Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Pelukan.


__ADS_3

Pelampiasan hasrat, satu kata yang terus berputar di benak Bila setelah kejadian penamparan beberapa menit yang lalu, kini, dia di temani oleh sang anak tengah duduk diranjang besar nan luas kamar Avalon.


Sementara pria itu keluar entah kemana. Bila hanya merasa menjadi sebuah objek pemuasan hasrat dari Avalon.


Mereka belum saling mengenal, bahkan Bila belum mengetahui pasti sifat milik Avalon, namun pria itu sudah mengambil miliknya, dengan alasan hukuman, awalnya Bila tak mempersalahkan hal itu, tubuhnya adalah milik suaminya, namun ketika selesai pada puncak, pria itu tanpa berbicara sepatah katapun langsung keluar dan meninggalkan dirinya di dalam bathtub sendirian dengan rasa lelah, sakit, gemetar dan ngilu dihatinya.


Lalu, setelah berjuang melawan semua rasa sakit, dia berhasil mandi dan keluar dengan waktu yang cukup lama tiba-tiba dia mendapatkan kekerasan secara langsung. Bahkan Bian dan Ed saja yang hanya sebatas sahabat melindunginya dengan segenap hati.


Memang benar, Bila adalah wanita yang tahan banting, kebal dengan pukulan, tapi sekali lagi Bila ingatkan, konteks ini berbeda, ketika mendapatkan pukulan dengan cara tawuran dan mendapatkan pukulan secara disengaja, Bayangkan saja, mereka baru menikah bahkan belum genap 24 jam.


Dan hari pertama ini adalah tangis pertama yang Bila rasakan setelah tangis karena kekhawatiran terhadap Adam dulu.


"Mommy, bagaimana jika kita membalas perbuatan om tadi?" tanya Adam berbisik ditelinga Bila.


Tadi Adam pergi ketempat bermain, lalu melihatnya sebentar, dirasa tidak menarik karena hanya memiliki mainan perempuan saja, Adam pun kembali ke kamar sang mommy, dia ingin berbicara santai dengan Bila.


Namun, ketika itu Adam malah melihat sesuatu yang membuat sang mommy sakit, bahkan sampai menangis.


Bila menggeleng, dia menarik nafasnya, menghapus air mata yang keluar lalu tersenyum kearah Adam. "Adam, Adam keluar dulu ya, mommy akan tidur" ucapnya.


"Tidur?" Bila mengangguk.


Jika seperti ini dia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bisa selemah ini dihadapan Avalon, padahal pria itu adalah pria yang baru ia temui kemarin.


"Kalau begitu ayo, Adam akan menunggu mommy, jika nanti mommy sudah tidur, Adam keluar" ujar Adam duduk dari tidurnya.


Bila mengangguk saja, matanya sudah sangat berat untuk terbuka, mungkin karena kelelahan disertai dengan rasa sakit yang dirasakan nya, akhirnya Bila tertidur dengan memeluk perut Adam.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Avalon terdiam melihat ciptaan indah didepannya, sangat indah. Dengan bekas luka yang mempertegas wajah judesnya.


Tangan Avalon terulur menyentuh pipi sang istri, pipi yang tadi dia tampar karena tersulut emosi. Lalu, tangan itu turun kebawah hingga menyentuh bibir yang terluka karena keganasannya tadi, serta sudut bibir yang masih ada bercak darah yang tertinggal.


Setelah adegan penamparan itu, dia masuk kedalam ruang kerjanya, merenungi semua dan membaca sebuah buku, lalu mengetahui jika semua ini adalah salahnya.


"Angelina," ucapnya ketika melihat mata sang istri mulai terbuka.


Bila yang merasa ada yang menyentuhnya pun perahan membuka mata, tubuhnya sudah lumayan, tidak terlalu sakit, lalu, matanya melirik kearah jam raksasa yang berada di dinding kamar itu.


Sudah lima jam berlalu, berarti ini sudah hampir tengah malam. "Bila," ucapnya lagi.

__ADS_1


Bila duduk, dia melihat kearah Avalon dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Menatapnya selama beberapa detik sebelum sebuah tangan melingkar dipundaknya, menarik tubuhnya agar mendekat dan menempel ditubuh pria itu.


"Maafkan, aku" pertama kali dalam dihidupnya, Avalon meminta maaf pada orang selain sang tuan dan sang nyonya, dan itu untuk sang istri, selama dia hidup Avalon jarang atau bahkan tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun.


