Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Abai


__ADS_3

Bila menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia tiba-tiba merasa sangat mual melihat kepala Ferguson yang telah terputus dengan badannya. Kenapa itu sudah bersih dari bercak darah, hanya ada di pangkal leher. Tidak lupa dengan mulut yang menganga dan mata yang melotot.


Kepala yang menjadi bukti bahwa Adam telah membalaskan dendamnya.


"Buang, Adam! Huek..." Bila mengipasi wajahnya yang sudah mengeluarkan keringat, padahal cuaca malam ini sangat dingin.


"Mommy kenapa?" tanya Adam meletakkan kepala Ferguson itu diatas lantai, dia melepas sarung tangannya yang membalut dikedua tangannya.


Adam menghampiri Bila. Sementara Avalon menghampiri Bila dan langsung mengambil tubuh Lengkara yang tengah tertidur.


Bila menggeleng pelan, dia menyentuh lengan Avalon namun pria itu nampak menghindarinya.


"Ava" lirih Bila hendak berdiri namun tenaganya seperti habis, entah kenapa tiba-tiba dirinya tidak bisa untuk sekedar berdiri.


Avalon tak menghiraukan, tanpa sepatah katapun dirinya pergi berjalan meninggalkan Bila yang sekarang tengah dibantu oleh Adam untuk berdiri.


"Terimakasih, nak—"


Bruk...


Bila yang semula sudah berdiri tegap dengan tubuh Adam sebagai tumpuan kembali ambruk, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat penting.


"Mommy! Are you okay?" tanya Adam memeluk tubuh Bila, tangannya menepuk-nepuk punggung mommy nya agar sedikit merasa lebih tenang.


Bila mengangguk, nafasnya ngos-ngosan, dia mencoba untuk meredakannya.


"Mommy tidak apa, tolong bantu mommy, hmm?" Bila mengelus pipi Adam lembut. Bila merasa sangat beruntung memiliki anak seperti Adam. Anak yang sangat pengertian di segala kondisi hidupnya. Memang sejak awal, hanya Adam yang mampu mengerti keadaannya tanpa bertanya ia kenapa. Hanya Adam.


"Mommy duduk dulu untuk menenangkan tubuh mom—"


"Please, tolong mommy ya, sekarang mommy ada masalah dengan daddy kamu" ujar Bila menatap Adam dengan berkaca-kaca. Bila hanya berani menangis secara langsung dihadapan Adam untuk sekarang.


Adam terdiam sejenak. "Baik, Adam panggilkan om—"


"Tidak, tolong mommy. Kamu saja"

__ADS_1


Sebenarnya Bila tidak tega untuk melakukan hal ini kepada Adam, seharusnya dia sekarang duduk dengan tenang dan mendengarkan celotehan Adam dan melihat ekspresi anaknya disaat bercerita. Namun, dirinya harus bagaimana lagi, masalahnya dengan Avalon belum juga selesai.


"Baiklah, mari, mommy" Adam berdiri, dia membantu Bila untuk berdiri.


Bila menguatkan mati-matian tubuhnya untuk tetap berdiri, tubuh sial4n, kenapa disaat seperti ini dia sangat lemas dan tenaga hilang entah kemana.


Adam menuntun tubuh Bila ke lift dan membawanya turun kelantai tiga, tak lupa mengantarkannya didepan kamar Avalon dan Bila.


"Terimakasih dan maaf" ujar Bila sangat menyesal. Dia mengelus kepala Adam dengan lembut.


"Tidak apa" jawab Adam tersenyum lebar membuat Bila terkekeh kecil melihat itu.


"Sini, kiss dulu" Bila menundukkan badannya. Adam mengangguk antusias. Mau bagaimanapun kelakuannya diluar sana, yang terpenting didalam mansion dan dihadapan mommy nya, Adam adalah seorang anak kecil yang polos.


Adam mengecup pipi Bila, lalu beralih kehidung dan ke bibir sedikit pucat Bila.


"Sudah, kalau begitu, Adam tidur ya" ucap Bila. Adam mengangguk.


"Bye mommy, good night, dan selamat menyelami mimpi yang indah untuk mommy" ujar Adam berlari kedalam lift lagi. Dia ingin mengambil kepala yang tertinggal dilantai atas.


 Selain karena umur Adam yang masih delapan tahun berjalan dan benda yang dibawahnya adalah sebuah kepala manusia yang sangat tidak wajar dibawah oleh seorang anak kecil. Sebenarnya wajar untuk keturunan asli dunia bawah, namun Adam terlalu dini jika dilihat Adam baru menginjakkan kakinya di mansion ini.


