Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Mommy, jangan marah!


__ADS_3

"Seperti nya kita harus memiliki mobil sendiri Ed" ujar Bila melihat hujan dengan malas, mereka semua sekarang tengah berada di depan pintu rumah sakit dengan Bian yang menggendong Adam di depan tubuhnya.


Omong-omong soal Adam, balita kecil itu sudah sembuh setelah dua Minggu penuh di rawat dan tidak bertemu secara langsung dengan ketiga orang yang mengasuh dia.


Adam bisa bertemu dengan ketiga orang yang mengasuh dirinya, hanya saja terhalang oleh kaca pembatas.


Dan soal bekerja, mereka tetap bekerja, setiap hari pasti mereka akan bergantian menjaga Adam meskipun hanya di ruangan di dalam ruangan Adam yang terhalang oleh kaca.


Sementara Ed yang membawa perlengkapan Adam selama dua Minggu di rawat di rumah sakit. Bila? jangan di tanya, dia ratu. Dia hanya membawa badan.


"Mobil? Kau bercanda? Uang hasil penjualan bunga saja cukup untuk gaji kita Bil" jawab Ed memikirkan gaji nya. Meskipun lebih seratus dari UMR di tempat mereka.


"Makanya, bangun toko lagi di Surabaya" saran Bila mengotak-atik ponsel nya untuk mencari taxi online. Tak mungkin jika mereka pulang dengan menggunakan sepeda motor.


"Punya uang berapa kamu ha?"


"Enam puluh juta, kurang?"


"Kurang Bil, buat toko, sama tanah nya saja minimal seratus juta" sahut Bian.


"Kalau begitu, atur saja balapan" ujar Bila memasukkan ponselnya ke kantong celana nya.


"Comeback?" Ed tersenyum lebar ketika mendengar ucapan itu dari Bila. Sudah setahun terakhir ketika Bila terakhir balapan dulu.


Bila tidak mau lagi balapan. Alasan nya karena ingin menjaga Adam, selain itu, Bila seperti nya enggan bertemu dengan mantan kekasih nya yang mungkin akan melihat nya.


"Tapi aku malas, bagaimana jika kita merampok?" tanya Bila mengingat bagaimana dulu.


"Seperti dulu heh?!" tanya Bian mengingat perampokan yang mereka bertiga lakukan dulu ketika mereka ingin membeli motor untuk balapan pertama kali nya.


Dan kejadian itu sudah berlalu ketika mereka masih sekolah menengah atas kelas sebelas.


"Bagaimana, saat nya kita kembali pada dunia asal kita"


"Adam, bagaimana?" tanya Ed seakan setuju dengan usulan yang Bila cetuskan.


"Tapi, apa tidak resiko?" tanya Bian menimang-nimang keputusan nya.


Bila mengedikkan bahu nya, semuanya diam. Tak lama sebuah taxi datang di hadapan mereka. "Ayo masuk, nanti kita bahas lagi"

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Omyy!"


"Mo-mmy Dam!"


"Omy!"


"Ikuti kata mommy!"


"Mo"


"Mo"


"My"


"My"


"Mommy"


"Omy"


Bila kembali mengacak rambutnya kasar. Sudah dari tadi dia mengajari Adam untuk berbicara menyebut namanya dengan benar. Bila bosan, tidak ada pekerjaan sekarang, tokonya tutup, sementara kedua sahabat nya tengah mencari makanan di luar.


"Mommy Dam!" tekan nya. "Mo-mmy" sambung nya.


"Omy"


"Emomo, mo, my imi my, mommy!" eja nya kesal, dia melototi Adam kesal.


"Mommy, jangan marah" ujar Adam tersenyum ketika melihat mommy nya kesal.


"AAAAAA," jerit Bila melotot. sungguh? Anak nya sudah bisa mengatakan kata itu? Anak yang dia asuh satu tahun lebih itu sudah bisa mengatakan kalimat dengan jelas dan sangat jelas?.


'Mommy, jangan marah' kata itu akan Bila simpan, Bila akan menyimpan nya di dalam hati kecilnya. Jika nanti Adam sudah dewasa dia akan mengingatkan kata itu.


Dan jika Adam di jemput oleh kedua orang tuanya, Bila akan mengingat Adam dengan kata itu.


Karena, waktu itu sebuah misteri, tidak ada yang mengetahui ke mana pergi nya waktu nanti.

__ADS_1


"Ucapkan sekali lagi!" pinta Bila, dia sangat bahagia ketika mendengar kalimat yang terucap oleh bibir Adam untuknya. hanya untuk nya.


Karena, dulu, ketika Adam bicara pertama kali, Adam berbicara dengan Ed, bukan dia.


"Mommy, jangan marah" Adam mengulang kembali perkataannya.


Bila berjingkrak senang, dia memeluk tubuh Adam erat-erat. Sangat erat, sungguh dirinya sangat bahagia.


"Kamu hebat nak," puji Bila mengecup wajah Adam, mulai dari pipi, bibir, dahi, hidung. Seluruh permukaan di wajah Adam Bila cium semuanya, tak terkecuali.


"Hahahaha" tawa Adam menggelegar.


"Iya, nak mommy bat!" ujar Adam tertawa, dia memegang kedua pipi Bila dengan kedua tangannya.


"Mommy Adam uga bat!" puji nya mencium seluruh permukaan wajah Bila, seperti Bila mencium seluruh wajah nya tadi.


"Hahaha" kedua anak dan ibu itu tertawa bahagia.


"Hohoho, seperti nya aku ketinggalan sesuatu" ujar seorang masuk kedalam ruang tengah Bila sembari meletakkan bungus kresek di meja kecil di ujung sana. Bian mengikuti.


Bila dan Adam menoleh, "Dia siapa Dam?" tanya Bila.


"etan!" (setan!)


"Hei, bocil ajaib!" mata Ed melebar ketika mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Adam. Bayi—eh bukan, balita ajaib itu mengatainya. Ed tahu yang di ucapkan oleh Adam.


"Mommy!" pekiknya bersembunyi di pelukan Bila.


"Salah sendiri mengajari Adam seperti itu!" hidup di lingkungan yang toxic membuat Bila sedikit khawatir dengan sikap Adam nanti.


"Jangan bicara seperti itu lagi ya" pinta Bila membuat Adam mengangguk.


Bila tidak munafik, dia adalah seorang berandalan, tapi dia tidak ingin anak nya menjadi seperti dirinya. Bila menyayangkan itu. Mau bagaimana lagi, dia sudah berusaha untuk tidak mengumpat di depan Adam sebisa mungkin, namun, tidak bisa.


Selalu saja yang membuat nya berhasil mengumpat di depan Adam.


Dan semoga nanti, Adam tidak seperti nya, tidak suka mengumpat. Cukup dia yang suka mengumpat, Adam jangan.


"Sudahlah, jangan berdebat, apa kalian tidak lapar?" tanya Bian jengah dengan pertengkaran di hadapan nya.

__ADS_1


"Adam par!" dengan mata yang berbinar-binar, Adam turun dari pangkuan Bila dan menghampiri Bian.


"Om, yo, kan!" (Om, ayo makan) ajaknya bersemangat.


__ADS_2