
Tujuh tahun yang lalu,...
Seorang wanita dan pria tengah duduk di sebuah kamar dengan bayi yang berada di gendongan si wanita, bayi itu tidak mengenakan pakaian apapun, hanya kain panjang yang bercorak batik menjadi pembungkus bayi itu sekarang.
Mereka tengah berbincang bincang santai, mengisi waktu luang yang tidak pernah mereka dapatkan satu minggu terakhir karena kesibukan dari pria itu.
"Apa tato ini tidak berdampak pada tubuh anak kita, sayang?" tanya wanita itu melihat bayi berusia tiga bulan yang berada di gendongannya, bayi itu tengah menyusu padanya.
"Tidak, kita bahkan jauh jauh dari Los angeles ke negara orang hanya untuk membuat tato untuk anak kita" jawab nya mengelus rambut sang istri dengan kasih sayang.
Mereka tengah berada di negara yang terkenal kaya akan kebudayaannya, selain karena kebudayaannya, negara ini juga kaya akan sumber dayanya.
"Tapi, katamu kau ke negara orang untuk menyelesaikan masalah perusahaan mu, tap—"
"Sebenarnya ada masalah lain" pria itu menghela nafasnya.
"Masalah?" wanita bernama Bianca itu mendongak, dia menatap manik mata suaminya, dalam. "Kenapa tidak memberi tahu ku tentang masalah yang kau maksud Andrew?!" sambung wanita itu menekan setiap ucapannya.
Andrew menghela nafasnya, "Maafkan aku"
"Aku akan memaafkan mu ketika kau bercerita semuanya padaku"
"Anak kita di incar oleh kelompok Diamond" ujarnya.
Bianca diam, dia hanya mendengarkan, menunggu suaminya selesai berbicara, maka dia juga akan memberikan semua pendapat atau pertanyaan yang ada di pikirannya.
"Mereka bekerja sama dengan Arion untuk membunuh bayi kita" sambungnya, Andrew bisa melihat dengan jelas raut kekhawatiran yang terpampang di wajah sang istri.
Andrew mengelus pipi sang istri, "Tapi jangan khawatir, aku akan memastikan anak kita untuk tetap hidup untuk menduduki kursi Camora dan menguasai dunia" Andrew tersenyum membuat hati Bianca yang semula khawatir kini mulai menghangat.
Bianca percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan oleh sang suami, karena, dia tidak pernah mendapati sang suami tidak menepati janjinya, Andrew pasti akan menepati janjinya, sekalipun janji itu akan membunuhnya sendiri.
"Baiklah, aku memaafkan mu" Bianca menghela nafas, dia kembali melihat kearah bayinya yang membuka matanya.
"Mata kalian sama" ujar wanita itu.
Andrew hanya diam mendengar semua celotehan yang di lontarkan oleh sang istri, salah satu ha yang membuatnya menyukai sang istri adalah, wanita itu sangat cantik, selain karena kecantikannya, wanita itu mampu membuatnya merasa nyaman dalam sekejap, dan memiliki sifat yang sangat lembut serta pengertian yang sangat tinggi.
"Tapi, sebentar" Bianca menoleh, menatap suaminya dengan tajam.
"Kenapa, sayang, hmm?" tanya Andrew.
__ADS_1
"Katakan padaku dengan sangat jujur!"
"Mengatakan apa?"
"Kenapa kau mentato Adam, dia masih kecil!!" Bianca nampak sedikit marah, tadi, waktu pertama kali melihat tato di leher belakang Adam dia sangat khawatir, hingga hanya bertanya apakah tato itu aman untuk anaknya atau tidak.
Andrew tersenyum lembut, ia akui, bahwa istrinya ini sangat bodoh, dia begitu lama untuk menerima informasi atau cerita jika tidak di perjelas dengan sejelas jelasnya. Namun, ia merasa dia yang lebih bodoh di samping itu, karena bisa-bisanya dia seorang yang sangat cerdas hingga bisa di katakan genius mau menikahinya.
"Aku hanya membuat sebuah tanda" jawab nya santai.
"Tanda?"
"Iya, hanya sebuah tanda untuk membedakan antara yang asli atau tidak" Bianca mengerutkan keningnya, selalu seperti ini, suaminya senang sekali mengatakan kata kata yang menurutnya sangat ambigu, namun, jika di kemudian hari ada suatu masalah, pasti, kata kata suaminya itu tersambung dengan masalah itu.