Bila masuk kedalam kamarnya dengan tertatih-tatih, dia memandang seluruh ruangan ini dan mencari keberadaan sang suami yang sudah lama tidak dia temui.


Ceklek..


"Ava" Bila menoleh kearah sumber suara itu. Dan benar, Avalon keluar dari balik pintu close in walk atau walk in closed.


Avalon menatap Bila datar. Lalu kembali membuang pandangannya kearah lainnya. Berjalan menjauh dari Bila yang mematung saat dirinya dilewati oleh Avalon dengan gamblangnya, seakan dirinya tidak ada dihadapannya.


Bila tak putus asa, dia kembali berjalan dan menghampiri Avalon yang sekarang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang dan melipat lalu meletakkan lengannya diatas matanya.


"Ava," tak peduli lagi dengan rasa sakit yang berada di kepalanya, Bila duduk disamping tubuh Avalon, dia memegang pelan tangan sebelah kiri yang berada diatas perutnya. "Ava, ada apa?" tanya Bila pelan.


Mendengar tak ada jawaban kembali membuat Bila menghela nafasnya, apa mungkin Avalon sudah tertidur dan menjelajahi alam mimpinya? Namun, apa secepat itu?.

__ADS_1


"Ava, tolong, dengarlah!" ujar Bila mulai meninggikan suaranya, seperti suara yang biasanya ia keluarkan.


"Ava, aku tahu kau tidak tidur, duduklah, dan bica—"


Srett...


Brak..


"Ahhh..." Bila terjatuh dari atas ranjang karena dorongan dari dengan Avalon dan posisinya yang sangat rawan karena dirinya sedari tadi duduk setengah dari pantatnya.


"Ssstt, Ava, tolong aku" pinta Bila memegang kepalanya lagi, rasa pusing itu kian menyentak seluruh kepala Bila dengan kerasnya.


Avalon hanya diam dan melihat sembari tertawa kecil. Bila bukanlah wanita menye-menye seperti itu, kalau bukan bersandiwara lalu, apalagi?.


"Ava, kumohon~" lirih Bila lagi, dia sudah terduduk kali ini dengan berusaha dan mengeluarkan seluruh tenaganya. Berharap Avalon akan bersedia untuk sekedar mengangkat tubuhnya dan membawanya keatas ranjang.


"Ava~" Bila menangis melihat darah yang perahan keluar dari kaki Bila, dia menatap Avalon dengan tatapan sangat penuh harap. Berharap agar Avalon bersedia untuk membantunya. Meskipun kali ini saja, sungguh dia sudah tidak tahan, rasa sakit itu sudah menyebar, tidak hanya di kepala saja, melainkan dibagikan perut, pinggang dan ***********.


"Hiks.." Bila menangis, dia tidak bisa mengharapkan pertolongan dari Avalon sekarang, Avalon sama sekali tidak menggubrisnya.


Dengan perlahan namun pasti, Bila menyeret tubuhnya untuk menggapai samping ranjang, meskipun bercak darah yang menghiasi lantainya.


Bila menggapai ranjang itu dengan seluruh tenaga yang tersisa, dia sangat panik, khawatir sekaligus, ketika tahu bahwa darah itu keluar dari ***********. Ucapan dari Gina tentang anak itu kembali berseliweran di telinganya. Apa benar jika didalam perutnya ada seorang bayi yang tumbuh? Jika iya, maka tolong Bila kali ini, Tuhan.


Avalon menatap Bila dengan tatapan datarnya, dirinya tidak lagi berselera untuk sekedar membantu Bila mengingat perselingkuhannya dengan Ed dan perlakuannya seperti pelacur dengan Wiliam. Meskipun pria itu sudah mati sekarang.


Bila berhasil berdiri dengan usahanya sendiri, dia berdiri dengan kaki yang sangat bergetar hebat dan pandangannya sudah mulai kabur, "Avalon, tolong aku, dan jangan menyesal ka—"


Brukk...


Bila tidak kuat dengan rasa sakit itu, dia tumbang dengan amarah yang tersimpan untuk Avalon.


Avalon sedikit tersentak karena Bila kembali ambruk, namun kali ini dia nampak pingsan dengan darah yang mungkin adalah darah datang bulannya.


Avalon kembali merebahkan dirinya dengan santai, seakan tidak melihat istrinya pingsan diatas lantai dengan wajah yang sangat pucat.

__ADS_1


__ADS_2