
Dor!
"Jumlah mereka tidak sedikit, apa kalian bisa?" tanya Avalon melihat orang yang menyerang mereka berjumlah tidak sedikit. Di depan sana, para penjaga di seluruh mansion mewah ini turun untuk melawan para penyerang itu.
"Kira kira, 50 setiap orang," sambung Avalon membuat Ed meneguk ludahnya. Dia tidak pernah melawan seperti ini sebelumnya. Apa ini yang dinamakan dunia bawah yang asli?.
Bian hanya diam, dia mencoba memutar otaknya sekarang, jika setiap orang melawan 50 orang, maka tenaga mereka akan cepat habis dan musuh akan memenangkan pertempuran ini.
"Sebaiknya jangan gegabah" ujar Bila mengetahui raut wajah Bian yang sedang berpikir keras.
"Pasukan tinggal sedikit, kita tidak bisa diam saja dan menonton keka—"
"Bisa, pakai otak, bukan otot" Bian memotong ucapan Ed yang menggebu.
Avalon diam, benar apa kata Bian, pakai otak, bukan otot.
"Bagi dua kelompok, aku dan—"
"Ed, aku dengan istriku" potong Avalon membuat Bila menghela nafasnya.
"Berpencar lah, hidup mati, ada ditangan kalian, dan anggap saja latihan pertama untuk bertahan hidup di dunia bawah!" final Avalon menarik tangan Bila, berlari lalu melompat ke semak semak, dia harus berbicara sebentar dengan Bila.
"Apa yang harus kita lakukan, Bi?" tanya Ed menelan ludahnya.
"Kita pakai rencana kera 1 dan jongkok 5!" Bian berlari untuk sembunyi dibelakang sebuah tiang besar yang menyangga mansion mewah ini.
"Aku yang menjadi umpan?! Sialan!" pekik Ed ketika melihat Bian sudah bergerak dengan cepat.
"Aku memiliki istri, Ed!"
Dor!
Bruk...
"Sial4n! Aku juga ingin menikah, bajing4n!" Ed berguling kesamping ketika sebuah peluru ingin menghantam kepalanya. Dia bersembunyi di belakang pot besar.
"Fokus, dan lakukan!" ujar Bian menarik kembali pelatuknya. Para orang orang itu sudah bergerak untuk masuk ke mansion. Jika diibaratkan, mereka seperti penjaga pintu mansion.
Ed mengangguk, dia keluar dari persembunyiannya. Ketika ada seseorang yang ingin menembaknya, Bian terlebih dahulu menembak orang yang akan menembak Ed.
Dan begitu seterusnya. Mereka lebih menghemat tenaga, namun, memerlukan kefokusan, kecepatan dan ketepatan. Jika ada salah satu yang terlambat maka Ed yang akan menjadi korban. Karena disini dia yang menjadi sebuah umpan.
__ADS_1
"Apa kau sanggup?" tanya Avalon membuat Bila mengangguk.
"Kau terluka" sambungnya melirik lengan Bila yang tertutup dengan baju tidur berlengan panjang.
"Kau banyak omong, cepat beritahu aku apa yang harus kita lakukan!" Bila menggeram, dia melototi Avalon.
Avalon menghela nafasnya. "Aku akan keluar dan menyerang mereka dengan kedua tangan ku, sementara kau bertugas untuk mem-backing ku, jika kau lengah, maka aku akan mati!" ujar Avalon langsung bergerak, dia tida memberikan Bila pilihan lain.
Backingan adalah orang yang siap dijadikan tameng atau pelindung ketika terjadi masalah atau keadaan yang menyudutkan.
Teknik yang mereka pakai hampir sama seperti yang Ed dan Bian lakukan, namun, jika dilihat dari persentase bahayanya, tim Bian dan Ed akan lebih bahaya.
Bila melihat gerakan Avalon yang sangat lincah, berlari, melompat, berguling, menendang, dan menggores sana menggores sini.
Dor!
