Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Tiga hari tidak pulang.


__ADS_3

Bila menghela nafasnya, ia kembali mengotak-atik tab nya, laptop miliknya sudah mati total, lalu, Bila masuk kedalam sebuah web. Sebuah web yang bisanya digunakan oleh anggota Īpašs digitālais untuk meretas agar mempermudah pekerjaan meretas mereka. Setelah terverifikasi, Bila kembali berkutat lama dengan tab itu.


Sekitar satu jam, Bila akhirnya melemparkan tab itu ke sembarang arah, merebahkan tubuhnya lagi dan menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang tak tentu.


Menurut Bila, pernikahan yang dijalaninya selama ini kurang sehat, mereka hanya berinteraksi ketika malam menjelang dan melakukan hal yang mereka sukai serta mendapatkan kepuasan.


Lalu, setelah itu, mereka seperti orang asing yang terpaksa tinggal bersama demi anak mereka. Avalon pun jarang berbicara panjang lebar dengannya. Hanya beberapa kata dan beberapa kalimat yang sangat membosankan. Tidak ada sesi bercerita, berbicara santai seperti pasangan pada umumnya. Bila merasa kurang dengan hal itu.


Avalon pergi pagi, pulang sore, lalu bekerja lagi di ruang kerja, kadang mereka meluangkan waktu namun untuk kedua anak mereka. Bila dan Avalon sangat jarang berinteraksi diluar itu. Ketika sedang berhubungan pun hanya kepuasan yang mereka bahas.


Mereka berdua masih banyak menyimpan rahasia, dan tidak adanya keterbukaan.


"Jam berapa sekarang, Ana?" tanya Bila menghela nafasnya lelah.


"Jam enam tepat, nyonya"


Bila mengangguk samar, "Apa kau merasa jika hubungan rumah tanggaku tidak normal, Ana?" tanya Bila akhirnya membuka suara.


Dia butuh teman berbicara, jika dia tidak berbicara dengan Adam ataupun Lengkara, maka Bila akan berbicara dengan Ana untuk meluangkan rasa bosan dalam dirinya.


Kehidupannya sangat berubah drastis, jika dulu ia selalu bercerita dan selalu tertawa setiap hari dengan Ed dan Bian, maka sekarang adalah kekosongan yang ia rasakan.


"Maksudnya nyonya?"


"Aku rasa hubunganku dengan Avalon hanya sebatas simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, tidak lebih" lanjut Bila menerawang jauh apa yang akan terjadi kedepannya.


"Sudahlah An, ayo mandikan aku, jam setengah tujuh harus sudah selesai"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Mommy, kemana Daddy?" tanya Adam yang sudah bersiap dengan seragamnya.


Bila diam, "Daddy mu masih berkerja, dia tidak pulang, mungkin lusa akan pulang" jawab Bila malas.

__ADS_1


Adam mengangguk, "Aku kemarin mengikuti sebuah lomba" ujar Adam membuka percakapan.


Mereka tengah berada dikamar Adam, dengan Bila yang tengah merapikan rambut Adam. Dibelakang mereka ada dua orang yang sedang melihat interaksi antara ibu dan anak itu.


"Lomba? Kenapa Adam tidak memberi tahu mommy?" tanya Bila berhenti sejenak dengan pekerjaannya, lalu kembali menyisir rambut Adam.


"Lomba itu dadakan, untuk mengetes kecerdasan siswa, dan Adam langsung ikut" jawab Adam menceritakan pengalamannya berada disekolah.


Begitulah keseharian ibu dan anak itu, setiap pagi mereka selalu bercerita tentang apa yang Adam telah lakukan. Jika malam, Adam akan belajar, kadang ditemani oleh Bila, Adam juga pulang dari sekolahnya setelah jam makan siang, dilanjutkan dengan tidur siangnya dan sore mereka akan keluar untuk sekedar menikmati senja di taman bunga tulip nya sembari bercanda ria dan bercerita banyak hal.


"Adam ikut lomba apa, memangnya?" tanya Bila meletakkan sisir pada meja didepannya.


"Lomba menguasai bahasa asing, dan Adam mendapatkan juara satu!" pekiknya senang.


