Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Jatah?


__ADS_3

Bila kembali menghela nafasnya kasar, seharian penuh dia hanya terduduk diam di kamarnya. Bila turun, sudah waktunya untuk makan malam.


Wanita beranak dua tanpa melahirkan itu akhirnya turun kelantai dia untuk melakukan makan malam. Dengan gaun berwarna biru muda dan sepatu hak tinggi Bila melangkah dengan sangat anggun.


Setelah kurang lebih tiga bulan dilatih Avalon secara langsung bagaimana aturan dan ketentuan wanita dalam keluarga konglomerat.


Matanya menyapu disuruh ruang makan ini, hanya terdapat Lengkara dan para sahabatnya. "Apa kalian tidak melihat Avalon ataupun Adam?" tanya Bila pada semua orang. Pasalnya dia seharian tidak melihat kedua pria yang berarti itu.


"Avalon tengah mengantarkan Adam ke markas" jawab Ed menyahuti.


"Untuk apa?" tanya Bila penuh dengan keingintahuan.


"Apa kau tidak diberitahukan oleh suamimu?" sahut Gina.


Bila menggeleng, Avalon tidak pernah mengatakan satupun tentang Adam.


"Adam akan dilatih oleh pasukan khusus" jawab Bian.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Maksudnya?" sahut Bian.


"Maksudnya, kenapa Adam harus berlatih?"


"Untuk mempercepat membalaskan dendam kedua orangtuanya,"


Bila hanya mengangguk, setidaknya informasi ini sudah cukup dengan langkah apa yang selanjutnya Bila lakukan.


Bila terduduk, ruangan itu mulai sepi karena makan malam sudah dimulai. Bila memakan sambil memutar otaknya. Kenapa sikap Avalon berubah dalam sekejap mata. Mulai dari kemarin, saat Bila ikut dengan Avalon kepelabuhanan. Avalon tidak berbicara lagi dengannya. Jangankan berbicara bertemu saja dia belum. Apa Avalon sengaja menghindarinya?.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Tengah malam.


Ceklek...


Bila terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. "Avalon" ucapnya mengucek matanya.

__ADS_1


Bila turun dari ranjangnya, dia menghampiri Avalon. Sudah lama sejak dirinya makan malam menunggu kedatangan suaminya untuk menanyakan semuanya.


"Avalon" ujar Bila menghampiri Avalon, tangannya dia rentangkan untuk memeluk tubuh gagah sang suami, namun pria itu malam menghindari rentangan tangan Bila.


Bila terdiam, hatinya sudah mulai ngilu, meskipun sedikit. "Avalon!" Bila berbalik badan, dia tidak boleh menjadi seorang wanita yang lemah.


Bila mencekal lengan Avalon, namun penolakan yang menjadi respon dari suaminya, itu.


"Avalon!" Bila tak menyerah, jika seperti ini sudah dipastikan bahwa Avalon sedang marah ataupun ia memiliki salah namun tidak dia ketahui. Tapi, Bila merasa jika dia tidak melakukan apapun yang mampu membuat Avalon marah.


Avalon yang ingin masuk kedalam kamar mandi untuk mandi pun menghela nafasnya kasar. Ia menatap Bila dengan tajam dan tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Avalon, kau kenapa? apa kau memiliki masalah? atau aku membuat kesalahan tanpa aku sadari?" tanya Bila menatap mata tajam Avalon. Dia tak gentar untuk mendapatkan sebuah jawaban.


Avalon tersenyum miring. Heh apa katanya, apakah wanita di depannya ini tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya kemarin serta tadi. Avalon marah, miliknya telah disentuh oleh lelaki lain. Namun hati kecilnya berkata bahwa dia cemburu. Tapi Avalon menolak kata itu. Dia tidak kan pernah lagi sekedar membuka pintu hatinya. Baginya, pernikahannya hanya sekedar saling membutuhkan.


Apa apaan ini, Avalon seperti seorang bocah ingusan yang sangat labil dalam hal percintaan.


Tak ada jawaban, Bila memeras pelan tangan Avalon. "Ava, jawab aku!" seru Bila.


Avalon menghempaskan tangan Bila, lalu beranjak dari hadapan Bila dan keluar dari kamarnya. Niatnya untuk mandi Avalon urungkan.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Tiga hari berlalu.


Bila mengetuk pintu kamar Gina dengan kencang.


