Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Tanpa jejak.


__ADS_3

Dengan kecepatan 255 km/ jam, Bila memacu kuda besi nya. Mata nya fokus pada jalanan yang sepi nan memutar. Kali ini, mereka bukan balapan liar, melainkan balapan di sebuah sirkuit yang telah di sewa oleh penyelenggara.


Bila melihat jam tangan nya, waktu sudah menunjukkan pukul 00.08, yang berarti diri ya telah membawa kuda besi nya selama delapan menit untuk tiga kali putaran.


Dan lagi, kali ini Bila yang memenangkan pertandingan ini. Pertandingan kali ini cukup membuat Ed ketar-ketir sendirian, karena Bila lebih cepat dua detik dari pemain yang menjadi juara kedua. Yang berarti, mereka hanya berselisih dua detik.


Bila turun dari motor nya. Menyugar rambut panjang nya dan menghampiri Ed.


"Wah, kemampuan mu sangat hebat Bil!" puji Ed memeluk Bila singkat, pelukan itu seperti pelukan pria dengan pria.


"Meremehkan ku" balas Bila tersenyum miring.


"Ayo ambil hadiah mu," Ed merangkul Bila dan membawa nya ke depan orang yang akan memberikannya hadiah berupa uang 500 juta.


"Gelin, selamat atas kemenangan mu" ujar pria memberikan sebuah sertifikat dan sebuah cek pada Bila.


"Terimakasih" jawab Bila mengambil. Lalu mereka foto bersama.


Selesai itu, mereka kembali pulang ke rumah Bila, Ed ikut Bila pulang untuk menjemput Bian. Kontrakan mereka satu arah, namun beda tempat.


"Besok toko nya buka Bil?" tanya Ed masuk rumah di belakang tubuh Bila.


"Iyalah, aku sudah pesan bunga tadi,"


"Baiklah, ayo Bi, kita pu— Loh, Bian!" Ed memekik kencang ketika melihat Bian yang terkapar di bawah ranjang dengan darah yang bertebaran dimana-mana. Darah itu belum kering, mungkin baru saja tumpah. Dan dirinya pun keluar ke sirkuit hanya satu jam.


"Bian?" Bila menghampiri Bian, dia sedikit terkejut dengan kondisi Bian saat ini.


"Bi-Bian?" Bila menggoyang tubuh Bian. Bila membalikkan tubuh itu, Bila melotot. Wajah Bian yang sudah babak belur serta banyak nya sayatan yang berada di lengan, wajah dan kaki nya.


"Bian, hei!" Bila menepuk-nepuk pipi Bian agar pria yang sedang berlumuran darah itu tersadar.


Samar-samar pria tampan yang memiliki luka itu tersadar, mata itu perlahan terbuka dan pria itu langsung mendudukkan dirinya. Menoleh ke arah dan kiri lalu berdiri.


"Ad-Adam bagaimana?" tanya nya pada Bila. Bila seketika itu langsung tersadar, tersadar bahwa Adam tidak ada.


Ed mendengar pertanyaan itu, melihat ke sana dan kemari namun tidak ada.


Bian memegang kedua pundak Bila, menatap nya dalam lalu, dia menarik tubuh Bila dan memeluknya.


"Adam— maaf, aku tidak bisa menjaga nya" Bian tak memedulikan lagi luka yang berada di tubuh nya. Luk. Yang di torehkan oleh lima orang itu.


Bila tertegun singkat, "Adam?" Bila bergetar, jika melihat dari sudut pandang nya ketika melihat apa yang telah di alami Bian dan perkataan nya, Bila menduga bahwa telah terjadi sesuatu sekarang.


"Duduk dulu" Bila mengambil nafas nya, menghembuskan nya pelan lalu menuntun Bian untuk duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Bila mencoba untuk tenang, sekali lagi, tidak boleh gegabah dan bertindak yang akan menjadi bomerang bagi kedepannya.


"Coba pelan-pelan untuk bercerita" ujar Bila.


Ed datang dengan membawa kotak obat dari luar kamar Bila, dia mendatangi Bian, menarik sebuah kursi yang berada di pojok kamar Bila dan duduk di depan Bian.


