Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Anak, mu!


__ADS_3

Bila mendelik mendengar itu, renungannya langsung buyar mendengar tuduhan itu. "Kau sudah gila!?," tanya Bila geram namun tubuhnya tidak memungkinkan untuknya bergerak karena masih terasa sangat lemas pasca operasi.


"Ini anakmu!" lirih Bila meneteskan air matanya. Dirinya baru saja kehilangan bayi yang belum dia ketahui keberadaannya. Namun, kenapa Avalon tiba tiba menanyakan siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Bukankah sudah pasti bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Avalon.


Avalon menaikkan sebelah alisnya, "Siapa tahu anak pria lain, seperti Wiliam?" sergah Avalon menuduh tanpa adanya bukti. Tidak perlu bukti fisik, karena bukti ini hanya dapat dilihat oleh matanya.


"Kau gila, aku bukan wanita seperti itu!" Bila mencoba untuk duduk.


"Nyatanya, yang kulihat justru menunjukkan hal sebaliknya," ujar Avalon.


Bila berhasil duduk, meskipun tangan yang tertancap oleh jarum infus sudah sedikit demi sedikit menyedot darahnya. Bukan menyalurkan cairan.


Bila tidak perduli rasa sakit itu, "Apa yang kau inginkan!" tanya Bila lagi, ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Kehilangan bayi sebelum mengetahui masih memukul Bila, apalagi dengan tuduhan Avalon, seharusnya dikala kondisi seperti ini, ia mendapatkan dukungan penuh. Namun ini malah sebaliknya.


"Katakan siapa ayah bayi itu!" Avalon bersandar pada tembok disebelah pintu.


"Aku sudah mengatakannya! Anak ini adalah anakmu!"


"Katakan yang sejujurnya! Atau kau tidak akan bertemu lagi dengan Adam!" ancam Avalon jengah dengan ucapan Bila yang berbelit-belit.


"Aku sudah mengatakannya dengan jujur, sial4n!" umpat Bila sudah terpancing emosinya.


Perutnya yang dijahit oleh dokter itu kembali nyeri, kepalanya kembali berdengung, dan cairan infus yang sebelumnya bening tak berwarna kini sudah berwarna merah pekat karena tercampur dengan darahnya.


Avalon terdiam, dia melihat Bila yang bertambah pucat, cairan infus itu bahkan sudah memerah. Namun, ia tidak perduli, anggap saja hukuman kecil untuk sang penghianat.


"Lima bulan, sementara kita menikah belum sampai lima bulan?"


"Apa yang harus aku buktikan SIAL4N! Bahkan keperaw4nan ku ku yang mengambilnya, bajing4n!" geram Bila menangis, watak kerasnya masih juga terlihat.


Avalon menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan sekarang. Dan seakan meragukan bahwa anak yang dikandungnya bukan anaknya. Yang juga berarti Avalon menuduhnya telah melakukan hubungan gelap.


Avalon terdiam, dia merenung, benar waktu itu, ia adalah yang pertama untuk Bila, namun, kenapa dokter itu mengatakan bahwa kandungan Bila berusia lima bulan sementara pernikahannya masih berjalan lima buan?.


"Bisa saja kau melakukan operasi untuk mengembalikan keperaw4nan mu?"


Bila tak habis pikir, ia memegang perutnya yang sudah mengeluarkan darah. Mungkin jahitannya terbuka.


"Kau sudah gila Avalon! Katakan bahwa kau ingin menceraikan ku, jangan menuduh darah daging mu sendiri bajing4n!" Bila menatap tajam Avalon, kondisinya lemah, namun jangan meragukan kekuatan seorang ibu yang anaknya diragukan.


"Wiliam sudah mati, lalu jika kita bercerai, kau akan berlari ke siapa? pria yang menjadi selingkuhan berkedok sahabat itu?"


"Hentikan Avalon! jangan lagi membual!" bentak Bila. bahkan kini Avalon menuduh sahabatnya. Nafasnya sudah satu satu.

__ADS_1


"Aku tidak membual, dan apa yang aku lihat dari mata kepalaku tidak mungkin salah"


Kepalanya semakin pening.


"Katakan padaku, apa yang kau lihat!" Bila menyatukan kedua tangannya didepan dadanya.


"Jangan berpura-pura bodoh!" kekeh Avalon


"Sia—Sstt... Ahhh..." pekik Bila menatap Avalon dengan lirih, "Ak-aku tidak ber-canda, i-ini, an-anak mu!"


Bruk...


Avalon terkejut, Bila kembali tak sadarkan diri dan tubuhnya sudah terjatuh dari atas ranjang.


Tok...


Tok...


Tok...


"Tuan!"


