
"Kita tidak boleh membuang waktu lagi!" pekik Liam berbicara dengan seorang pria yang sudah sembuh dari lukanya. Pria itu tengah duduk dengan menyeruput kopinya di atas roft toop disebuah hotel berbintang di kota itu.
"Kenapa?" pria itu menyeruput kopinya lagi.
"Kelompok Camora memiliki senjata rahasia lagi, senjata yang katanya bisa menghabisi seseorang hanya dengan satu kali sentuhan" jelas Liam dengan menggebu-gebu.
"Dapat dari mana, berita itu?" tanya pria itu nampak mulai serius dengan pembicaraan kali ini.
"Anak buah ku ada yang menjadi seorang mata mata, di sana,"
"Dan apa kau tahu, apa senjata itu?"
Liam menggeleng, "Tidak, anak buahku belum mengetahui itu," Liam terdiam.
"Aku memiliki sebuah pancingan untuk menghabisi Avalon beserta kelompoknya" sambung nya dengan senyum yang merekah.
"Sebaiknya jangan terlalu gegabah" cegah pria itu. Dia tahu kondisi kelompok Camora sekarang. Camora bertambah kuat semenjak berada ditangan kepimpinan Avalon.
"Tapi kita tidak memiliki waktu lagi, mereka sudah berencana untuk menghabisi kita dalam jangka waktu satu bulan!" desak Liam mencoba untuk tidak membuang waktu lagi.
Dirinya ingin segera menghabisi anak sial4n itu. Bayang bayang anaknya dikuliti oleh Andrew kembali hadir, membuatnya ingin sekali membalaskan dendam itu secepatnya.
"Apa maksudmu?" tanya pria itu dengan nada rendahnya.
"Mata mata ku bilang, Camora mempersiapkan para anggotanya dalam kurun waktu 21 hari, dan 7 harinya untuk membalaskan dendam mereka ke kita dari kematian Bianca, dan Andrew. Dan ini adalah hari ketiga mereka menjalani latihan itu. Jika kita tidak bergerak secepat mungkin, maka Camora akan menjadi semakin kuat dan kita sedikit kesusahan untuk melawan mereka!" jelas Liam menggebu-gebu.
"Ap—" pria itu memberhentikan ucapan ketika melihat tangan Liam sudah terangkat, dia menekan sesuatu di telinganya.
"Apakah informasi itu valid kebenarannya?" tanyanya pada orang yang telah meneleponnya.
"...."
"Baiklah" Liam kembali menekan tombol di telinganya.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Avalon dan istrinya akan mengunjungi pelabuhan terbesar milik mereka, untuk melihat kondisi lapangan kerja mereka langsung" lapor Liam pada pria itu.
Pria itu mengangguk. "Jika kita membunuh orang kita langsung memenggal kepalanya apa yang terjadi?" tanya pria itu seakan mendapatkan sebuah ide cemerlang.
Liam terdiam, "Akan mati semuanya"
"Lalu, jika kita mencongkel matanya, apa yang terjadi?"
"Orang itu akan tersiksa, dan menderita, namun tidak akan mati"
"Baiklah, kau menyukai cara cepat tanpa adanya rasa sakit atau cara sedikit lamban namun sangat membuat menderita?"
"Maksudnya?"
__ADS_1
Pria itu hanya menggeleng sebagai jawaban. "Aku akan memilih opsi kedua"
"Siapkan beberapa anggotamu, nanti, dan kita membuat orang itu tidak memiliki kedua matanya"
"Aku ingin tahu siapa mata itu"
"Lihat saja, nanti"
***
Bila duduk dengan tenang sembari menunggu kedatangan Avalon, dia duduk dengan kedua sahabat dan istri dari sahabatnya itu.
"Woy!" pekik Bila setelah berdiam diri sedari tadi. Dia memanggil seorang pria yang sedang berdiri dipojok kanan ruang tamu ini.
Pria itu datang menghampiri Bila, "Iya nyonya?" tanyanya menunduk.
"Tidak apa, aku hanya ingin memanggil seseorang" jawab Bila tersenyum lebar. Pria itu mengangguk, kemudian kembali pada tempat awalnya.
"Sejak kau menikah, apa saja yang kau lakukan?" tanya Ed sambil memakan cemilannya.
"Makan, tidur, bermain dengan anak anak," Bila berpikir sejenak, "Sudah" Adam dan Lengkara sudah tertidur, karena jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Ed mengangguk, sementara sepasang suami istri didepan mereka tengah bercanda sendiri. Mereka duduk dengan Gina yang bersandar di dada Bian. Sepertinya mereka tidak memperdulikan lagi sekitar.
