamond, diamond sudah mengetahui bahwa Adam belum mati"
"Apa ini ada kaitannya dengan kebakaran yang terjadi di toko kami?"
Avalon mengangguk.
***
"Bisa-bisanya kau bertindak bodoh seperti itu, Liam!" pekik Pria itu pada seorang yang dipanggil Liam itu.
Pria itu hanya diam, dia meruntuki kebodohannya sendiri karena sudah terkecoh oleh musuhnya.
Orang yang diincarnya ada disekitar dirinya, namun, mata, telinga, dan mulutnya seakan tertutup hingga tidak bisa melihat, mendengar hal itu.
"Tapi, mana mungkin, aku sudah seribu kali mengeceknya, anak itu memiliki ciri-ciri yang sangat persis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan!"
__ADS_1
"Kita terkecoh dengan satu ciri-ciri itu, Liam!"
Liam menghela nafasnya, dia meredam emosi nya agar tidak menimbulkan kekacauan di sarang pria ini.
"Aku akan mencarinya, lagi" ujar Liam mengambil keputusan. Dendamnya belum tersalurkan. Dan ingin cepat melihat anak yang menjadi keturunan pria itu mati didepannya sedangan cara yang sadis. Seperti pria itu menguliti anaknya didepan matanya sendiri.
"Jangan, aku sudah membuat rencana, kita hancurkan sekalian semua, beserta kelompoknya" cegah pria yang sedang terbaring diatas brankar di ruangan khusus sakitnya.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Bagaimana jika mengajak mereka perang seperti sepuluh tahun yang lalu?" pria itu tersenyum miring.
"Mengajak mereka? Dengan perjanjian apa?" tanya Liam mengingat perang sepuluh tahun yang lalu, perang yang menjanjikan antara nyawa satu sama lain.
"Anak itu"
Liam membelalak, kemudian tersenyum. "Aku akan menguasai bisnis bersihnya" ujarnya tersenyum lebar.
"Aku tidak butuh bisnis itu"
Tok...
Tok .....
Tok....
"Masuk!" ujar pria itu. Seorang pria masuk dengan keadaan yang sedikit tertatih.
"Maafkan saya tuan, rekan kita semuanya tewas, hanya saya yang tersisa" lapor pria itu pada pri yang sedang berbaring itu.
Pria yang sedang berburu itu menggeram marah. "Apa yang telah terjadi?" jika semua mati, dia telah menyia-nyiakan 312 anggotanya.
"Kami akan berhasil tuan, namun— Brak..."
Dor!!
Pria pelapor itu langsung terjatuh. Dia mati.
"Apakah dia mati?" tanya pria itu membuat Liam mengecek nafas pria tadi.
"Di sudah mati"
"SIALAN!!"
__ADS_1