Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Om telah melukai mommy...


__ADS_3

Dor....


Dor....


Dor..


"Mommy! Mommy keluar Mommy!!" Adam memekik kencang dengan kedua tangan yang menggedor-gedor pintu kamar mandi dikamar Bila dan Avalon.


"Sudah tuan, jangan ganggu nyonya, nyonya sedang mandi" cegah seorang wanita yang menjadi pengasuh tuan mudanya.


"Aku sudah menunggu mommy dari tiga jam yang lalu, tapi mommy belum juga keluar, kak" ujar Adam kembali menggedor-gedor pintu itu.


Wanita yang dipanggil 'kak' oleh Adam itu nampak mulai bergetar, ia sangat takut sekarang, sungguh menjaga tuan mudanya ini sangat sangat berbahaya untuk karier pengasuhnya.


"Em-em mungkin nyonya sedang dipijat, tuan, ma-makanya sedikit lebih lama" Aya mencoba untuk mencari alasan.


"Oh begitu ya?" Adam berhenti menggedor-gedor pintu itu, dia berbalik badan dan melihat kak Aya— wanita yang menjadi pengasuhnya.


"Iya, tuan" jawab Aya mengangguk mantap dengan senyuman yang tipis.


"Aku baru mengetahuinya, kalau begitu, ayo duduk" Adam berlari kearah ranjang mommy nya.


"Tap—emm apakah tuan muda tidak ingin bermain dengan nona Lengkara? sekarang beliau tengah bermain diruang bermain"


"Ruang bermain?" Adam menoleh dengan mata yang berbinar.


"Iy-iya, apakah tu-tuan ingin mengetahui ruangan itu?" tanya Aya dengan sedikit menghasut di kalimatnya.


"Dimana itu, kak?" tanya Adam berdiri dari duduknya.


"Ada dilantai dua tuan, mari saya antar" ajak Aya dengan semangat.


"Ayo, aku ingin melihatnya!" Adam berlari keluar dari kamar itu, sementara Aya yang berada d di belakangnya menghela nafasnya lega.


Pekerjaannya sekarang selamat, tinggal selanjutnya saja, Aya berharap untuk kedepannya sang tuan mudanya tidak membuat masalah.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Dengan nafas yang memburu, Bila menyandarkan kepalanya di dada telanjang milik sang suami, dia benar-benar sangat lelah, entahlah sudah berapa lama mereka berada di dalam kamar mandi. Mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.


Awalnya Bila memberontak, namun, Avalon dengan segala dominasinya membuat Bila tidak bisa lagi bergerak dalam pesona dominasi itu.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi, sehebat-hebatnya wanita, tidak akan mampu mengalahkan seorang pria, kecuali dengan satu, cinta.


Bila tidak mempersalahkannya, karena memang itu yang seharusnya, namun, Avalon memintanya dengan cara berbeda, dia berbeda dengan pria yang lainnya ketika ingin mendapatkannya.


"Emmugghhh...." Bila mencengkram kuat pundak Avalon ketika merasakan ada yang kembali bergerak di bawah sana.


"Aku lelah," Bila mencoba berdiri, namun kakinya sudah gemetar, Bila kembali ambruk di atas tubuh Avalon.


"Ini hukuman, Bila" ujarnya memeluk tubuh kurus Bila.


Bila tak menjawab, dia masih mengatur nafas dan kesadarannya agar tetap sadar, diluar sana mungkin Adam sudah mencarinya.


"Lalu?" ujar Bila lirih.


"Masih ingin memberontak dan melakukan hal hal bodoh hmm?" tanya Avalon.


Memang benar, apa yang dia pikirkan tadi, ia ingin memberi pelajaran kepada Bila, pelajaran yang mampu membuat Bila berpikir kembali ketika ingin memberontak.


Bila menggeleng, "Sial4n!" umpatnya membisik.


"Ssttt"


"Milikmu juga sangat kecil, berbeda dengan yang ada di video biru itu"


Avalon memblalak, dia kembali bangkit, lalu kembali dengan permainannya, dia akan membuktikan harga dirinya sebagai seorang pria sejati.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Lepas sial4n!" Bila berjalan tertatih, dia menghentakkan tangan Avalon agar tidak kembali menyentuh tubuhnya.


Setelah kurang lebih tiga jam setengah berada didalam kamar mandi, akhirnya Bila memaksakan dirinya untuk keluar, meskipun seluruh tubuhnya terasa sangat lelah.


Jika ia tidak memaksakan dirinya untuk keluar, sudah pasti ia akan lebih lama berada didalam kamar mandi itu.


