
Prok...
Prok..
Prok...
Tepukan tangan itu menggema disela sela keheningan malam, kebisingan yang terjadi karena pekerjaan para pegawai tadi seketika terhenti karena suara tembakan yang sudah menewaskan satu orang rekan mereka.
Avalon membalik tubuhnya ketika mendengar suara tembakan itu berasal dari mana.
"Jumpa lagi, tuan Camora yang terhormat" ucap orang itu menundukkan badannya 90 derajat.
Avalon menatap datar. Sementara Bila terkejut dengan orang yang berada didepannya.
"Wiliam!" pekik Bila berlari menghampiri pria itu lalu melompat untuk memeluknya.
"Sedang apa kau, Bila?" tanya Wiliam mengelus rambut Bila lembut. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan wanita ini. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini.
"Kau yang sedang apa?" tanya Bila balik.
Dor!
"Sstttt"
"Turun, Angelina!" ujar Avalon menembak lengan Wiliam hingga membuat Bila terpaksa turun dari gendongan Wiliam.
"Apa maksudmu, Avalon!" pekik Bila melihat lengan berdarah Wiliam.
"Angelina, kembali!" ujar Avalon namun tak digubris oleh Bila. Wanita bertubuh kurus itu masih tetap fokus dengan lengan Wiliam.
"Apa kau tak ap— Sret.."
"Sial4n!" Bila mengumpat karena telah terjebak dengan permainan dari Ferguson. Seharusnya dia tahu bahwa Wiliam adalah musuhnya sekarang.
Sekarang, Bila tertawan, kedua lengan gadis itu ditahan oleh Wiliam, sementara Ferguson sudah menodongkan pisau ke leher Bila.
"Ternyata aku tidak perlu untuk membuang tenagaku secara berlebihan. Karena target langsung masuk perangkap tanpa adanya umpan" ujar Ferguson tertawa lepas. Dia akan mendapatkan Camora sebentar lagi, sebab, ia sudah menjadikan kelemahan Avalon tawanan.
__ADS_1
Keadaan yang dingin tadi seketika berubah menjadi panas. Avalon yang sudah mengetahui apa yang akan terjadi hanya menatap Bila tajam. Wanita itu hanya bisa diandalkan jika diatas ranjang, jika di kondisi seperti ini, sangat membebaninya.
Namun, masih menjadi pertanyaan dibenak Avalon, kenapa Bila sampai menghampiri Wiliam, apa istrinya itu kenal, jika iya maka Avalon beranggapan bahwa dunia itu sempit sekarang.
Bila hanya menghela nafasnya lelah, dia menutup mata untuk kemungkinan besar orang yang bisa menjadi musuh. Dan sebab kejadian kali ini, Bila mendapatkan pelajaran berupa;
‘Jangan percaya pada siapapun, meskipun siapapun itu adalah orang yang pernah membantumu dulu. Karena tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa, bisa jadi, siapapun itu akan menjadi musuhmu’
Seperti Wiliam, bila menutup mata untuk kemungkinan itu, tadi. Dan jika sudah seperti ini, Avalon yang akan dia bebani. SIALAN!.
Bila mencoba untuk bersikap tenang agar tidak semakin membuat Avalon kesusahan.
"Apa yang ku inginkan?" tanya Avalon tenang.
"Santai saja dulu, bagaimana jika kita berduel?. Hitung-hitung sebagai hiburan sebentar lagi kau akan berada di neraka bersama anak asli itu" kekeh Ferguson.
Avalon terdiam sebentar, dibelakang Ferguson dan Wiliam yang tidak lain dan tidak bukan adalah ketua dari kelompok Diamond. Terdapat banyak sekali anak buah mereka. Jika ia berduet tidak menutup kemungkinan untuk menang, meskipun seluruh tubuhnya pasti akan mendapatkan luka.
Sekertaris Li mencoba untuk bergerak namun tidak kelihatan bergerak, sekretaris Li takut jika ia bergerak akan mengakibatkan sang nyonya tertembak.
Avalon memejamkan matanya, dia mencoba untuk mencari sebuah cara dikala kondisi terhimpit sekarang. Avalon kembali membuka matanya, melihat Bila yang sudah mengode padanya.
"Khem, di dunia ini, tidak ada yang dapat kau percaya kecuali dirimu sendiri, namun terkadang dirimu sendiri yang menghkianati mu," deham Bila.