"Jadi.."


Bian melihat jam tangan yang di pakai oleh Adam tadi sudah mati, jam tangan serba guna yang dia buat untuk pertama kalinya.


Pria tampan itu meletakkan jam itu di atas nakas samping ranjang Bila. Mengambil laptop dan mulai menatap serius laptop yang berada di pangkuan nya. Laptop itu milik Bila, dan kali ini dia sedang meneliti sebuah alat yang akan dia kembangkan nanti.


Sebuah alat yang di tempelkan ke sebuah tempat dan mampu menyebarkan kebakaran hebat ketika mendapati sinar matahari menerpa alat itu.


Mata Bian melirik Adam yang tertidur pulas di sebelah nya. Tidak ada yang aneh. Hanya saja perasaan nya sangat tidak nya—


Brak...


Pintu kamar Bila di buka dengan kencang nya. Bian terperanjat kaget melihat itu, dia menoleh namun tidak ada orang yang membuka pintu kamar Bila.


'Ah, apa rumor jika makhluk halus itu benar benar ada?' pikir nya.


Bian menggeleng, pemikiran macam apa itu, apa mungkin Bila dan Ed yang datang? Namun, ini baru setengah jam mereka pergi.


Bian menghampiri pintu itu dan langsung mundur satu langkah ketika merasakan sebuah tangan yang menuju dengan kecepatan dan kekuatan penuh ke arah wajah nya


Bugh..


Tanpa berpikir lama, Bian memukul balik wajah orang itu. Dan kena, orang itu mundur membuat Bian terkekeh kecil.


Namun, kekehaan itu tidak bertahan lama karena empat orang datang dan langsung menyerang nya tanpa aba-aba.


Bian dikerubungi oleh empat orang yang sudah memukulnya. Bian hanya mengelak sembari berpikir kenapa ada orang yang datang dan langsung menyerang nya.


Keempat orang itu menyerang Bian, Bian yang terus mengelak dan mundur.


Bian menangkis serangan itu, sedetik kemudian Bian menendang titik lemah seorang pria dengan gerakan memutar. Di ruangan yang sempit itu, terjadi sebuah perkelahian yang sangat tidak seimbang.


Satu lawan empat orang.


"Habisi saja, anak itu sudah aku bawa ke dalam mobil!" teriak seorang pria yang membuka perkelahian tadi keempat pria tadi mengangguk samar.


Dan seketika itu Bian tersadar akan situasi saat ini. Orang-orang ini mengincar Adam, dan bodohnya dia termakan jebakan dengan alihan perkelahian, dan satu pria tadi membawa Adam.


'Ah, pria tadi ya' gumam nya dalam hati.

__ADS_1


Bian melihat keempat pria tadi, satu sudah pingsan terkena tendangan maut yang Bian berikan pada burung nya.


Bian kembali berkelahi dengan ketiga orang yang tersisa. Tapi, kali ini Bian hanya berfokus dengan titik lemah ketiga pria di depannya.


Di ruangan sempit itu, Bian melompat, berguling, menangkis, saling memukul dan


Srett...


Srettt...


Sret...


Srettt.


Srett ..


Lima sayatan itu Bian dapatkan hanya dengan waktu dua detik dari ketiga pria itu.


Bian terkejut kenapa di saat dirinya berguling lalu berdiri darah sudah menetes di bagian wajah, dan lengan nya.


"Bajing4n, kali—"


Bughh...


Bughhh..


Bughh....


Sret....


Sret ..


Sret ...


Buanggkkkhhh.....


Bian terjatuh dengan pukulan telak di wajah nya dari seorang pria di depannya.


Ketiga pria tadi langsung pergi ketika Bian terjatuh.


Bian lengah kali ini, insting nya perlu kembali di asah.


"Sial, lemah sekali kau Bian, hanya tiga orang kau kalah," gumam nya. "Ah, Bila, maafkan aku" sambung nya.


"Maafkan aku Adam~" lirih nya sebelum kegelapan menyerang nya.

__ADS_1


Sepertinya pisau yang di gunakan oleh ketiga pria itu memiliki dosis yang membuat Bian mengantuk.


__ADS_2