
Ceklek..
Bila membuka pintu ruangan itu dengan tergesa, dan nampak seorang pria langsung menodongkan senjata api kepada nya. "Tuan, seperti nya balita ini keracunan, aku akan memandikan di bawah sinar matahari dulu untuk mengeluarkan racun ini," ujar Bila panik.
Satu satu nya pria yang menjaga seluruh ruangan bawah tanah itu nampak terkejut, ternyata bukan teman-teman nya saja yang mengalami hal serupa.
"Tapi, aku tidak boleh mengijinkan seorang pun keluar dari ruangan ini" pria itu ragu, dia melihat kondisi Adam yang sudah lemas di gendongan Bila dan mulut balita itu mengeluarkan busa putih.
"Ayolah, jika tuan besar tahu pasti dia akan marah karena orang yang di carinya meninggal dan belum sempat di beri pertolongan" ujar Bila memohon.
"Tap—"
"****! kelamaan kau bangs4t!" maki Bila sebelum sebuah pukulan mendarat di pipi pria itu. Pria itu mundur dua langkah, melempar senjata api nya dan mengambil sebuah pisau kecil di balik punggung nya.
Pria itu tidak mungkin menggunakan senjata api di ruangan bawah tanah, jika peluru senjata itu meleset dan mengenai tembok di belakang nya maka ruangan bawah tanah ini akan roboh. Hancur.
Bila yang melihat pisau itu tersenyum miring, "Nak, turun sebentar!" ujar Bila menurunkan Adam.
Bila geram akan apa yang pria ini lakukan, kenapa juga anak buah Wiliam sangat setia. Waktu masih berjalan segitu cepat nya, tinggal sepuluh menit lagi rekaman cctv itu kembali.
Adam mengangguk, menelan busa memiliki rasa manis di mulut nya dan sedikit menjauh dari tubuh Bila. Ternyata busa yang Bila berikan tadi adalah permen berbusa hasil dari obat putih yang di berikan oleh Bila tadi
"Benar, ternyata dugaan ku" pria itu tersenyum miring.
"Kebanyakan omong, ayo!" Bila melompat ke arah pria itu, tangan nya sudah memegang dua pisau kecil yang dia ambil di balik punggung nya tadi ketika melompat.
Bila mencari titik vital pria tadi, tengkuk. Dia harus menggores tengkuk pria tadi dan memukul nya, pasti dia akan mati. Pikir Bila licik.
Bila menggores wajah pria tadi. Pria itu awal nya menganggap Bila seperti wanita pada umumnya. Sangat lemah.
Namun, ketika mendapatkan sebuah goresan di wajah nya, pria itu seketika sadar, bahwa wanita yang kembali menggores wajah nya bukan lah wanita pada umum nya.
Pria itu tidak tinggal diam. Dia juga mengikuti gaya Bila, melompat lalu menggores wajah Bila. Namun, ketika dirinya mengayunkan tangan nya, wanita di depannya lebih cepat menghindar.
"Sial!" umpat pria itu.
Bila terkekeh kecil, "Ah, langsung pada intinya saja, aku sudah kehilangan waktu empat menit ku!" ujar Bila melompat.
Namun, seperti nya Dewi Fortuna tidak berpihak padanya, pergerakan Bila di ketahui dan sebuah sayatan lebar terpatri indah dalam sudut matanya, sayatan itu bukan hanya satu, sayatan itu lebih dari satu.
__ADS_1
"Sialan kau bangs4t! Wajah cantik ku kau gores!" maki Bila, dia sangat marah, dia mengambil senjata api yang berada di bawah nya menggunakan kakinya, dengan sangat cepat hingga pria tadi tidak mengetahui pergerakan nya sama sekali.
Pria itu tersenyum mengejek.
Menurut nya, wanita itu makhluk yang sangat lemah, namun, sedetik setelah pria itu mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, pria itu tewas dengan peluru yang di tembakan oleh tangan seorang wanita.