Sementara Avalon keluar dengan bibir yang melebar, setelah 32 tahun belum merasakan yang namanya proses ini, akhirnya dia merasakannya. Sangat nikmat, meskipun dia hanya menggunakan cara yang dia baca tadi ketika berada diruang kerja dibantu dengan naluri lelaki nya.


Avalon pun merasa bangga karena melihat darah yang keluar tadi, dia menjadi yang pertama dan memberikan yang pertama.


"Mari, aku gendong" Avalon membuka kedua tangannya, dia hendak menggendong tubuh Bila namun wanita itu dengan cepat menghindar.


"Jangan sentuh, SIAL4N!!" pekik Bila menepis tangan Avalon yang menghinggap di bahunya, dia mundur beberapa langkah kebelakang.

__ADS_1


"Angelina, patuh!" Avalon melangkah maju, namun Bila masih tetap melangkah mundur juga.


"Diam, Avalon!" pekik Bila mempererat pegangan tangannya ke kimono yang dipakainya.


Avalon memberhentikan langkahnya, dia memandang Bila dengan tatapan yang bertanya-tanya, kenapa dengan sikap istrinya itu? tadi mereka baik-baik saja, namun, setelah kejadian terakhir itu, sikap Bila berubah.


"Kenapa, kau?" tanya Avalon yang sudah memakai bajunya dari atas kepala hingga kebawah.


Bila tak menjawab, dia berbalik badan dan kembali berjalan dengan tertatih, tempat ranjang dan pintu kamar mandi sedikit jauh.


"Bila!" Avalon mendekati Bila, dia menaik tangan Bila, namun Bila kembali menepis.


"Lepaskan aku! Bajing4n!" Bila berteriak.


Amarah Avalon memuncak, "Apa kau tidak mau berubah ha? Kenapa ada wanita seperti mu di dunia ini?! berhentilah mengumpat, dan jadilah wanita yang penurut" Avalon membentak, amarahnya sungguh meluap- luap.


Mata Bila berkaca-kaca, kenapa malah Avalon yang marah padanya, seharusnya dia yang marah ketika di tinggal sendirian di dalam kamar mandi setelah permainan itu.


Baru satu hari saja sudah seperti ini, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?.


Tubuh Bila sudah terlalu lemas, dia lelah, hendak melawan pun rasanya tidak bisa. Sungguh hanya permainan itu yang dapat membuat tenaganya terkuras dengan banyaknya.


Bila terkekeh kecil, dia tidak boleh lemah seperti ini, "Sesuai dengan pembicaraan awal, aku mengatakan bahwa aku suka mengumpat," sahut Bila datar dengan air mata yang sudah hampir terjatuh.


Avalon yang melihat air mata itu terkejut, apa dia sudah keterlaluan dengan istrinya, dia belum pernah menghadapi wanita satupun. Dan Avalon juga bingung, seharusnya disini dia yang marah, dia tidak pernah diumpati sekian banyak kecuali oleh Bila.


Awalnya ia tak mempersalahkan itu, namun ketika mengingat sikap sang nyonya pada sang tuannya dulu dia juga ingin mendapatkan sikap itu, sikap hangat, pengertian dan penurut.


"Kenapa kau menangis?" tanya Avalon lembut, dia maju beberapa langkah, hendak mengelus pipi Bila yang sudah ada tetesan air matanya.


"Jangan sentuh, kau memang bajing4n!"


Plak..


"OMMM!!" pekikan seorang anak kecil menginterupsi tamparan yang dilakukan oleh Avalon tadi, Avalon melihat kearah Adam yang berlari kearah Bila, lalu bergantian melihat tangannya yang memerah lalu bergulir ke pipi istrinya yang sudah memerah dengan darah yang berada di sudut bibirnya. Tubuh wanita itu juga sudah bergetar.


Sialan, Avalon tidak pernah kelepasan seperti ini, sungguh. Ini baru pertama kali dia menggunakan amarah ketika menghadapi sesuatu, biasanya dia sangat tenang, namun— ah sialan, kenapa dia bisa kelepasan?.


"Bil—" Avalon mengulurkan tangannya, namun tangan itu kembali ditepis, bukan oleh Bila, namun kini oleh seorang bocah yang baru berusia tujuh tahun.


"Om! Kau telah melukai mommy ku, padahal ini adalah hari pertama mommy berada disini, dan kata om Juned, pria tidak akan melukai seorang wanita, jika seorang pria melukai seorang wanita, pria itu tidak lebih seperti seorang pecundang!"

__ADS_1


__ADS_2