
...~ Sebuah kenangan tercipta bukan hanya dengan kisah bahagia, namun terkadang kisah menyedihkan pun memiliki kenangan tersendiri.~...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Di sebuah ayunan yang tepat berada di depan hamparan kebun bunga tulip yang sangat indah, Bila duduk dengan memangku seorang balita kecil berjenis kelamin perempuan yang katanya berusia tiga tahun.
Kebun bunga tulip yang sangat luas, di ujung kebun bunga itu, terdapat sebuah danau yang tenang, Bila tidak terlalu terkejut dengan aset yang dimiliki oleh Avalon, begitu banyak, jika dilihat dari aset mansion dan kebun serta semuanya, kira kira memiliki luas 6 hektar.
Dan disamping itu, ada tembok yang melingkar, di luar tembok yang melingkar itu banyak pohon yang berjejer dengan sangat rapi, jika dilihat memang pohon itu di taman dengan sengaja, dan luasnya tidak termasuk dengan ditembok mansion itu. Karena, orang kaya berbeda dengannya yang memang orang sederhana. Hohoho.
Hari sudah mulai siang, namun belum juga ada tanda-tanda Adam untuk pulang dari sekolahnya. Bila suntuk, biasanya di jam seperti ini dia akan merangkai bunga untuk membuat buket pesanan pemesan.
Bila tadi keluar dari kamarnya, lalu melihat balita perempuan tengah berlari kearahnya dengan berteriak menyebutnya mommy.
Bila merasa dejavu kebeberapa tahun silam, saat Adam mengucapkan kata mommy untuk pertama kalinya.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya Bila memainkan rambut Lengkara yang sedang duduk di pangkuannya dan memeluk perutnya, menyembunyikan wajahnya diperut ratanya.
"Lalu Daddy membawa pulang Kara" lanjut Lengkara melanjutkan ceritanya. Gadis cantik itu tengah bercerita pengalamannya bertemu dengan wanita galak yang bekerja di kantor Avalon.
"Apa Kara menangis?" tanya Bila.
"Tidak, karena Daddy sudah memecatnya"
Bila mengangguk, apa seperti ini menjadi orang kaya yang sesungguhnya? sangat berkuasa dan seenaknya memecat karyawan hanya karena membentak sang anak?.
Bila sangat suntuk, semua telah dilayani, tidak ada celah untuknya bergerak sendiri.
Jika seperti ini, Bila akan sangat bosan berada disini, apalagi tidak adanya Adam yang biasanya akan berceloteh untuk membuatnya sekedar tersenyum, untungnya ada Lengkara, gadis cilik itu bisa sedikit membantu mengurangi rasa bosannya.
Omong-omong tentang Lengkara, Bila menjadi kepo dengan siapa ibu dan ayah dari balita ini, karena, Avalon kemarin mengatakan bahwa dia adalah yang pertama untuknya, namun, kenapa bisa Lengkara memanggil Avalon daddy? Apa Avalon berbohong, atau mengasuh seorang anak sepertinya. Entah, Bila tidak tahu.
"Mommy~" rengek Lengkara menghela nafasnya berat
"Kenapa, sayang?" memang dasarnya Bila sangat menyukai anak kecil meskipun kelakuannya seperti seorang pria, mudah akrab dengan anak kecil dan mampu membuat anak kecil itu nyaman berada di sekitarnya.
Karena, Bila tahu dimana harus meletakkan sikap aslinya. "Kara bosan" jawab Lengkara kembali menghela nafasnya.
__ADS_1
"Bosan?," Bila melihat ke sekeliling nya. "Bagaimana jika kita membuat sebuah buket untuk Kara?" sambung nya mempunyai sebuah ide.
"Buket itu apa?" tanyanya.
"Lengkara tidak tahu apa itu buket?" Bila sedikit terkejutnya.
Lengkara menggeleng, "Memangnya apa buket itu mom?"
"Buket itu bunga yang dirangkai" jawabnya.
"Bunga? Ayo kita buat!" Lengkara turun dari pangkuan Bila.
Bila berdiri, dia menoleh kebelakang, melihat kedua pelayan dan pengasuh Lengkara berdiri dengan menunduk. "Apa disini ada perlengkapan untuk membuat buket?" tanya Bila membuat kedua pelayan itu saling tatap, mereka tidak mengetahui hal itu. Tugas mereka hanya untuk sang tuan muda dan nyonyanya.
Bila paham, dia mengangguk. "Baiklah, aku akan mencarinya sendiri, kalian berdua jagalah Lengkara" ucapnya mulai berjalan, namun kembali terhenti dengan ucapan sang pelayan yang katanya pelayan pribadinya.
"Biarkan saya saja yang mengambilnya nyonya, anda silahkan duduk" ucapnya.