Bila mengeluarkan satu pelurunya disaat melihat seorang yang ingin menikam Avalon dari belakang.
Dor...
Dor...
Dor..
Ed sudah mendapatkan goresan di samping perutnya. Sementara Bian mendapatkan sebuah peluru yang bersarang di lengannya.
Avalon yang mendapatkan luka paling banyak diantara lainnya. Karena dia langsung turun kelapangan. Bila tidak mendapatkan luka apapun, karena sedari tadi dia hanya diam dan menembak ketika Avalon dalam keadaan mendesak di balik semak-semak.
Para pasukan dari kelompok Camora pun masih dalam perjalanan. Mereka memerlukan waktu untuk datang kesini.
Sementara para pasukan penyerangan masih banyak. Mereka seperti nya akan kalah kali ini. Sungguh, kali ini Avalon sangat lengah hingga tidak menyadari bahwa akan ada penyerangan. Avalon pikir, Ferguson tidak akan bergerak gegabah seperti ini, pria itu akan memikirkan suatu rencana untuk membalaskan dendamnya. Namun, sepertinya dugaannya kali ini salah. Ferguson bergerak dengan cepat.
Sret..
"Berhenti bergerak dan menyerah lah. Serahkan dirimu pada kami!" ujar seorang menodongkan senjata api pada kepala Bila.
"Sial4n!" maki Bila. Dia terlalu fokus dengan Avalon sehingga melupakan dirinya sendiri.
Avalon yang sedari tadi menyerang dan sesekali melirik kearah istrinya untuk melihat bagaimana kondisinya pun terkejut melihat Bila yang sudah menjadi sandraan dari salah satu musuhnya.
Buagh...
__ADS_1
Sret ....
Avalon terperosok. Dia kembali lengah. Avalon menghiraukan Bila, dia kembali bergerak untuk mempertahankan dirinya.
"Avalon!" pekik Bila menahan nafasnya. Ujung pistol itu sudah berada di lehernya.
"Jika tidak ingin mari, maka ikut dengan ku, sekarang!" pria itu menyeret Bila.
Dor!..
Bila bernafas dengan kencang, dia menunduk dan melihat pria yang menyandra nya tadi sudah mati tergeletak dibawah tanah.
Namun, ada yang aneh sepertinya peluru itu berasal dari atas sana.
Bila mendongak. Dan melihat Adam yang tengah berdiri diata balkon dan Gina yang yang berdiri disamping Adam sambil membawa senapannya.
"DADDY, MOMMY, MINGGIR!" pekik Adam melemparkan sesuatu kebawah, tepatnya ditempat Avalon sedang melawan para penyerang itu.
Bila terkejut ketika tahu apa yang dilemparkan oleh Adam, dia berdiri kemudian berlari sekencang mungkin untuk menghindari ledakan itu. Benar, Adam melemparkan sebuah bom dari atas sana.
DUARRRR...
"AVALONNNN!!" pekik Bila terlempar sedikit akibat dahsyatnya getaran dari ledakan bom yang dilemparkan oleh Adam. Bom itu hanya memiliki jangkauan ledakan 10 meter, namun daya ledaknya sangat dahsyat.
Ed dan Bian terkejut melihat ledakan itu.
"AVAAA!!" pekik Bila sekali lagi, dia tidak melihat keberadaan sang suami.
Api sudah berkobar, melahap setiap orang yang terkena dari ledakan dan tidak dapat melarikan diri. Teriakan serentak terdengar. Para pasukan musuh sudah tewas sepenuhnya, karena ledakan itu. Meskipun daya ledakan nya yang terbilang sedikit. Namun Adam melemparkan bom itu tepat di kerumunan orang.
Dan, sampai saat ini, Avalon belum juga keluar dari dalam api itu. Bila menatap kobaran itu dengan getir. Apa sebentar ini?.
Tubuh Bila sudah terbalut dengan darahnya sendiri. Wajahnya sudah terluka karena goresan tanah ini.
Srett..
Srett ...
Brak...
"AVA!!"
__ADS_1