Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Titik masalah


__ADS_3

"Sial4n, ada yang mengikuti kita!" umpat Bila melihat ada sebuah mobil yang mengikuti mobil mereka.


"Dia adalah orang yang harus membuat ku membalaskan dendamnya" ujar Avalon melirik sekilas orang yang menyopir mobil yang mengikutinya.


Bila menoleh, "Apa maksudmu?" tanya Bila.


Pesta sudah belum selesai, karena telepon dari Adam yang merengek ingin tidur dan ditemani oleh Bila, akhirnya mereka meminta izin pulang. Namun ketika dalam perjalanan, Bila terkejut karena ada yang mengikuti mobil mereka sedari tadi.


"Dia yang telah membunuh tuan besar"


"Apa!" Bila melotot, dia mengamati mobil itu dengan lekat. "Tapi, dari mana kau tahu bahwa itu adalah mobil dari orang yang telah membunuh tuan besar mu?" tanya Bila ada yang janggal dari ucapan Avalon.


"Aku memakai kaca mata tembus pandang" ujar Avalon melepas kaca mata hitamnya dan memberikannya pada Bila.


Bila mengangguk, dia mengambil kaca mata itu dan langsung memakainya karena sangat penasaran. Bila menoleh kearah belakang. Dapat Bila lihat dengan jelas, semua benda yang berbahan logam, besi, dan bahan keras lainnya akan menghilang— tidak terlihat, hanya yang dia lihat adalah, orang dengan wajah yang sangat jelas.


"Kaca mata yang sangat bagus" ujar Bila mengeluarkan belatinya, "Jangan lakukan hal itu!" peringat Avalon yang melihat pergerakan Bila.


"Memangnya kenapa?" Bila memasukkan kembali belati itu kedalam dompetnya dan melepas kaca matanya.


"Resiko, mereka tidak bisa diremehkan," ujar Avalon menginjak pedal gasnya agar mobil yang ditumpangi mereka lebih cepat berjalan.


"Tap— Ckittt....." Avalon mengerem dadak karena ad orang yang tiba tiba berdiri didepan mobilnya.


"Sial4n!" umpat Avalon terkejut, untung rem dan kecepatan injakan sangat tinggi dan begitu cepat sehingga dapat dengan


"Sial4n, apa dia ingin mati?!" pekik Bila marah.


"Ayo turun" ujar Avalon melepas sabuk pengaman dari pundaknya, kemudian turun dan harus menghadapi para orang gila itu.


Avalon ingin membalaskan dendam ini secepatnya, sudah lima tahun sejak kematian sang tuan besar, sudah banyak anggota dan sudah banyak yang berkorban untuk membalaskan dendam itu, namun sampai saat ini ia belum juga bisa membalaskan dendam itu.


"Lama tak bertemu, tuan Camora yang terhormat" sapa pria itu terkekeh. Ia bersandar pada cap mobilnya. Pria itu keluar sendiri, tanpa adanya pengawal yang turun. Padahal pria itu membawa pengawal berjumlah lima orang.


"Kenapa kau tidak mati mati?" tanya Avalon geram melihat betapa santainya pria bernama Ferguson itu. Pria tua berusia 40 tahun yang sampai saat ini masih mengincar nyawanya untuk mengambil haknya.

__ADS_1


"Ets, santai, aku hanya ingin mengambil hak ku, jika kau menyerahkan Camora padaku, maka aku akan membiarkanmu hidup" ujar Ferguson.


"Jangan berharap, karena sudah aku bilang berkali-kali, aku tidak akan melepaskan Camora untuk pria biadab seperti mu!"


Srett...


Srett...


"Wah, sepertinya kau memiliki rekan baru, tapi itu tidak adil bagiku~" ucap Ferguson melihat tangannya yang sudah berdarah karena lemparan belati dari Bila.


Avalon menghindari belati itu, tidak ada niatan untuk membalasnya, tetapi, saat Avalon mengetahui bahwa Bila telah membalas Ferguson, dia sedikit terkejut namun tak apa.