"Gina! Gina! Buka pintunya!" pekik Bila.


Ceklek..


"Ada apa?" tanya Gina keluar dengan raut wajah sebal. Dirinya hendak memuaskan hasratnya setelah dua hari dia malam sang suami pergi dengan Avalon untuk membalaskan sebuah dendam bersama dengan Adam.


Entahlah Gina tidak habis pikir dengan pikiran ajaib suami dari sahabatnya itu. Avalon membawa Adam dengan Ed dan Bian sebagai penjaga agar Adam tidak terluka dalam menghancurkan bisnis gelap maupun bersih milik Wiliam dan Ferguson.


Katanya Bian, Avalon membawa Adam untuk melatih kemampuan bocah berusia tujuh tahun lebih itu. Dan yang membuat Gina tak habis pikir, yaitu, kenapa Avalon membawa Adam latihan menembak langsung pada manusia, yang berarti Adam secara tidak langsung latihan membunuh orang. Sekaligus membalaskan dendam sesuai dengan syarat yang telah ditentukan oleh tuan besarnya. Yaitu Adam yang boleh membunuh Ferguson.

__ADS_1


Bila menarik tangan Gina agar duduk disebuah sofa yang berada di ruangan terbuka samping kamar Gina. "Ada apa, Bila?!"


Bila meringis, "Apa kau tahu, dimana Adam dan Avalon, aku tidak pernah mendengar tentang mereka tiga hari terakhir" ujar Bila membuat Gina mengerutkan keningnya.


"Apa kau tidak tidak tahu?" tanya Gina balik.


"Tahu apa?" Bila diam, tiga hari terakhir ini dirinya selalu berada didalam kamarnya. Bila hanya diam sembari menunggu kedatangan Avalon terakhir sejak malam itu. Bila akhir-akhir ini juga sedikit lebih sensitif. Sering menangis tiba-tiba ingin marah dan pusing selalu melanda kepalanya. Dan orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya tidak kunjung pulang.


Adam sudah satu Minggu tidak pulang, dan Avalon juga. Dia tidak mendapatkan kabar apapun dari Ana. Dan tadi pagi, ketika Avalon pulang dmn hanya mandi lalu berganti baju dan kembali pergi, Bila ingin bertanya secara langsung pada Avalon, Avalon malah seperti menghindarinya. Sama seperti tiga hari yang lalu.


"Coba kau ceritakan padaku semuanya" ujar Bila seperti mencari semua kejelasan.


Gina yang ingin secepatnya mencari kenikmatan yang sempat tertunda akhirnya pun menceritakan semua yang di ketahui dari suaminya tadi.


Bila mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Apa Avalon melakukan hal ini karena ingin mengabulkan keinginannya agar cepat menghabisi Ferguson dan Wiliam?. Namun jika memang iya, disini Adam yang menjadi korban dari itu semua.


Adam masih kecil, bahkan dia tidak mengetahui apapun kini perlahan Avalon perkenalan dengan dunia aslinya. Namun tak apa, Bila juga pernah berpikir dalam sudut pandang Avalon. Adam harus diperkenalkan dengan dunianya yang asli agar tidak terlalu kaget dan bisa bersiap untuk menjadi pemimpin asli di keluarga ini.


Namun yang Bila tak mengerti sekarang adalah, kenapa Avalon menghindarinya dan tidak menceritakan apapun padanya. Biasanya Avalon akan bercerita meskipun hanya judulnya saja.


"Ada masalah apa kau dengan Avalon?" tanya Gina yang mengetahui mimik wajah Bila yang tidak semangat seperti biasanya. Dan akhir-akhir ini, Bila juga sering menyendiri. Tidak seperti kepribadiannya waktu masih belum menikah dulu.


"Avalon seperti menghindari ku" ujar Bila pada akhirnya.


"Kenapa?" Gina nampak terkejut dengan tuturan itu.


"Entah," Bila menggedikkan bahunya, "Aku harus bagaimana, Gina?"


"Apa kau tidak berbuat apapun yang dilarang oleh Avalon?"


Bila menggeleng, "Tidak"


"Apa kau membuat sebuah kesalahan?"


Bila kembali menggeleng.


Gina terdiam sebentar, "AKU TAHU," pekik Gina. Bila menoleh. "Apa?"

__ADS_1


"Mungkin Avalon tidak pernah kau kasih jatah ya?"


__ADS_2