Dan hari ini, Avalon telah membuat kesalahan yang sangat besar. Yaitu meremehkan sesuatu yang menurutnya sangat kecil tapi menurut sang istri sangatlah berharga.


"Maafkan aku" Avalon membernarkan posisinya, dia mengangkat tubuh Bila dan meletakkannya di atas pahanya, memeluknya erat dan mencium rakus wangi rambut milik sang istri.


Bila pasrah, dia terlalu malas untuk sekedar melawan, karena Avalon terlalu mendominasi.


"Maafkan aku, hmm?" Bila diam.


"Angelina Salsabila, maafkan, aku" ujarnya lagi.


"Apa kau tahu letak kesalahan mu?" tanya Bila lirih.


Avalon mengangguk mantap, "Maafkan aku telah meninggalkan mu di bathtub sendirian, aku mengira itu tidak sakit, ternyata aku salah, itu pasti sangat menyakitkan, bukan?" jelas merasa bersalah.


Bila tidak pernah mengatakan bahwa itu sakit, semuanya berjalan dengan lancar, tadi, ternyata lagi lagi dia salah. Sepertinya Avalon harus membaca lebih banyak lagi buku untuk memahami seorang wanita dan kebiasaannya.


"Lalu?"


"Apakah ada lagi?"


"Sial4n, apa kau sudah hilang ingatan, sekarang?"


Avalon berpikir, dia menarik tubuh Bila sampai dirinya melihat wajah sang istri, "Maaf, aku kelepasan" ujarnya mengelus pipi Bila dengan telapak tangannya yang lebar, mengecup kening Bila berkali-kali.


Bila hanya mengangguk, kenapa bisa dia begitu cepat luluh dengan sikap manis yang diberikan oleh Avalon, namun, ketika berbicara dengan sikap manis, Bila menjadi heran Avalon mengetahui perilaku manis ini dari siapa.


"Aku ingin bertanya" tanya Bila kembali menyandarkan wajahnya di dada Avalon.


"Bertanyalah,"


"Apa kau pernah melakukan hal itu dengan seseorang?"


"Tidak, aku pertama untukmu, dan kau pertama untukku" jawab Avalon langsung tahu dimana arah pembicaraan kali ini.


Bila mengangguk, "Apa kau pernah memiliki seorang kekasih?"


"Aku tidak pernah memiliki waktu untuk hal bodoh seperti itu"

__ADS_1


"Lalu, bagaimana bisa kau mengetahui sikap manis seperti ini?"


"Aku membacanya disebuah buku"


"Aku tersanjung untuk itu"


Hening...


"Apa yang setiap hari kau lakukan?" tanya Bila.


"Bekerja" jawab Avalon.


"Hanya itu?"


Avalon mengangguk, dunianya terlah monoton.


"Apa kau tidak bosan?"


"Tidak" Bila sedikit terkejut akan hal itu, bekerja, adalah sesuatu yang sangat membosankan. Menurutnya.


"Berbicara tentang bekerja, tentunya kau memiliki gaji, memangnya berapa gajimu perbulan?"


"Tergantung"


"Secara inti?"


"25% dari penghasilan,"


"25%?"


Avalon mengangguk, "25% untuk ku, 10% untuk pemegang saham, 25% untuk gaji seluruh karyawan, 40% untuk modal dan kas perusahaan"


"Wah sangat banyak, apa aku akan mendapatkan dari 25% itu" tanya Bila memancing.


Avalon langsung terkoneksi, dia ingat, bahwa istrinya adalah seorang wanita mata duitan, dan kini dia sudah mendapatkan sebuah kunci untuk membujuk sang istri jika kembali marah. Uang.


"Baiklah, 40 juta dolar setiap bulan, bagaimana?"


"Deal!" Bila tertawa dengan kencangnya, 40 juta dolar tidaklah sedikit, itu adalah nominal yang sangat besar, dan Bilas sangat menyukai nominal itu.


Bila sangat suka dengan uang, dia tidak mempersalahkan kejadian heboh tadi, itu sudah berlalu, semua yang berlalu biarlah berlalu, jangan dipikirkan, yang terpenting adalah uang.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana sekarang? Apa aku bisa mencobanya sekali lagi?" bisik Avalon membuat Bila merinding.


__ADS_2