
Kedua ibu dan anak itu masuk ke dalam.
"Adam ingin naik ke atas sini tidak?" tanya Bila menunjuk troli belanja yang di tarik nya.
"No omy," tolak nya.
"What?" tanya Bila dalam bahasa asing, bukan nya karena apa Adam sudah dia ajari bahas asing.
Bila hanya ingin nanti jika Adam sudah besar lebih mudah menggunakan bahasa asing. Karena, semakin berkembang nya jaman, kemampuan berbahasa asing sangat di butuhkan. Maka dari itu, Bila perlahan-lahan mengajarkan bahasa asing itu.
Bila juga tahu batasan, dia hanya mengajari kosakata yang mudah dan simpel, seperti what, why, dan lainnya.
"ecau dam dan sar!" (Bicause Adam sudah besar) Ed melebar kan kedua tangannya.
Bila tersenyum bangga, "Baiklah, kalau begitu Adam harus berada di belakang mommy oke?"
"Ote" Adam memberikan kedua jempol tangannya pada Bila.
Dan akhirnya, Bila berkeliling supermarket itu dengan Adam di belakang nya, kali ini, Bila akan berbelanja bulanan.
Sementara Adam hanya diam dan mengikuti ke mana mommy nya berjalan, dia juga melihat ke arah kanan dan kiri.
Mat Bila berbinar ketika melihat rak khusus yang hanya berisi dengan jajaran sambal berbagai merek. Bila menghampiri rak itu, mengambil satu dan melihat nya, lalu meletakkan nya kembali, mengambil kembali dan meletakkan nya lagi. Dan begitu lah seterusnya.
Bila celingukan mencari kemana perginya sang anak, tadi, dirinya keasikan sendiri ketika melihat-lihat koleksi sambal terasi yang berjejer di sepanjang rak khusus sambal itu.
"Eh, kemana bocah itu?" gumam Bila celingukan ke kanan dan ke kiri, sambil mendorong troli belanja nya, matanya seliweran, lalu matanya tertuju pada segerombolan orang yang tengah bergerombol tak jauh dari tempat nya.
Bila berjalan ke arah gerombolan itu, dan dapat Bila dengar suara dari segerombolan orang itu dari tempat nya berada.
"Kok bisa ya warna matanya berbeda,"
"Semua nya kehendak tuhan jeng!"
"Ihh, lucu nya, pipinya tembam!"
"Bibirnya bagus bu-ibu!"
"Aku lebih suka warna matanya"
"Biru dan hijau!"
__ADS_1
"Foto jeng, bisa kit jual dengan harga yang tinggi di market place, karena warna mata anak ini sangat langkah!"
"Sebentar"
'Biru dan hijau? itu warna mata Adam!' gumam Bila dalam hati, dia harus segera menyusup, karena
Bila menaruh troli nya di sembarang tempat, lalu menyusup ke dalam gerombolan orang yang berjumlah sekitar lima sampai tujuh orang itu sambil berjongkok.
Dan betapa terkejutnya Bila ketika melihat Adam yang tengah berdiri sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Seperti mencari pertolongan agar bisa keluar dengan gerombolan orang yang membuatnya risih.
''Ssttt'' Adam memegang kedua pipi besar milik nya dengan kedua telapak kecil nya.
Adam kesakitan karena pipinya sedari tadi di tarik oleh orang-orang di depannya.
"Angan arik ipi Dam!" (Jangan tarik pipi Adam!) sergah nya dengan mata berkaca-kaca.
"Ihhh, gemas nya!" ucap seorang, orang itu mengulurkan tangannya untuk kembali menyentuh pipi Adam, namun dengan cepat Bila menepis tangan itu.
"Tangan nya tolong di jaga Bu, dia kesakitan!" hardik Bila berdiri dari jongkok nya.
"Siapa kamu ngatur-ngatur?!" tanya wanita itu sinis.
"Aku mom—"
Bila menunduk, dia mengangkat Adam yang sudah menangis ke gendongan nya. "Saya mama nya, kenapa?" jawab Bila dengan nada tak kalah sinis.
