Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Halangan.


__ADS_3

"Setelah mengantarkan Lengkara dan Adam, kau akan aku antar pulang" ujar Avalon.


"Kenapa? Aku ingin ikut denganmu kekantor" sahut Bila melihat pemandangan jalanan yang sangat padat, karena hari ini adalah hari senin, yang berarti hari memulai hari dengan penuh semangat.


Bila menatap jalanan itu dengan tatapan berbinar, sudah lama rasanya tidak keluar dari mansion, karena larangan dari Avalon yang tidak memperbolehkan dirinya untuk sekedar keluar.


Dulu rasanya bosan setiap hari melihat jalanan yang ramai dan penuh polusi, namun sekarang, sungguh waktu dengan cepat berjalan.


"Tidak, jangan dulu," Avalon melihat kearah kaca spion dengan datar.


"Kenapa, apa kau memiliki wanita simpanan di sana?" tanya Bila menoleh, kali ini, Avalon sendiri yang menyopir, tanpa dan tanpa adanya anak buah yang turut serta mengikuti mobilnya.


Alasannya karena Avalon ingin suasana seperti keluarga pada umumnya yang setiap pagi berangkat mengantar anak-anak mereka ke sekolah lalu pergi ke kantor.


"Tidak ada," jawab Avalon kembali melirik kearah spion.


Sementara kedua bocah dibelakang mereka hanya diam menyimak apa yang dibahas oleh kedua orang tuanya.


Suasana hening, Bila yang duduk didepan kembali dengan atensinya melihat jalanan, dia malas berbicara dengan Avalon, dulu awal pertemuan mereka Avalon sedikit hangat, namun sekarang, kata Ana sifat asli Avalon keluar, yaitu tak peduli dengan sekitar, irit bicara dan sangat mendominasi sehingga ketika orang yang berhadapan langsung dengan Avalon merasa sangat diintimidasi.


"Mommy, kenapa Adam satu matanya ditutup?" celetuk Lengkara melihat wajah Adam yang matanya tertutup satu dengan benda berwarna hitam.


Bila terkejut dengan pertanyaan itu, memang benar, selama ini Adam tidak pernah melepaskan penutup matanya, penutup mata itu tetap melekat meskipun Adam sedang tertidur.


Karena, Bila yakin dunia yang sebenarnya mereka pijak bukanlah dunia mereka sesungguhnya.

__ADS_1


"Karena mataku sangat indah, jika nanti dibuka, bukan hanya Lengkara, tapi seluruh dunia akan mencintai ku" jawab Adam menyeletuk.


Bila tersedak dengan jawaban yang dilontarkan oleh Adam, kenapa anak itu membahas tentang cinta-cintaan, bahkan dirinya saja yang menikah tidak tahu apa itu cinta.


"Kenapa Adam berbic—"


"Cinta itu apa, Adam?" tanya Lengkara dengan polosnya.


Adam mengulurkan tangannya, kemudian mengelus pucuk kepala Lengkara dengan lembut, "Cinta itu, Lengkara tidak perlu tahu, nanti Lengkara tahu sendiri ketika dewasa" jawab Adam membuat pundak Lengkara merosot.


"Yaa~ Adam" lirihnya.


Bila melihat kearah Avalon yang selalu curi curi pandang dengan spion mobilnya.


"Lengkara, bagaimana jika Lengkara rmanggil Adam dengan sebutan kakak?" tanya Bila berusaha tak memperdulikan apa yang telah dia ketahui.


"Benar, kakak, bagaimana?" tanya Bila membuat Lengkara mengangguk.


"Kakak Adam!" serunya.


"Berarti Adam memanggil Lengkara sebagai adik dong?~" tanya Adam lesu.


"Memangnya kenapa?" tanya Bila melihat ketidakantusiasan yang dikeluarkan oleh Adam.


"Tidak, Adam akan tetap memanggil Lengkara dengan nama"

__ADS_1


"Kenapa kak, kak Adam tidak ingin memiliki adik seperti Kara?" tanya Lengkara kecewa.


Adam kembali mengulurkan tangannya, namun sekarang bukan berada di pucuk kepala Lengkara, namun berada di pipi gadis itu.


"Tidak, karena Adam tidak ingin nama Lengkara yang bagus menjadi jelek" jawabnya membuat pipi Lengkara memerah.


Bila yang mendengar itu melongo, kenapa Adam sedari tadi mengatakan hal hal yang manis? Dia masih sangat kecil untuk itu, dan Lengkara yang mendapat itu juga terlalu dini, dia menjadi iri dengan hal itu, meskipun dia perempuan separuh jadi.


Namun, jiwa keperempuanan meronta-ronta meminta kata-kata manis seperti itu.


"Aku bukan pria yang bisa berkata-kata manis seperti Adam" ucap Avalon yang mengerti dengan perasaan Bila, wanita itu mudah sekali ditebak olehnya.


"Sebaiknya kita berhenti dulu, aku ingin perenggangan" jawab Bila membuat Avalon yang fokus dengan jalan sepi didepannya seketika langsung menoleh.


"Apa kau tahu?" tanyanya memastikan. Dan perlahan mulai menepikan mobilnya ketepian.


"Aku tahu, maka dari itu aku ingin mengeluarkan kekuatanku" jawab Bila membuat Avalon langsung seketika menghentikan mobilnya.


"Apa kau yakin untuk turun?"


Bila mengangguk, "Kau meragukan ku" Bila membuka pintu mobilnya.


"Ini masker, pakai aku akan menyusul, sepertinya mereka lebih dari lima"


Bila mengambil masker itu, memakainya lalu keluar. "Kalian tunggu disini, jangan keluar sampai mommy masuk, paham?!"

__ADS_1


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


__ADS_2