"Siapa namamu?" tanya Bila membalik badannya, melihat wanita muda yang mungkin umurnya di bawanya, dia lupa dengan nama perempuan didepannya, bukan, tetapi Bila belum mengingatnya, meskipun tadi pagi dia sudah dimandikan oleh Ana.
"Nama saya... Ana nyonya." jawab pelayan pribadinya itu, Bila sempat terkejut dengan perkenalannya dengan Ana tadi pagi, baru dua hari dia sudah memiliki pelayan pribadi, apalagi jika lama, mungkin dia akan mendapatkan mansion besar ini.
Hohoho.. Keserakahannya sudah mulai nampak.
Dia pergi dari hadapan Bila untuk mengambil perlengkapan membuat buket.
Bila menghampiri Lengkara, "Ayo kita mencabut bunganya" ucap Bila mengiring Lengkara ke tepi bunga tulip itu.
"Mommy, apa Daddy tidak marah jika bunganya dicabut?" tanya Lengkara polos.
Bila menoleh, "Apa Lengkara tidak pernah mencabut bunga ini?" Lengkara menggeleng.
"Tidak apa, nanti jika Daddy Lengkara mengamuk, kita cabut semua bunga ini bagaimana?" bukannya mencari sebuah penyelesaian, Bila malah mengusulkan sesuatu yang dapat menambah marah jika memang Avalon marah.
Lengkara mengangguk, "Ayo kita cabut mommy!!" pekik Lengkara menyentuh bunga tulip itu.
"Ayo!!!"
Ibu dan anak tanpa ikatan darah itu akhirnya memetik bunga tulip yang berwarna putih, dengan tawa yang menghiasi, ibu dan anak itu juga bermain, bersenda gurau dan bermain untuk mengisi waktu luang mereka.
Berlari, memutar, terjatuh dan tawa dapat dilihat dengan jelas oleh keempat mata yang memandangnya dengan senyum yang merekah. "Nona Lengkara tidak pernah sebahagia ini saat bermain denganku" ujar pengasuh Lengkara.
__ADS_1
"Nyonya akan merubah kondisi rumah yang hanya berjalan datar ini" sahut Ana yang membawa sekeranjang perlengkapan untuk membuat buket, seperti kertas, lem, pita, gunting dan lainnya.
"Apa kita akan mendengar kabar baik setelah ini"
"Iya!"
"ANAAAA!!! KEMARI!!" pekik Bila membuat acara berbicara itu selesai, Ana menghampiri nyonya dan nona muda nya yang sudah duduk dengan nona yang tidur dipangkuan sang nyonya. Mereka duduk di tengah tengah tanah yang kosong diantara tanaman bunga tulip itu.
"Mana perlengkapannya?"
"Ini nyonya" ujar Ana memberikan sekeranjang perlengkapan buket itu ke sang nyonya.
"Kamu disini dulu, tolong bantu aku membuatnya"
"Baik nyonya" Ana mengangguk semangat.
Ana mengambil sebuah kain lebar didalam keranjang itu, kain yang sengaja dia bawa untuk jaga-jaga dan sekarang sepertinya akan berguna, Ana membuka kain itu.
"Nyonya, sebaiknya anda duduk disini" ujar Ana.
Bila mengangguk, dia memindahkan diri dan Lengkara keatas kain yang sudah Ana persiapkan. Hari ini tidak ada matahari, sedikit mendung dan angin yang silir-silir.
"Bagaimana cara membuatnya, mommy?" tanya Lengkara memegang bunga tulip yang sudah dipetiknya. Dia membawa dengan batangnya.
"Begini" Bila membuat buket itu dengan mudah, karena kesehariannya dulu hanya membuat buket untuk pemesan.
Bila membuat dua bunga buket berukuran kecil dan besar, untuknya dan Lengkara.
"Wah, anda sangat hebat nyonya!" puji Ana berbinar.
"Sudah keahlian ku, Ana, aku dulu mempunyai toko bunga" jawabnya.
Ana kembali terkejut, apa benar yang diucapkan oleh sang nyonya ini, dilihat dari sikapnya, Ana mengira Bila tidak terlalu suka dengan bunga, karena sikap yang dimiliki oleh sang nyonya seperti wanita tomboi pada umumnya.
"Percayalah," ucap Bila membuat Ana tersenyum gugup.
"Sudah jadi!!" Lengkara bertepuk tangan, dia melihat dua buket berukuran besar dan kecil didepannya.
"Kau boleh pergi, Ana, tolong bawa ini ya" Ana mengangguk, dia pergi dengan membawa perlengkapan tadi.
"Mommy, bolehkan Lengkara mengambil uang besar?" tanya Lengkara.
__ADS_1
"Ambillah" Lengkara mengambil.
"MOMMYYYY!!!!"