Dor..
"SIALAN KAU KAPARAT!" maki Bila menginjak jantung pria yang terkena peluru nya.
Pria tadi seketika tewas, dia tewas di bunuh oleh seorang wanita yang telah dia hina.
"Damn you devil! just die you go to hell there!" Bila berbalik badan, dia menyeka darah yang mulai berlumuran di seluruh wajah nya.
"Woah! Mommy sangat hebat!" ujar Adam dengan kosakata bahasa sangat lancar. Dan lagi! Bila lupa jika ada seorang balita yang menyaksikan langsung apa yang dia lakukan.
Ketika ia ingin mengelak, waktu sudah kurang tiga menit, jam yang berada di tangan nya berbunyi. Bila menggelengkan kepalanya, nanti saja dia akan mengelak.
Bila menoleh, dia tidak membawa selendang untuk mengikat Adam agar pergerakan lebih bebas.
Dan Bila menemukan sesuatu sebagai pengganti nya. Sebuah sabuk yang berada di pinggang pria yang sudah tidak bernapas tadi.
"Pegangan yang erat nak" Setelah mengkaitkan Adam di punggung nya, dia langsung berlari keluar tepat di detik ke sepuluh sebelum waktu habis.
Bila menoleh ke kanan dan kiri, melihat tidak ia orang dia melompat dan memanjat pohon besar di area halaman Wiliam, dan Bila kembali terkejut, ternyata di dalam pohon itu ada Ed yang sedang berdiri menanti kedatangannya.
"Ayo Bil, mereka sudah bergerak" ujar nya melompat ke pembatas rumah warga diikuti oleh Bila di belakang nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan, mereka sudah kabur" lapor Erick pada Wiliam.
Wiliam yang sedang berkutat dengan laptop menoleh, "Apa maksud mu? Dan siapa yang susah kabur?" tanya Wiliam meninggikan suaranya.
Dirinya lelah, setelah data nya sebagian hilang di curi kini ada lagi.
"Balita itu tuan, dan kita di jebak oleh orang tua balita itu, sebenarnya data yang kita cari beralih ke ponsel anda tuan" ujar Erick membuat emosi Wiliam memuncak.
Apa katanya? Balita yang memiliki semua ciri ciri kelompok Camora hilang? Dan apa tadi, ponsel? Jadi sia-sia apa yang telah di lakukan nya? Sialan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, Erick? dan berapa orang yang telah menjebak kita, cerita kan semuanya!"
"Ada anggota kita yang melapor bahwa Linda yang asli telah tewas di gudang, dan berarti yabg kita temui tadi adalah Linda palsu tuan" ujar Erick menunduk. Satu kali seumur hidup nya dia terkecoh dengan semua yang terjadi.
"Lalu, semua anggota kita yang kejang-kejang kemudian tewas, mereka terkena sebuah zat racun yang berbahaya" sambung nya.
"Bagaimana bisa mereka meracuni anggota kita Erick?"
"Masih dalam proses penyelidikan tuan"
"Yang melakukan nya berapa orang Erick?"
"Cuma tiga tuan" jawab nya.
"Apa, apa kau bercanda?" Wiliam bangku dari duduk nya. Dia menghampiri Erick dan mencekal kerah baju nya.
"Katakan pada ku sekali lagi!"
"Cuman tiga orang tua—"
BUAGGKKK
Pukulan keras mendarat di wajah Erick. Wiliam sudah marah, sekarang dan Erick yang bertanggung jawab atas semuanya. Dia gagal kali ini.
"BAGAIMANA BISA TIGA ORANG MEMBUAT KITA TERKECOH KAPARAT !!!" pekik Wiliam memukuli tubuh Erick.
"BAGAIMANA MANA BISA! HA?!"
"Maafkan saya tu—"
BUGHH...
BUGGHHHH..
"SIALAN! BAGAIMANA BISA!!"
Sayatan bila.
__ADS_1