
"Tuan, ketua sudah tiada karena anak panah yang menembus jantung nya" lapor seorang anggota pada pria yang tengah bersembunyi dengan membawa dua pistol di tangan nya.
Pria itu terkejut, pikiran nya melayang pada kejadian sebelum peperangan besar ini terjadi.
"Bagaimana? Apakah para anggota kita sudah di siapkan?" tanya seorang pria berahang tegas, mata tajam yang memiliki manik berbeda. Pria itu melangkah dengan wibawa yang di bawa nya.
"Sudah tuan, para anggota sudah menunggu" jawab sekertaris pria itu.
Pria yang memiliki bibir yang sangat indah itu hanya diam tak menjawab, dia melangkah ke depan para anggota nya untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk organisasi yang dipimpin nya sekarang.
Barisan yang berjejer rapi dengan seratus kali seratus orang itu terbelah menjadi dua ketika mendengar jeritan suara yang sangat familiar di telinga mereka.
"BAGI DUA! BERI JALAN PADA SANG KETUA!" jeritan itu berasal dari bibir tangan kanan sang ketua. Manusia yang berjumlah sepuluh ribu itu seketika merapat barisan mereka, kurang dari lima detik, jalan yang semula tidak ada kini ada, mereka menunduk serentak ketika ketua mereka berjalan sambil menutup salah satu mata mereka.
Sekitar tiga menit, semuanya kembali pada barisan semula, mendongakkan kepalanya tegas dan menatap sang ketua yang berdiri di depan mereka dengan sebuah mic kecil yang di bawa terbang oleh lebah robot yang di ciptakan oleh otak jenius ketua mereka.
"Malam ini, akan terjadi sebuah pertempuran merebutkan pasar perdagangan malam terbesar antara Camorra dan Lorraine, untuk yang tidak siap untuk mati, silahkan pergi." ucap pria dengan mata yang di tutup satu dengan tegas.
"Satu.."
"Dua..."
"Tiga.."
Tidak ada yang bergerak se-inci pun dari tempat mereka, dan itu membuat pria yang menutup sebelah matanya itu tersenyum miring. Para anggota nya tidak ada yang takut mati, sudah perjanjian sedari awal. Dan itu akan berjalan seumur hidup.
"Aku telah membuat keputusan, bahwa Avalon adalah ketua kedua kalian, jika di peperangan nanti aku mati, kekuasaan langsung berpindah tangan ke Avalon!" ujar pria itu mutlak tak terbantahkan.
Semua orang tidak bereaksi apapun, wajah mereka tetap datar, meskipun di ulu hati mereka bertanya tanya kenapa sang ketua memberikan keputusan secara mendadak.
"Bagaimana?" tanya nya.
__ADS_1
"Di laksanakan tuan!" ucap serentak seluruh pria di ruangan yang sangat besar itu.
"Tuan?" ujar anggota itu membuat Avalon membuyarkan lamunan nya.
"Aman kan jasad ketua, dan beri tahu semuanya, untuk memakai rencana HM, dua puluh menit harus selesai, dan pastikan, kemenangan ada di pihak kita!"
Dor..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bila, Ed dan Bian mencari Adam di segala sisi toko mainan itu, namun nihil, Adam sama sekali tidak terlihat batang hidung nya.
Nampaknya, Adam benar benar hilang, atau di culik?.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan Adam?" tanya Bila mengeluarkan ponsel nya, tidak ada nada khawatir di setiap kalimat yang diucapkan nya. Dia harus tetap tenang di segala kondisi.
Maupun kondisi itu sangat mengancam sekalipun, karena, ketenangan adalah kunci terbukanya pikiran baru yang tidak pernah ia kira.
"Ini sedikit lama, karena menggunakan ponsel" ucap Bian mengotak-atik ponsel nya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bila tak melihat ke arah Bian, dia masih sibuk dengan ponsel nya untuk menyadap tablet nya yang berada di rumah dan menjalankan nya dari ponsel yang dia pegang sekarang.