"Khem, dunia berasa milik berdua ya" ujar Ed melihat pasangan suami istri itu dengan tatapan sengitnya. Apa mereka tidak melihat jika ada jomblo yang sedang menatap mereka.
"Kenapa? Kau iri?" ejek Gina mengelus tangan Bian.
Sekarang Ed menyesal membahas ini. "Aku belum menemukan seseorang yang tepat"
"Aku, punya seseorang yang tepat untuk itu!" Bila melihat kearah Gina, lalu wanita itu mengedipkan sebelah kelopak matanya.
Gina mengangguk, dia tersenyum lebar. "Benar, sepertinya dia cocok untuk pria sepertimu!" sambung Gina.
"Siapa?" tanya Bian penasaran dengan pembahasan sang istri dengan sahabatnya ini.
"Rahasia!"
Ed menghela nafasnya jengah, "Bil, tokomu bagaimana?" tanya Ed seperti mengalihkan pembicaraan mereka.
Bila yang sudah tahu bahwa Ed sengit mengalihkan pembicaraan mereka pun terkekeh kecil. "Dia orangnya pendiam, cocok untukmu yang pecicilan" jawab Bila membuat Ed geram.
"Sudahlah, aku sudah muak dengan pembahasan ini. Dan untuk kalian," Ed menatap tajam Bila dan Gina bergantian.
"Apa?!" tantang Bila.
"BAJING4N!" pekiknya.
"Ke—"
__ADS_1
"Ayo pergi!" suara berat itu menginterupsi mereka berempat.
Avalon datang dengan pakaian serba hitamnya dan dibelakangnya ada sekertaris Li yang akhir akhir ini Bila tidak melihatnya.
"Dari mana saja, kau sekertaris Li, sudah lama tidak melihatmu?" tanya bila berdiri.
"Saya menyelesaikan pembersihan di negara anda, nyonya" jawab sekertaris Li membuat Bila mengangguk.
"Apa mereka akan ikut, Avalon?" tanya Bila menghampiri Avalon dan menunjuk kearah ketiga sahabatnya.
"Tidak, mereka tidak akan ikut" jawab Avalon membuat Ed dan Gina heboh.
"Tuhan memberkati mu, Nak!" pekik Ed berlari kencang untuk pergi ke kamarnya, dia ingin sekali tidur.
"PUJI TUHAN!! Aku akan bercinta lima ronde sekarang, ayo sayang!" Gina melompat ke gendongan Bian. Sepasang suami istri itu sudah lama tidak memadu kasih karena Avalon yang selalu ingin mempersulit hidup mereka.
"Gila" umpat Bila mendengar pekikan dari pasangan suami istri itu.
"Ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar untuk melihat sebuah pelabuhan!" pekik Bila melompat menaiki pundak Avalon.
"Turun Bil!" ujar Avalon.
"Tidak!" Bila menggeleng.
"Turun atau—"
"Atau aku akan gendong dipundak sekretaris Li!" ancam Bila membuat Avalon diam membiarkan Bila bergelantungan dipundaknya.
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
Bila turun dari mobilnya, sekarang dia sudah lengkap dengan baju serba hitamnya. Avalon memberikannya ijin untuk memakai celana, namun dengan syarat bukan celana ketat.
"Apakah ini pelabuhanmu?" tanya Bila membuat Avalon mengangguk.
"Pelabuhan ini pelabuhan bersi atau kotor?" tanya Bila menghampiri Avalon.
"Campur, saat siang akan menjadi milik perusahaan, namun saat malam, akan menjadi milik Camora" jawab Avalon.
"Silahkan, tuan, saya sudah mengkoordinasikan pada kepala pelabuhan ini untuk tidak membiarkan anak buah menyambut kedatangan tuan" lapor seketika Li.
"Apa kau sudah memastikan keamanannya, Li?"
"Sudah tuan!" jawab sekertaris Li yakin.
Mereka berjalan mengelilingi pelabuhan itu, mereka melihat para anggota kelompok Camora yang berkerja keras untuk memasukkan beribu-ribu kontainer kedalam kaal pengangkut.
Didalam kontainer itu, terdapat berjuta-juta ton obat obatan terlarang, mulai dari sabu, narkoba, bermacam-macam alkohol dan lainnya. Namun, obat-obatan itu ditutupi dengan berbagai macam buah-buahan segar yang juga siap untuk di eskpor ke negara lain.
"Isi apa itu, Av—"
__ADS_1
Dor!