
"Bahkan nyonya tidak diperbolehkan untuk keluar makan siang, tuan," lanjut Ana menceritakan kronologi yang terjadi sejak awal hingga akhir.
"Kau membiarkanku istriku kelaparan?" tanya Avalon menyelidik.
Tubuh Ana yang bergetar menggeleng pelan, di amat sangat takut ketika berhadapan langsung dengan sang tuan besarnya. "Tidak, tuan, saya sudah mengetuk pintu untuk mengingatkan bahwa sudah waktunya makan siang, namun, wanita itu tidak memperbolehkan dengan alasan dia adalah gurunya" jawab Ana bergetar.
Avalon menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Keluar!" titahnya yang langsung di turuti oleh Ana. Ana menunduk sebagai hormat terakhir, kemudian ia keluar dengan rasa yang sangat plong.
Sungguh, rasanya berada di ruang kerja sang tuan sangat menekan mentalnya. Apalagi dengan aura yang mendominasi yang keluar dari tatapan tajam Avalon.
Ana bergidik ngeri, memikirkan hal itu.
"Ya Tuhan, aku sekarang bisa bernafas lega"
Avalon keluar dengan langkah tegapnya, dia berjalan melewati lorong yang selalu dijaga oleh orang-orangnya. Dengan amarah yang memuncak, dia menendang pintu yang berasal dari kayu yang digadang-gadang menjadi kayu terkuat di dunia itu hingga hancur dengan seksi tendangan tenaga dalamnya.
"Tuan!" sekertaris Li menunduk sebentar.
"Kemana wanita itu, Li?" tanya nya dengan nada berat.
"Di sana, tuan" jawab sekertaris Li menunjuk pada pojok ruangan yang remang remang itu.
Avalon melangkahkan kakinya ke depan wanita yang sedang duduk terikat itu.
"Tuan, tolong lepaskan saya, tuan!" mohon Rose tak sanggup dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Bila untuknya.
Avalon diam, dia hanya menatap tajam kearah Rose dengan hati yang sudah berkecamuk dengan logikanya.
"Tuan, saya tidak bersalah tuan, wanita itu yang salah, dia tidak tahu sama sekali tata krama yang bias—Dor!"
"Akkkhhh... Tuan!!" jerit Rose ketika satu peluru menembus lengannya.
"Katakan sekali lagi!" ucap Avalon mendesis, amarah nya sudah sangat ingin dilampiaskan ketika melihat wajah jelek Rose dengan jeritannya yang merusak telinga.
"Wanita berandal itu sama sekali tidak pantas untuk menjadi nyonya, tuan" ujar Rose menahan rasa sakit.
Avalon tersenyum miring, Avalon terdiam sebentar.
__ADS_1
"Setelah aku pikir-pikir, memang, dia tidak pantas untuk dijadikan sebagai nyonya di keluarga Camora ini,"
"Benar apa yang saya katakan, tuan, jadi tolong lepaskan saya agar saya bisa mencarikan nyonya baru untuk keluarga Camora yang pantas" jawab Rose seakan mendapatkan sebuah lampu untuknya agar terbebas dengan keluarga gila ini.
Di negara ini, khususnya para masyarakat atas, siapa yang tidak mengetahui keluarga Camora yang memiliki kerajaan bisnis di bidang pertambangan, minyak mentah, dan minyak bumi.
Sebagai orang yang kehidupannya keatas, Rose jelas tahu dengan apa desas desus yang terjadi di keluarga Camora ini. Mulai dari ketegasan, kekejaman hingga dapat menjadi keluarga yang berpengaruh dalam kurun waktu kurang dari tujuh tahun.
Selain itu, keluarga Camora hanya dipimpin oleh satu-satunya penerus. Dan keluarga yang dikenal dengan individualnya. Keluarga yang tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan manapun, semuanya dilakukan sendiri, dari pengolahan, hingga pemasaran dibawah naungan keluarga individual itu sendiri.
"Jadi, menurutmu, siapa yang pantas menduduki posisi nyonya di keluarga ini?" tanya Avalon memainkan pistol yang berada ditangan nya.
"Anak saya tuan, dia memiliki sifat yang sangat anggun, memiliki tata krama yang biasa dimiliki oleh keluarga berada, memiliki wajah yang sangat cantik, tapi sepertinya anda harus menunggu, karena anak saya sedang melakukan studinya yang ketiga di—"
Dor!!
"Dia memiliki lidah yang baik untuk merangkai sebuah kalimat, Li" ujar Avalon menembak tepat pada dada wanita itu, dia ingin sekali memberikannya pelajaran dengan rasa sakit, namun dirinya memiliki prinsip tidak akan menyakiti seorang wanita.