"Masuk Li!" ucap Avalon, sekertaris Li masuk dia terkejut dengan nyonyanya yang pertama kali. Nyonyanya terjatuh dari ranjang dan darah yang sudah merembes disekitarnya.


Sekertaris Li dengan sigap memencet tombol diatas ranjang Bila, mengangkat tubuh sang nyonya dengan hati hati dan meletakkannya diatas ranjang.


"Nyonya" sekertaris Li melihat darah nyonya yang tersedot langsung mencabut jarum itu, tak lama kemudian seorang dokter dan kedua perawat datang dan langsung terlihat terkejut.


Dokter itu memeriksa Bila sebentar, "Siapkan ruang operasi sekali lagi, rahim pasien bergeser!" ujar dokter itu membuat sekertaris Li panik.


"Tuan, lebih baik anda keluar—"


"Lakukan apapun untuk nyonya saya, yang terbaik. Jangan perdulikan soal biaya, akan saya bayar semuanya!" ujar sekertaris Li, dia mengambil kertas yang dibawanya lalu keluar dari sana untuk menemui sang tuan untuk memberikan semua yang Avalon inginkan.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Om, apa Mommy ada disini?" tanya Lengkara membuat Ed yang sedang ditanya hanya terdiam.


Kini, di depan sebuah rumah sakit dengan Bian, Gina, Lengkara, dan Adam hendak menjenguk Bila yang kata Adam sedang berada disebuah rumah sakit.


Dan hal itu telah dikonfirmasi oleh sekertaris Li, dan sekertaris Li bilang bahwa mereka tidak boleh mendatangi rumah sakit sementara waktu.


Meskipun sudah dilarang, mereka tetap nekat untuk datang ke rumah sakit menemui Bila.

__ADS_1


"Iya" jawab Gina menggendong tubuh Lengkara.


Sementara Adam masih marah dengan Avalon, kenapa Bila ia temukan dilantai dengan kondisi yang sangat mengenaskan, tidak mungkin bahkan mustahil jika Avalon tidak mengetahui hal itu sebelumnya.


"Ayo kita kedalam" ujar Adam memimpin perjalanan mereka. Bocah berusi tujuh tahun itu masuk dan langsung menuju tempat resepsionis.


"Atas nama Angelina Salsabila?" tanya Adam langsung.


"Ruangan operasi, nomor 09 lantai sembilan" jawab resepsionis itu membuat seluruh orang yang mendengar langsung terkejut.


"Kenapa bisa di ruangan operasi?" tanya Ed.


"A moment" wanita itu nampak sedang mencari sesuatu.


"Ada pergeseran di rahim pasien" jawab wanita itu membuat seluruh orang terkejut.


"Daddy!" gumam Adam langsung berlari kearah lift.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Avalon menghisap cerutu yang ada di sela sela jarinya dengan nikmat, meresapi setiap sentuhan asap itu di paru-parunya. Sembari memikirkan lagi masalahnya dengan sang istri.


Angin sore silir-silir yang sangat sejuk, serta senja matahari yang sudah hampir tenggelam mendukung renungan Avalon kali ini.


"Tuan" sekertaris Li datang, dengan nafas yang ngos-ngosan, sekertaris Li mencari Avalon di seluruh sudut rumah sakit, namun ternyata pria itu berada diatas rumah sakit ini.


"Katakan!" ujar Avalon tanpa menoleh.


"Selama nyonya menikah dengan anda, nyonya hanya berada dikamar bermain dengan laptop, tab, dan ponselnya. Jika tuan dan nona muda ada, nyonya selalu bermain dengan mereka di kebun bunga tulip, dan semenjak para sahabatnya datang, nyonya selalu bersama dengan ketiga sahabatnya dan pelayan pribadinya yang selalu berada dibelakang nyonya,"


"Hubungan dengan Ed?"


"Hanya sebatas sahabat tuan, nyonya selalu becanda dengan Ed, dan jika bersama dengan Ed, nyonya selalu ditemani oleh pelayan pribadinya" jawab sekertaris Li menyampaikan kesaksian yang diberikan oleh Ana.


"Apakah tidak ada hubungan yang lebih intim dari itu?"


"Tidak tuan, menurut pelayan pribadinya, nyonya sedikit membatasi diri dari kedua sahabat prianya, dan hanya sesekali melakukan kontak fisik seperti berpelukan, saling menggelitik, saling pukul dan lainnya"


Deg!


"Apa lagi?" tanya Avalon.


"Dan ini adalah hasil DNA yang dilakukan oleh pihak rumah sakit untuk mengecek kecocokan tuan dan tuan kecil melalui sempel darah milik anda dan anak anda atas perintah tuan. Dan hasil dari tes itu menunjukkan 99.99% adalah cocok, yang berarti anak yang dikandung nyonya adalah anak tuan"

__ADS_1


__ADS_2