Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Kemarahan Avalon.


__ADS_3

"Kak, Raya, mommy kemana?" tanya Lengkara pada pengasuhnya, dia baru saja pulang dari lesnya, Lengkara pulang ketika selesai jam makan siang.


"Maaf nona, nyonya sedang belajar" jawab Raya mengambil pelan tas yang berada dipundak Lengkara, lalu mendudukkannya di kursi dan melepas sepatu yang dipakai oleh Lengkara.


"Wah! belajar, apakah seperti Lengkara?" tanya Lengkara dengan wajah yang berbinar.


"Benar nona," jawab Raya mengangguk.


"Aku akan melihat bagaimana mommy belajar!" seru Lengkara berdiri lalu berlari.


"Tunggu nona! Mari mengganti pakaiannya, dulu!" pekik Raya turut berlari dan mengejar sang nona muda.


Lengkara tertawa, baginya dia sangat suka mengerjai pelayannya, "Aku akan menemui mommy, kak!" jawabnya.


Lengkara terus berlari, dia berlari kearah kamar sang mommy, disepanjang lorong Lengkara pasti menemukan banyak pria berbadan tegap dengan tatapan datar melerai.


Ceklek....


"Mommy!" pekik Lengkara membuka pintu kamar Bila dan masuk.


"Mommy!" Lengkara celingukan, dia melihat ke kanan dan kiri, mencari keberadaan sang mommy yang katanya sedang belajar.


Lengkara tidak menemukan mommy nya, dia keluar dan bertanya kepada seorang pria yang sedang berjaga tak jauh dari pintu kamar mommy nya.


"Paman, di mana mommy?" tanya Lengkara.


Pengawal itu menunduk, lalu berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Lengkara dan menjawab, "Nyonya sedang belajar nona" jawab pengawal itu.


"Iya, Lengkara tahu, tapi tempatnya dimana?" tanya Lengkara sekali lagi, gadis cilik itu berkacak pinggang.


"Nyonya berada di perpustakaan pribadi, nona" jawab pria itu sambil menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari kamar Bila.


Lengkara mengangguk, "Terimakasih, paman!" ujarnya lalu berlari kearah pintu itu. Avalon memang mengajarkan pada Lengkara untuk mengucapkan Terimakasih ketika sudah mendapatkan sesuatu yang Lengkara inginkan.


Mengucapkan 'tolong' ketika meminta tolong, dan mengucapkan 'maaf' jika memang Lengkara yang salah.


Pengawal itu mengangguk, dia kembali berdiri setelah berbicara dengan nona mudanya.


Diujung sana, seorang pria kecil melihat perlakuan itu merasa tidak terima, dia ingin merubah hal itu karen menurutnya, semua pekerjaan itu sama, hany sedikit perbedaan dan seharusnya sedikit pula perlakuan yang berbeda.


Lengkara mengetuk pintu perpustakaan pribadi disamping kamar Bila, "Mommy!!" pekik Lengkara menggedor-gedor pintu itu.


"Mommy!!"


"Mommyy!!!!"


"Nona, sebaiknya anda jangan menganggu nyonya," ujar Raya yang datang dengan seorang pria kecil didepannya.

__ADS_1


Lengkara menoleh, "Kenapa memangnya, kak— Adam!" Lengkara menghampiri Adam, lalu dia memeluk tubuh kecil itu dengan erat.


"Kenapa? Kara?" tanya Adam melepas pelukan mereka.


"Kara ingin melihat mommy belajar" jawab Lengkara lesu.


Adam mengerutkan keningnya, lalu dia menoleh kearah Raya, "Apa benar?" tanyanya pada Raya.


"Benar tuan muda, beliau sedang belajar. Sebaiknya anda tidak menggangu, beliau" jawab Raya menunduk.


"Kenapa?"


"Guru yang mengajar nyony— Brak....!!"


"Mommy!!"


"Ada apa ini?!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Kurang ajar!" Rose menunjuk wajah Bila dengan telunjuknya.


"Kenapa? Kau tertampar dengan kenyataan?" tanya Bila mengejek, kedua tangannya sudah berada didepan dadanya.


Brak..


Bila kembali tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Rose, dia mundur dua langkah dan menghentikan tawanya, sesungguhnya dia sangat dongkal pada wanita di depannya ini, wanita itu sangat keras, tidak dapat memberikan toleransi meski hanya untuk makan siang dan menemui kedua anaknya.