Wiliam mengangguk, "Dan ternyata, selama bertahun-tahun aku menjaga orang yang seharusnya aku bunuh" ujar Wiliam geram, dia merasa sangat ditipu ketika melihat Bila berada disisi Avalon. Yang sudah dapat dipastikan bahwa Bila adalah istri dari musuhnya.
Jika dibuatkan sebuah film, mungkin judul yang cocok untuk Wiliam adalah, ‘Aku melindungi orang yang seharusnya aku habisi’
Bila mengangguk, "Wiliam, apakah aku boleh bertanya?" tanya Bila dikala kondisi seperti ini. Apa wanita itu gila.
Hari yang sudah sangat gelap gulita dan keheningan yang menerpa merek semua membuat percakapan antara Bila dan Wilim begitu terdengar dengan jelasnya.
"Ada sebuah biyaya yang harus kau bayar" Wiliam mengalihkan pandangan pada Avalon, lalu tersenyum smirik.
Bila mengangguk, "Apa biyaya itu? Tapi aku akan bertanya terlebih dahulu. Apa kau yang membakar semua toko-toko ku?" tanyanya membuat Wiliam terkejut.
"Tidak, bukan aku"
__ADS_1
"Jujurlah, Wiliam"
"Demi nama Diamond, bukan aku. Sekarang waktunya kau membayar semua atas jawabanku"
"Apa?" tanya Bila sengit, dia mendengus tak suka karena bukan Wiliam yang membakar tokonya. Sekarang ia menyesal bertanya pada Wiliam jika jawaban yang dia inginkan tidak terucap dari mulut Wiliam.
Wiliam tersenyum miring menatap Avalon. "Sebuah ciuman panas seperti lima tahun yang lalu" ucapnya membuat Avalon tidak dapat lagi menahan raut marahnya.
"Baiklah," jawab Bila tanpa memikirkan lagi.
Bila bergerak, dia membalik badan ketika Wiliam merenggangkan cekalan dikedua lengannya, serta Ferguson yang menarik pistolnya.
"Aku rindu dengan bibir manismu" ujar Wiliam membelai wajah Bila lembut.
Bila mengangguk, dia memejamkan matanya lalu mencium bibir Wiliam dengan perasaan yang sangat ketakutan, takut dia dibunuh oleh suaminya, bukan oleh Wiliam maupun Ferguson.
Sontak hal itu membuat seluruh orang di sana terkejut, sejarah baru, dimana istri dari pemimpin Camora mencium pemimpin musuhnya.
Avalon menggeram marah, miliknya telah disentuh, dan tunggu saja pembalasan dari Avalon nantinya. Dan istrinya itu, apakah tidak ada cara lain untuk menjalankan sebuah rencana.
Wiliam mencium bibir Bila dengan ganas, bibir yang sangat manis nan tipis, berbeda dengan bibir istrinya. Dan bibir ini adalah bibir tercandu yang pernah Wiliam rasakan.
Seluruh pikirannya sudah hilang entah kemana, dia sekarang hanya fokus dengan satu, yaitu bibir Bila yang sangat manis.
Dor!
Dor!
"Habisi mereka!" seru Ferguson ketika dirinya tertembak oleh tangan Bila.
Diam diam, wanita itu menggeluarkan senjata api nya dari sisi kanan tangannya. Kemudian dengan cepat Bila menembak Ferguson kemudian Wiliam yang masih mencicipi bibirnya. Avalon yang sedari tadi melihat gerak gerik Bila menangkap kode lanjutan dari Bila pun langsung bergerak.
Pasukan yang diam diam dipanggil oleh sekertaris Li sudah bersiap dari jarak jauh untuk membidik kepala setiap anggota dari Ferguson.
Tidak ada pergerakan, membuat Ferguson menoleh dan matanya langsung membelalak. Seluruh anggotanya telah mati, dan kini ada laser panjang berwarna merah yang berada di dahinya.
Ferguson tidak bodoh, itu adalah laser dari senapan jarak jauh yang memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan kepala seseorang hanya dengan satu laki bidikan. Awm.
__ADS_1
Sementara Wiliam yang tertembak di bagian perut kanannya langsung tumbang. Karena di bagian itu terdapat ginjal yang mungkin sekarang sudah hancur karena ulah Bila.
"Aku sudah bilang, jangan mempercayai seseorang kecuali dirimu sendiri"