Bila berjalan maju mendekati Avalon. "Kenapa kau diam saja bajing4n!" geram Bila berjinjit kemudian memukul kepala belakang Avalon.


Avalon mengelus kepala belakangnya sembari meringis kecil, Bila memukulnya menggunakan tenaga dalam.


"Hei Salsa!" sapa pria itu melihat wajah Bila lalu melihat luka yang berada ditangannya.


"Ap—" Bila terdiam, dia teringat sesuatu ketika melihat manik mata milik pria didepannya. Bila menatap tajam pria itu.


Bila menoleh, "Ava—"


"Dia adalah masalah utamanya, Salsa" jelas Avalon tanpa Bila harus bertanya.


"Kenapa kau tidak langsung membunuhnya?" tanya Bila membuat sebuah tawa dari seorang pria terdengar begitu nyaring ditelinga mereka.


"Apa kau berniat membunuhku, nyonya?" tanya Ferguson menyahuti perkataan Bila.


"Tidak semuda itu!" sambungnya kembali tertawa.


Bila hanya diam, dia harus bertanya pada Avalon secara rinci tentang hal ini. "Apa yang kau mau, aku harus pulang, sekarang?!" tanya Bila langsung pada intinya. Dia harus tahu akar permasalahannya terlebih dahulu sebelum menyerang pria yang tidak ia ketahui namanya itu.


"Bagaimana jika kita bermain sebentar? Tiga puluh menit saja untuk satu kali pelepasan ny—"


Buaghh....

__ADS_1


Bila menendang mulut bau itu dengan kaki yang masih terbalut dengan heelsnya. Dia geram, memangnya dia wanita apa yang mau diajak bercinta oleh pria gila itu. Hey , dia memiliki suami, bahkan sang suami berada disampingnya. Jarak antara dirinya dengan pria gila itu tidak begitu jauh, dan itu membuat mempermudah pekerjaan Bila untuk memberikan pelajaran pada pria gila itu.


"Sstt, Kau suka kasar ya?" tanya Ferguson menyentuhnya wajahnya uang sudah membiru dengan darah yang menghiasi kebiruan itu.


"Memangnya berapa panjang burung mu? Dan diameternya?" tanya Bila mengejek. Bila melihat wajah pria itu merah padam hingga sampai ke telinga dan lehernya.


Avalon hanya diam, biarkan kali ini Bila yang bertindak dengan kata kata pedas serta otak ajaibnya dan kecepatannya dalam bertindak. Lagipula, Ferguson adalah seorang pria yang gampang terpancing emosi.


"Sial4n kau j4lang!" umpat Ferguson merasa terhina, sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan hal memalukan seperti ini. Di hina, apalagi tentang harga dirinya sebagai seorang pria tulen.


"Kau memanggilku ***4*** karena kau ditolak olehku kan?" tanya Bila, "Berapa sih diameter dan panjang milikmu?" sambung Bila mengejek.


"20 cm dengan diameter 3 cm!" pekik Ferguson kesal sekaligus marah.


"Pftt.... Hahahah!! Avalon dia seperti menghinaku, milik mu saja memiliki panjang 25 dengan diameter 5cm, bagaimana bisa dia memuaskan ku?!" Bila tertawa, sambil memukul-mukul pundak Avalon.


Bila tahu apa yang harus dilakukan pad orang yang emosinya gampang dipancing.


Namun, sedetik kemudian dia mengeluarkan pistol dari dompetnya dan menembakkan pistol itu kearah depan.


Dor!


Ctas..


Prank...


Dua peluru saling bersentuhan dengan jarak yang sangat dekat dengan dada Bila. Peluru itu menancap satu sama lain, lalu terjatuh dengan percikan api yang membakar kedua peluru itu.


"Aku suka kewaspadaanmu, nyonya!"


Dor!


Dor!


Dor!

__ADS_1


"Satu kosong!"


__ADS_2