Adam berjalan menjahui Bila, dia berjalan ke meja belajarnya dan mengambil sesuatu.


Sementara Bila duduk ditepi ranjang Adam.


"Ini, adalah sertifikat atas kemenangan Adam," Adam memberikan kertas yang diatasnya sudah tertulis nama Adam yang disertai dengan bumbuhan tanda tangan dari kepala sekolah Adam.


"Memangnya bahasa apa saja yang Adam telah kuasai?" tanya Bila heran, perasaannya ia hanya mengajari Adam bahasa Inggris saja.


"Bahasa Indonesia, Jawa, dan Papua" jawab Adam membuat Bila melongo.


"Hanya berbeda logat dan kosakata sedikit, Adam, kenapa kau bisa memenangkan pertandingan ini?!" tanya Bila tak habis pikir. Panitia pemilik acara yang bodoh atau Adam yang terlalu pintar untuk bermain lidah?


Bila mengerti sekarang, bahwa bahasa Indonesia Adam pelajari darinya, Jawa dari Bian, dan Papua dari istri Bian. Namun, kenapa bisa terjadi?. "Mereka hanya menilai bahasa yang berbeda, bukan dari mana bahasa itu berasal, jadi, siapa yang salah? Mereka!"


Dan kini Bila sudah menyadari, Adam bukanlah Adam yang kecil dulu. Pria kecil itu sudah tumbuh dewasa dengan otak yang sangat cerdas.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Tiga hari berlalu....

__ADS_1


"Mommy, dimana Daddy?"


"Mommy, kenapa Daddy tidak pulang?"


"Mommy, Daddy marah ya?"


"Mommy~" rengek Lengkara bertanya secara bertubi tubi pada Bila tentang keberadaan Avalon yang tidak pulang selama tiga hari ini.


Bila hanya diam, perkataannya waktu itu ternyata benar, Avalon tidak pulang, mungkin lusa dan sekarang adalah lusa itu. Mungkin sekarang pria dengan wajah penuh dengan luka itu akan pulang.


"Mommy tidak tahu, nak," jawab Bila santai, jujur dirinya khawatir Avalon akan marah padanya, namun disisi lain dia merasakan kemenangan karena telah menyebabkan pria itu tidak pulang selama tiga hari terakhir.


Bila membalas dendam dengan cara sedikit mengambil uang perusahaan milik Avalon, menyembunyikan file yang akan direncanakan untuk sebuah proyek dan membuat sistem keamanan di perusahaannya kacau.


"Apa Daddy tidak memberi kabar mommy?" tanya Adam menyahuti rengekan Lengkara.


"Tidak, mungkin sebentar lagi Daddy kalian akan datang" jawab Bila memakan cake yang dipegang oleh Ana.


Mereka tengah duduk di ayunan taman bunga tulip itu, ayunan yang Bila buat secara mendadak, ayunan yang terbuat dari sebuah tali yang diikat menjadi sebuah ayunan untuk tidur.


Bila membuat ayunan itu tiga. Untuk Adam satu, dan untuk Lengkara satu, ayunan yang ditalikan pada dua pohon besar.


Di masing masing terpasang pada kedua pohon.


"Tapi, kenapa daddy pergi dan ti—"


"DADDYYYY!!!" pekik Lengkara ketika melihat seorang pria datang kearahnya. Dia melompat dari ayunan itu, kemudian berlari menuju Avalon yang sedang berjalan dengan gagahnya kerah ayunan itu.


Tubuh Bila menegang, apa sekarang dia akan bercerita semuanya? Ah Bila jadi tidak siap. Sebagai istri yang baik, Bila turun dari ayunan itu, meskipun sangat berat dan rasanya begitu enggan untuk bertemu dengan Avalon.


"Ayo, Dam, turun, temui Daddy mu" ujar Bila berjalan dengan sedikit lesu pada Avalon.


"Hai, apa kabar?" tanya Bila pertama kali, karena selama tiga hari tidak pulang, Avalon sama sekali tidak menghubunginya barang untuk memberi pesan singkatnya saja.

__ADS_1


Avalon menoleh kearah istrinya, dia menatap Bila dengan pandangan yang tak bisa diartikan. "Baik, bagaimana kabarmu?"


__ADS_2