
"Jangan bergerak!" bisik Bila menyembunyikan tubuh Ed dan Bian di belakang tubuh kecil nya.
"Kita ada di mana?" tanya Ed melihat sekeliling nya. Dia tak mengerti apa yang telah terjadi beberapa detik yang lalu.
"Sstt!" bisik Bila mundur satu langkah.
"Tahan nafas kalian!" perintah Bila yang langsung di turuti oleh kedua pria di belakang nya.
"Tidak ada siapapun disini, pintu ini masih tertutup" suara seorang pria terdengar. Bila mengintip sedikit, di hadapan nya ada dua pria yang tengah melihat pintu di atas nya. Pintu itu adalah pintu rahasia yang menghubungkan dunia luar dengan bawah tanah.
"Tapi, aku tadi mendengar sesuatu!" sahut pria yang lainnya. Pria itu mendongak, melihat lekat pintu di atas nya.
"Pendengaran mu saja yang bermasalah, ayo kita bermain lagi!" seru pria tadi berbalik arah. Pria yang satunya mengangguk, dia juga berbalik arah dan berjalan bersamaan dengan pria tadi.
"Bian, apa kau tidak membawa sesuatu?" tanya Bila keluar dari persembunyiannya dengan pelan.
"Aku hanya membawa tiga jarum suntik" jawab nya mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi tiga jarum tajam dari kantong celana nya yang dia ambil di kamar Bila tadi pagi. Bian hanya berjaga-jaga jika ada sesuatu yang membahayakan seperti ini.
"Minta sarung tangan nya" Bian kembali merogoh kantong celananya. Dan mengeluarkan sarung tangan yang sangat tipis berjumlah tiga pasang.
"Kau mengambil di kamar ku ya!" hardik Bila memakai sarung tangan yang tidak memiliki warna alias transparan.
"Hanya berjaga-jaga"
Bila mengambil jarum suntik itu, dengan cepat dan penuh perhitungan, Bila membidik leher kedua pri itu. Kurang dari lima detik, kedua pria itu ambruk. Bila tersenyum senang, rupanya racun di jarum nya masih berfungsi, dia akan membawa jarum ini kemana mana mulai sekarang.
"Good job Bila!" Ed bertepuk tangan kecil.
"Hohoho~ ternyata kemampuan ku masih belum hilang!" serunya berkacak pinggang sambil tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
"Kau harus membuatnya lagi Ed!" ujar Bian menepuk-nepuk punggung Ed karena yang membuat jarum berisi racun itu adalah Ed. Masih ingat dengan Ed yang sangat menyukai kerja langsung?.
Ed membuat banyak jarum, dan membagikannya pada kedua sang sahabat, hanya untuk berjaga-jaga di kala situasi seperti ini.
"Aku perlu modal seratus juta" jawab nya.
"Mata duitan seperti Bila" gumam Bian berjalan di sebuah lorong yang sangat bagus.
__ADS_1
Lorong di sini ini berlantai, serta bertembok dari lantai.
"Dia murid ku kawan" bela Bila berjalan di belakang Bian sambil menggeret Ed.
Bian berhenti di kedua mayat tadi, mengambil kedua jarum yang tertancap di tengkuk pria itu dan membuang nya agar tidak ada bukti.
"Baiklah, ambil ini!" Bian melemparkan sebuah pistol pada Bila, "Dan Ed!" Ed menangkap pistol yang sama. Pistol berwarna hitam yang berpadu dengan warna putih mempesona.
"Kau?" Bila melihat pistol di tangannya, karena jujur saja, dia tidak memiliki pistol sama sekali. Selama ini, dia hanya bertarung dengan alat alat kecil yang di buat oleh kedua sabahat nya itu.
"Aku? tidak" jawab nya kembali melangkah. Sebenarnya Bian tidak bisa menggunakan pistol.
Lorong ini hanya memiliki panjang yang tak begitu panjang, dan di ujung lorong ini ada dua ruangan.
"Aku tidak bisa menggunakan nya!" rengek Bila bergelayut di lengan Bian yang berjalan tegap.
"Kau salah jika merengek pada ku Bila, karena aku juga sama-sama tidak bisa menggunakan nya"
"Hanya tinggal menarik pelatuk nya" sahut Ed menarik pelatuk pistol yang di bawa nya.
"Ruangan ini kedap suara" celetuk Bian menempelkan telinganya di pinggir pintu dan tidak mendengarkan apapun.
"Yang ini apa yang ini?" tanya Bila menunjuk kedua pintu di samping kanan dan kirinya.
"Yang ini" Bila bersiap dengan jarum yang di pegang nya, sementara Ed yang nekat memegang pistol pun tengah bersiap. Tidak ada raut khawatir akan meleset.
"Hati-hati Ed, nanti tembakan mu meleset" Bila melihat ke arah Ed.
"Tenang, presentase meleset ku perkiraan hanya 95%"
Bila melotot, "Jangan gila Ed!"
Bian menghela nafasnya muak. Ia membuka pintu ruangan sebelah kiri secara cepat tanpa memberikan aba-aba pada ke dua sabahat nya.
Dor...
Dor...
__ADS_1
"Mommy!"
Bila mematung dengan pistol yang berada di tangan kanannya. Tak percaya dengan Ed yang melakukan hal gila serta nekat seperti ini. Ini adalah hal baru yang Bila temui. Selama bergabung dengan ID, dia hanya meretas, merampok, adu jotos dan balapan. Tidak pernah menggunakan pistol, Bila hanya menggunakan pisau kecil, belati, jarum, dan alat alat kecil yang Bian dan Ed berikan padanya.
Sementara Ed yang berhasil menembak seseorang tersenyum bangga, namun tangan yang bergetar serta keringat dingin yang keluar di pelipis nya tak dapat Ed sembunyikan.
Bian melangkah ke arah Adam yang terikat, dia melepas ikatan nya, lalu setelah ikatan itu terlepas, Adam langsung berlari ke arah Bila dan memeluk kaki nya.
"Mommy" lirih nya.
"Eh" Bila terkejut, lalu menunduk, dirinya terlalu syok dengan aksi Ed sehingga melupakan tujuan nya ke hutan ini.
Bila menggendong Adam, menyembunyikan wajah itu di celuk leher nya. "Maafin mommy ya nak," ujar Bila mengelus rambut Adam.
"Mommy," lirih nya lagi. Air mata yang semula mengering kini kembali mengalir seperti air di pelukan sang mommy.
"Adam takut?" tanya Bila. Adam menggeleng.
Bian menghampiri Ed, dia menepuk pundak Ed yang gemetar. "Bian, aku melakukan ini untuk Adam, aku seorang pembunuh" gumam nya.
"Berhentilah men-drama Ed, jangan lupakan kau telah membunuh orang dengan jarum mu!" bisik Bian memukul kepala Ed sedikit keras.
Ed meringis. "Sialan, aku hanya ingin terlihat lemah lembut bangs4t!" pekik nya mengambil membuang pistol itu ke lantai.
"Apa kau tidak mau membawa nya?" tanya Bian menghampiri Bila.
"Aku akan membeli nya sendiri"
"Bagaimana kondisi Adam?" tanya Ed menghampiri.
Adam yang semula bersembunyi, kini menarik kepalanya, menghapus air mata dan tersenyum.
"Om gendong!" seru Adam membuka kedua tangannya pada Ed.
Ed mengambil tubuh Adam, "Oh, kenapa bocah nakal ini hmm?"
"Om bat!" (Om hebat) seru nya memberikan kedua ibu jari nya pada Ed.
__ADS_1
Semua orang diam mematung mendengar itu.