
Https://noveltoon.mobi/id/share/3350370
Atau bisa dicek di profil author yaa
[Cuplikan, (separuh dari episode satu)]
"Aku ingin pergi ke Surabaya" ujar seorang wanita yang tengah duduk dihalaman depan kafe.
"Bekerja?" tanya wanita yang lainnya menyahuti. Didepan halaman kafe itu, terdapat tiga orang yang yang berbeda jenis kelamin.
Wanita tadi mengangguk, "Aku ingin kaya" keluh wanita bernama Arabella itu. Wanita itu menyangga dagunya lemas, hidup digerbang kemiskinan membuatnya sangat muak, setiap hari dirinya harus bekerja banting tulang untuk bertahan hidup serta memeras otaknya untuk kuliah dan memikirkan setiap biaya yang terus melonjak.
"Aku dukung, bekerja lah hingga anak mu mengatakan hal ini," ujar wanita itu penuh semangat. "Al, apa kamu pernah mandi dengan gayung?" tanya wanita itu pada seorang bocah laki-laki disampingnya.
Bocah itu adalah anaknya. "Gayung?" bocah itu menatap kearah Sasa. "Gayung itu apa, mommy?" tanyanya tak paham.
__ADS_1
Arabella mendengus kesal. "Takdirmu saja yang beruntung, beruntung memiliki suami kaya seperti Aldi" ujar Arabella.
"Enak saja, aku mendapatkan Aldi dengan susah payah, dari kelas satu SMP hingga lulus kuliah baru diterima setelah lima tahun tidak bertemu" jelas Sasa.
Memang benar, selama ini—mulai dari kelas satu SMP hingga lulus kuliah, Sasa selalu mengejar cinta Aldi, bukan karena Aldi kaya, tapi entah kenapa Sasa hanya ingin Aldi, dan cinta itu memang buta, meskipun dirinya disakiti berkali-kali oleh Aldi melalui perkataan tajamnya, Sasa tetap terus dan tanpa lelah mengejar cinta Aldi.
Hingga tepat dihari kelulusan Aldi dan Sasa, Sasa berpamitan untuk melepas Aldi dan tidak mengejarnya lagi. Aldi jelas merasa senang. Lima tahun kemudian, disaat kondisi Sasa yang telah move on dari cinta Aldi, pria itu malah datang dan langsung melamar Sasa untuk dijadikannya istri.
Arabella sendiri yang menjadi saksi untuk itu. Dulu, dirinyalah yang selalu menemani Sasa menangisi Aldi setiap malamnya. Dan Arabella dan Sasa memiliki jarak usia delapan tahun, jarak yang sangat lumayan jauh. Meskipun dirinya dulu masih sangat kecil untuk menerima curhatan dari Sasa, dia tetap nekat untuk mendengarkannya, walau harus mengangguk meskipun tidak mengerti apa yang di ceritakan oleh Sasa.
"Gayung itu wadah air" jawab Sasa dan di angguk oleh anaknya.
"Jadi, kapan kau akan pergi?" tanya Sasa menyeruput teh hijaunya.
"Besok, pukul lima pagi hari" jawab Arabella membuat Sasa terkejut.
"Apa secepat itu?" tanya Sasa sedikit tidak rela jika Arabella akan pergi.
__ADS_1
Arabella mengangguk, "Jika tidak secepat itu maka aku tidak akan bisa makan" jawab Arabella mengatakan fakta.
Dirinya telah lulus sarjana dua dengan jerih payahnya sendiri, mulai dari menjadi penjual kue, ojek online, penjaga warung hingga tukang parkir telah dia lakukan. Dan setiap satu bulan sekali, Sasa pasti membantunya.
Jika Arabella menolak, Sasa akan menggunakan orang lai. untuk memberikannya bantuan. Jika bertanya tentang ayah dan ibunya maka Arabella tidak tahu dimana kedua orang itu, bahkan Arabella sendiri tidak tahu siapa mana kedua orang tuanya. Arabella adalah wanita panti asuhan.
"Memangnya kau kerja apa di sana?"
"Sesuai dengan jurusanku" jawab Arabella.
"Psikologi?"
Arabella mengangguk, "Kau memang aneh"
"Aneh kenapa?" Arabella menaikkan satu alisnya.
"Kesehatan mental orang lain diperhatikan sampai lupa dengan kesehatan mentalnya sendiri, " Arabella tersenyum kikuk. "Jika kau sudah menyembuhkan pasien, beberapa hari kemudian kau yang akan menjadi pasien" cerca Sasa yang sangat khawatir dengan sahabat masa kecilnya itu.
__ADS_1