"Ah, berandal begini jika memukul meja—"


Brak....


Prak...


"Akan terbelah!" sambung Bila memukul meja didepannya dengan keras hingga terbelah menjadi dua bagian, meja yang terbuat dari kayu itu sudah terpisah kemana-mana.


"Hey!! Apa anda tidak pernah diajari oleh ibu anda cara menghormati seorang guru?!" tanya wanita itu gugup karena melihat meja yang sudah terbelah itu.


Bila diam, dia melihat kedua tangannya sembari menangis didalam hati, 'Maafkan aku Avalon, aku akan memberi mu tiga ronde tambahan, nanti, hiks...' jujur yang dia takutkan sekarang adalah kemarahan Avalon karena meja nya dia rusak.


"Saya jadi curiga bahwa anda adalah seorang anak dari pel4cur yang tidak memiliki tata krama!"


Tubuh Bila mematung, wanita ini, kenapa suka sekali menghakimi padahal tidak mengerti apa yang terjadi didalam hidupnya. Bahkan ibu yang begitu sabar wanita ini hina sebagai seorang pel4cur?.


Bila menatap tajam Rose, "Katakan sekali, lagi!" ucap Bila datar.


Rose yang sudah kepalang emosi karena tidak dihormati Sam sekali pun kembali mengucapkan kalimat yang tadi dia ucapkan. "Saya jadi curiga bahwa anda adalah seorang anak dari pel4cur yang tidak memiliki tata kr—"

__ADS_1


Buaghh...


Buaghh...


Buaghh...


"Sial4n! kau tidak tahu apa yang telah terjadi, bajing4n!" Bila menarik tubuh Rose yang tersungkur karena pukulannya.


Rose merasa ketakutan, sepertinya dia telah salah orang ketika menghina. Tubuhnya terasa sangat sakit karena tersungkur dan pukulan bertubi-tubi yang dilakukan oleh Bila.


"**BANGS4T, KAPAR4T, BAHKAN KAU SAJA TIDAK MENGETAHUI IBU KU SEPERTI APA DAN BAGAIMANA KEHIDUPANNYA, KAU ORANG BARU YANG BARU BERTEMU DAN LANGSUNG MENGHINANYA SEBAGAI SEORANG PEL4CUR**?!" maki Bila memukul tubuh Rose dengan kencang, dia mengumpati Rose dengan bahasa yang dimiliki negaranya.


"Nyonya, maafkan saya, saya meminta maaf, tolong berhenti!" Rose sudah babak belur, sudut matanya, dan bibirnya sudah banyak mengeluarkan darah.


Brakk...


"Bila!!"


"Mommy!!"


Avalon terkejut dengan kondisi perpustakaan pribadinya yang sudah berantakan, "Bawa anak-anak keluar!" titah Avalon dan berjalan menghampiri Bila.


"Tidak, aku ingin melihat Mommy!" pekik Lengkara ketika di bopong paksa oleh seorang pengawal pria. Sementara Adam hanya dia dan menatap tajam kearah wanita yang sedang dihajar oleh sang mommy.


"Mari tuan,"


"Jangan pegang!"


"Tuan, tolong saya!" ucap wanita itu.


"Bila!" panggil Avalon sekali lagi.


Tidak ada balasan, Avalon geram, dia menarik kedua bahu Bila dan menghempaskannya kebelakang, pelan.


"Angelina Salsabila!" panggil Avalon dengan nada rendah.


Bila tersadar, dia langsung melihat kearah wanita yang sudah pingsan didepannya. "Avalon!" Bila gemetar, dia langsung berlari kearah Avalon dan memeluk tubuh tegap pria itu.


"Avalon~" lirihnya.


"Apa yang kau lakukan, Angelina?!" tanya Avalon menggeram, Avalon tidak habis pikir lagi dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Dan kenapa sampai Bila melakukan hal itu pada guru barunya.


Bila tidak sadar, dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan, dia hanya marah ketika seorang wanita menghina ibunya sebagai seorang pel4cur padahal wanita itu tidak mengetahui apapun.


"Dia telah menghina ibuku sebagai seorang pel4cur" ujar Bila gemetar sebelum kesadarannya terenggut dengan sendirinya. Sungguh, hari ini Bila sangat lemah dan mudah dipancing emosi.


Avalon menggeram marah, "Panggilkan pelayan pribadi istriku dan bawa wanita itu ketempat biasanya!

__ADS_1


__ADS_2