Ibarat sebuah kata peringatan yang masih ramang-ramang.
"Ahhh, bicara dengan mu sangat susah selalu saja begitu, kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung?" gemas Bianca.
"Aku masih tidak yakin" sahutnya.
"Aku pusing, tahu"
"Jangan dipikirkan, sayang"
Dor!!
"Ahhhhkkk..."
"Ava!" Andrew sangat terkejut, dia menurunkan kewaspadaannya karena dia merasa sangat aman berada di dalam rumah ini, namun, sepertinya takdir baik tidak berpihak padanya, istrinya terkena peluru tepat di bagian jantungnya, Andrew yang melihat peluru yang menembus jantung sang istri langsung mengerti, jenis peluru apa itu.
Peluru itu adalah peluru dari sebuah senapan yang tidak menimbulkan bunyi ketika belum menyampai target, bahkan senapan canggih itu mampu menembus kaca tanpa mengeluarkan suara dan merusak kaca itu sekalipun.
Bianca yang menggendong anaknya langsung terjatuh, bayi Adam menangis dengan kencangnya.
Andrew merasakan akan ada serangan lain, dan teringat akan janjinya tadi, Andrew langsung mengambil tubuh Adam dari gendongan istrinya yang sudah tiada, yang sudah banyak terciprat darah dari darah Bianca.
Dia mencium pucuk rambut mayat istrinya sebelum berlari sembari dan menggendong Adam, ketika dia ingin membuka pintu kamarnya, pintu itu terlebih dulu terbuka oleh Avalon.
"Tuan, maafkan saya, rumah ini sudah dikepung oleh kelompok Diamond dan Arion, kita harus kabur, karena anggota kita semuanya sudah terbunuh" ujar Avalon berlari membuka sebuah pintu dibawah karpet.
Tidak ada alasan lagi untuk marah, Andrew melihat mayat sang istri, "Maafkan aku" ujar nya sebelum melompat ke ruangan bawah tanah yang tembus dengan sebuah perkampungan.
__ADS_1
Mereka berlari diiringi dengan suara tangis dari bayi Adam. Sesampainya di ujung lorong, dan Avalon hendak membuka pintu keluar, Andrew menghentikan pergerakannya.
"Tunggu sebentar, Ava," ucapnya.
"Ada apa tuan?"
"Tuliskan di kertas ini, permintaanku untuk menjaga Adam" sambungnya mengeluarkan sebuah kertas khusus yang ada tulisan khusus yang akan muncul ketika kertas itu terkena air. Andrew juga mengeluarkan sebuah pulpen.
"Kalau boleh saya tahu, ini untuk apa tuan?" tanya Avalon hati-hati.
"Aku akan menitipkan Adam pada seseorang" jawabnya.
"Makdu— apakah anda yakin tuan?"
"Kau harus percaya denganku, Ava,"
Avalon diam, dia hanya mengikuti semua yang di ucapkan oleh sang tuan.
Setelah menulis diatas kertas itu, Andrew dan Avalon keluar dengan Avalon yang pertama keluar dari lorong itu.
"Sepertinya sudah aman tuan" ujar Avalon berjalan santai.
"Ini seperti yang kau pikirkan, Ava," sahut Andrew.
Dor!
"Sstt..."
"Sial4n!" umpat Avalon mengeluarkan pistol dari kantungnya.
"Tuan, anda harus segera pergi, aku akan mengamankan ini"
"Jangan sampai mati"
"Biaik!"
Avalon berlari dengan keadaan menahan rasa sakit akibat sebuah peluru menembus lengannya, lalu, dia melihat sebuah rumah yang menurutnya sangat sederhana dengan halaman yang indah.
Andrew hanya mengikuti instingnya sebagai seorang ayah, ia mendatangi itu, mengetuknya lalu memberikan Adam ke seorang wanita yang sepertinya seorang perawan.
Lalu, dengan cepat dia menutup pintu itu, menjatuhkan kertas yang di tulis nya tadi dan berlari meninggalkan rumah itu. Rumah yang menurutnya mampu membesarkan anaknya.
__ADS_1
Andrew yakin.