"Apa kalian masih ingat dengan jam tangan yang kuberikan pada Adam tadi?" tanya Bian membuat kedua sahabat nya mengangguk paham.
Mereka tahu, bahwa Bian adalah orang yang penuh dengan kewaspadaan. Bian sangat over dengan keberadaan, keselamatan para orang terdekat nya. Bahkan pria itu tak segan untuk memberikan alat pelacak yang terpasang di masih masing lengan kedua sahabat nya.
Pelacak kecil itu Bian tanam menggunakan tinta tatto yang ada di lengan Ed, dan Bila. Tatto satu huruf alfabet nama depan mereka.
"Sial, ternyata cctv di ruangan itu di manipulasi oleh seseorang" umpat Bila geram, kalau begini, pekerjaan nya akan dua kali lebih lama. Karena masih mencari di mana cctv yang asli di simpan oleh orang itu.
Ed menoleh, dia melihat apa yang di lakukan oleh Bila. "Pantas saja ketika kita bertanya pada orang yang menjaga cctv tadi dia bilang tidak tahu, ternyata di manipulasi" ujar Ed melihat apa yang di lakukan oleh Bian di samping Bila.
__ADS_1
Dia hanya dapat melihat, tidak bisa berbuat apapun sekarang, karena, dia sama sekali tidak memiliki keahlian dalam dunia elektronik seperti yang tengah di lakukan oleh kedua sahabat nya.
Pria separuh berdarah jepang itu hanya bisa menggunakan keahlian nya dalam hal fisik dan otak di dunia langsung dan secara nyata.
"Ketemu, Adam di bawa kesebuah hutan, dan b4jing4n, titik itu sekarang hilang!" umpat Bian berdiri.
"Biadab!, ayo kita ketitik itu sekarang juga, sebelum Adam kenapa napa" ujar Bian membuat kedua manusia berbeda jenis kelamin itu langsung berdiri.
"Perasaan ku sedikit tidak nyaman" ujar Bian duduk di depan kemudi mobil yang dia curi di jalanan yang sepi dan tidak ada kamera pengawas sedikit pun.
Ed masuk, dia baru saja mencopot kedua plat nomor mobil itu agar tidak bisa di lacak dengan mudah.
Sementara Bila masih mengotak-atik ponsel nya. Dirinya khawatir namun mencoba untuk tetap tenang dan santai.
"Kita langsung ke titik terakhir Adam saja!" ujar Bila.
Bian mengangguk, dia menginjak pedal gas mobil yang di curinya.
"Sial, Adam di bius!" pantas saja Bian dan Ed tidak mendengar suara jeritan Adam tadi. Biasanya balita itu akan mengoceh ketika melihat mainan yang baru dia lihat.
"Dan mereka hanya seorang preman" ujar Bila mengulurkan ponsel nya pada Ed yang berada di depan.
Ed melihat ponsel itu, dapat dia lihat, ponsel itu menampilkan dia biodata seorang pria berwajah penuh tatto. "Kenapa mereka menculik Adam?" tanya Ed. Pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba.
"Apa mungkin karena mata nya yang berbeda,?" tebak Bila menatap pepohonan yang menjulang tinggi. Bian membawa mobil yang di tumpangi mereka dengan sangat lihai.
Karena hanya dengan waktu lima belas menit mereka sudah masuk ke area hutan yang seharusnya itu di tempuh dengan waktu tiga puluh menit.
"Atau, background keluarga nya. Sampai saat ini kau belum tahu siapa, dan kenapa Adam berada di dalam pelukan mu" sahut Bian mengeluarkan pendapat nya.
"Itu karena waktu itu dia masih bayi, dan tidak mudah untuk mengetahui identitas Adam jika kita saja tidak tahu siapa nama Adam sebenarnya"
__ADS_1