Gerombolan ibu-ibu itu mendelik ketika mendengar jawaban sinis dari Bila. "Biasa saja Bu, anak nya imut, ibunya amit-amit!" ujar seorang.
"Bukan nya apa, kalian membuat anak saya menangis karena perlakuan kalian!" jawab Bila tak terima.
"Bubar!" sambung nya.
Para wanita itu tidak beranjak dari tempat nya, "Kenapa sih mbak, kita kan hanya ingin melihat mata anak mbak memfoto nya sebentar, iya gak jeng"
"Iya benar, pelit amat jadi orang"
"Ibu macam apa yang tidak membiarkan anaknya di sentuh orang lain"
Bila geram, dia segera ingin keluar dari gerombolan ibu-ibu tak tahu diri ini, Bila beranggapan bahwa, Adam adalah anak nya jadi, terserah dia jika dia mengatur-atur.
"Dia anak ku, aku berhak mengatur nya! Minggir!" jawab nya mencoba membuat celah untuk keluar dari gerombolan ibu-ibu itu.
__ADS_1
"Iya sih, tapi gak gitu juga kale!"
Namun, tanggapan ibu-ibu itu kembali membuat amarah Bila memuncak. Bila menghela nafasnya, dia menatap satu persatu ibu-ibu di depannya berputar.
"Dengar ibu, Adam adalah anak saya, jadi, saya berhak untuk mengatur segala sesuatu nya, mengatur segala kebutuhan nya, karena saya yang mengasih makan anak saya, jadi saya mohon untuk para ibu, berikan saya ruang untuk lewat!"
"Kita hanya ingin memfoto matanya, pinjam sebentar kenapa sih!"
"Saya tidak mengijinkan nya!" ujar nya. "Saya bilang minggir, atau saya akan teriak!" sambung Bila mengancam. Bila kelewat marah.
"Teriak saja!" tantang seorang wanita.
Adam memeluk leher Bila, dia menyembunyikan wajahnya di leher mommy nya. Mencari ketenangan di tengah ketegangan yang membuat nya takut.
"TOLONG! TOLONG SAYA, TO—!" pekikan Bila terhenti ketika salah satu tangan wanita itu membekap mulutnya.
Tidak ada yang membantu nya di supermarket yang sangat luas ini, padahal banyak orang yang tengah melihat nya sekarang.
Bila meronta, "Ambil saja jeng, cepetan di foto dan bisa kita jual di market place"
"Adam tetap bersembunyi di leher mommy Oke?" Adam mengangguk singkat, dia semakin mengencangkan pegangan di leher Bila.
Bila memberontak, dia mengencangkan tangan nya yang menggendong Adam agar Adam tidak lepas dan para wanita gila ini tidak memfoto Adam. Karena, sekarang ada sebuah situs ilegal yang dapat membeli sebuah foto dengan sangat mahal, tidak ada yang aneh, namun ketika situs itu membeli foto itu mereka akan mencari dan mendapatkan objek yang berada di foto itu untuk di jual mereka.
Buk...
Bila menendang perut wanita di depannya. "Kurang ajar, tahan saja jeng!" titah wanita itu.
Bila tak bisa bergerak lagi, kemampuan bea diri nya sekarang sudah hilang karena para wanita itu maju dan mengukung nya di tengah tengah.
"TOLONG !!
"Bubar- bubar!" ucap seorang pria membuat para wanita yang mengerubungi nya seketika bubar.
Bila tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, Bila berlari ke arah pria dengan pakaian satpam dan bersembunyi di balik tubuhnya yang tegap.
"Pak tol—"
"Sssttt" Adam meringis.
Bila menoleh, "Adam kenapa?" tanya Bila.
__ADS_1
"Ipi Dam kit!" (Pipi Adam sakit!) jawab Adam lirih, dia memperlihatkan kedua pipinya pada Bila.
Bila terkejut, kedua pipi Adam sudah memerah, memerah tidak wajar. "Sialan!" umpat nya sebelum dia berlari keluar dari supermarket tak wajar itu.