Jadi, ketika dia memiliki seseorang yang ingin dia habisi, maka dia akan langsung menembak dan semuanya selesai. Avalon rasa jika menembak dan langsung mati, tidak menyakitkan.
"Setelah aku pikir-pikir, memang, dia tidak pantas untuk dijadikan sebagai nyonya di keluarga Camora ini,"
"Setelah aku pikir-pikir, memang, dia tidak pantas untuk dijadikan sebagai nyonya di keluarga Camora ini,"
"Setelah aku pikir-pikir, memang, dia tidak pantas untuk dijadikan sebagai nyonya di keluarga Camora ini,"
"AHHHHKKK, SIALAN!!" pekik Bila berdiri diatas ranjang dan mengacak rambut nya. Serangkaian kata yang tergabung menjadi sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Avalon sangat menghantuinya.
Niat hati ingin tahu apa yang terjadi dengan meretas ponsel Avalon, Bila justru mendapati suatu kalimat yang sangat membuatnya kepikiran.
Bila tadi ingin tahu apa yang dilakukan dan apa yang dibicarakan oleh Avalon pada Rose, namun memang benar, harapan tak seindah kenyataan. Bila malah mendapatkan hal yang membuat dirinya ingin marah dan mengacak wajah Avalon.
"Sial4n, pria jelek itu~" geram Bila, dia sekarang tengah melompat lompat di atas ranjang seperti seorang anak kecil.
"Dia sangat menjengkelkan, aku tidak akan memberikannya jatah selama satu bulan!" ucap Bila menggeram.
"Sialan, kenapa dia mengatakan hal itu?!!"
__ADS_1
"Aahhhh.... Aku akan membalasnya!!!" ucap Bila berteriak, dia sudah melupakan hal tadi, lebih tepatnya dia berusaha melupakan hal yang membuatnya tidak sadar dan menghajar wanita yang memang memancing amarahnya itu.
Bila tidak menyesal, karena menurutnya perkataan kotor tentang ibunya sangat pantas dibalas dengan pukulan seperti itu. Bila tak lagi menghawatirkan masalah ini, Avalon bilang akan menyelesaikan Rose dan hal ini yang membuat Bila merasa sangat lega.
"SIALLAAANNNNN..."
"Seperti orang gila" ujar seorang pria membuat Bila menghentikan semua kegiatan yang memalukan.
Bila duduk, ia menatap Avalon dengan tatapan tajamnya. "Kau, tidak akan menerima jatah selama satu bulan!" pekik Bila menunjuk Avalon dengan tangannya.
Avalon terperanjat kaget, dia melihat Bila dan menghampiri wanita yang menjabat sebagai istrinya itu. Satu bulan? Apa wanita itu sudah gila?.
"Katakan sekali lagi!" geram Avalon mendudukkan dirinya didepan Bila.
Bila membuang wajahnya, "Kau tidak akan mendapatkan jatah selama satu bulan!" jelas Bila dengan mata yang melotot.
"Why? tell me where did i go wrong¹?" tanya Avalon mengerutkan keningnya, dia langsung bertanya, karena, 'jatah' adalah sebuah kata yang sangat penting bagi tubuhnya, sejak Bila menjadi istrinya.
Tak dapat Avalon pungkiri, bahwa tubuh Bila sangatlah menagihkan.
Bila mengambil tab di sampingnya. Mengotak-atik nya sebentar lalu tak lama terdengar suara Avalon yang mengucapkan kata tadi.
"Setelah aku pikir-pikir, memang, dia tidak pantas untuk dijadikan sebagai nyonya di keluarga Camora ini,"
"Masih mau mengelak?" tanya Bila kembali meletakkan tab nya.
Avalon sepuluh kali terkejut dengan apa yang tadi dia dengar, bukannya mengelak, namun dia memang benar-benar mengatakan hal itu, tapi, yang Avalon kejutkan adalah, kenapa Bila bisa mengetahui potongan kalimat yang dia ucapkan tadi.
"Kau, dapat dari mana?" tanya Avalon menatap lekat manik mata Bila.
"Aku meretasnya dari ponselmu" jawab Bila tanpa sadar telah membuka kedoknya sendiri.
"Sial4n! Aku— aku mendapatkannya dari Li!" ralat Bila cepat, dia tidak sadar dengan apa yang diucapkan olehnya tadi.
Avalon diam, tanpa berlama-lama dia berdiri dan keluar meninggalkan Bila yang meruntuki mulutnya karena selalu keceplosan ketika dengan merasa dongkal.
"Sial4n, aku harus mengalihkan perhatiannya, tidak boleh sekarang!"
__ADS_1