Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
101


__ADS_3

"Sayang?!" ujar Avalon mendengar suara sang istri— mantan istri yang masih melekat di ingatannya.


Wanita itu tersenyum miring, dia melangkah dengan tegap dan santai kearah meja. "Maafkan saya, tuan?" wanita itu tersenyum tipis dan menggeleng akan ucapan dari pria didepannya yang tidak masuk di akalnya.


Avalon menatap wajah wanita itu dengan wajah yang sangat merindukan, wajah yang tidak pernah seorang pun melihat ekspresi dari wajah dinginnya.


"Khem.. apakah saya boleh duduk, tuan?" tanya wanita itu membuyarkan lamunan Avalon.


Avalon mengangguk, dia berdiri, "Silahkan, duduk, sayang~" ujar Avalon pada wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu.


Benar, wanita itu adalah Bila. Mantan istrinya.


"Maaf?" Bila tidak duduk, dia malah mengerutkan keningnya seakan bertanya ada Avalon.

__ADS_1


"Maaf tuan, kenapa anda memanggil anda dengan sebutan 'sayang?' bukankah panggilan itu hanya untuk seorang yang dicintai. Dan kenapa anda memanggil saya dengan sebutan itu?"


Avalon terdiam, dia sangat melihat ketegasan di wajah yang dulu setiap malamnya selalu memasang wajah tengilnya.


"Maaf," ujar Avalon menggelengkan kepalanya, kemudian dia duduk kembali dengan Bila yang juga sama duduknya. Avalon baru ingat, ikatan diantara mereka telah habis tak tersisa.


"Tidak apa, mungkin anda merindukan kekasih anda, tapi jangan diulangi lagi, ya, takutnya suamiku mendengar dan menyangka hal yang buruk" jawab Bila dengan menekan kata suami didalam kalimatnya.


Avalon terkejut, ekspresinya bahkan tidak dapat disembunyikan. Apa Bila sudah menikah lagi, dan apakah wanita itu sudah menemukan kebahagiaan yang dicarinya dulu? Jika iya maka Avalon akan tersenyum miris di belakang Bila karena wanita yang ditunggunya sudah menemukan kebahagiaan yang tidak dia dapatkan ketika bersamanya dulu.


"Baik, tidak apa," jawab Bila tersenyum tipis namun senyum itu tetap memiliki wibawa yang sangat kental. Wibawa seorang pengusaha.


"Baik, saya sebagai pemimpin dari perusahaan Camma mengucapkan banyak sekali terimakasih untuk menginvestasikan dan mempercayai kami"

__ADS_1


Bila mengangguk, dia melihat Avalon dengan tatapan penuh tegasnya, namun siapa sangka, didalam hatinya yang terdalam, Bila sangat merindukan pria didepannya ini bahkan ingin sekali Bila memeluknya dengan seerat mungkin.


Dan ketika dirinya mendengar Avalon menyebutnya dengan panggilan yang sangat membuatnya melayang, dulu. Bila menjadi dejavu sendiri. Ingatannya seakan kembali pada masa itu.


"Saya yang harus berterimakasih terhadap kepandaian dan kepiawaian anda dalam membangun kembali perusahaan dengan modal yang seadanya, dan," Bila menoleh ke kanan dan kiri dengan cara yang sangat anggun.


Dan membuat Avalon tertegun, dia semakin yakin bahwa Bila telah menikah dengan konglomerat, terbukti dengan caranya berbicara, berperilaku dan tersenyum sangat anggun dan menawan. Dan itu adalah salah satu ciri wanita berkelas.


Jika memang dulu Bila ia bebaskan— tidak terlalu mengekang Bila dalam keanggunan, maka sekarang dia melihat sebaliknya.


Bahkan rambut yang selalu pendek dan terurai kini sudah tersanggul dengan sangat apiknya dikepala Bila.


"Apakah tidak ada investor selain saya?" tanya Bila membuat Avalon menggeleng.

__ADS_1


"Uang yang anda investasikan sudah sangat cukup untuk membangun kembali perusahaan Camma," jawab Avalon.


"Baik, saya cukup tersanjung, karena saya sepertinya satu-satunya orang— maaf, suami saya adalah satu-satunya orang yang menginvestasikan uangnya pada perusahaan anda. Dan ya, meskipun suami saya tidak memiliki perusahaan seperti anda" ujar Bila kembali tersenyum.


__ADS_2