
"Ava, kumohon bangunlah!" air matanya sudah mengalir, suaminya, tidak sadarkan diri disamping tubuhnya.
"Ava!" Bila menepuk-nepuk pipi Avalon yang penuh dengan darah dan luka yang masih basah yang akan menambah codet Avalon.
Luka itu berada di dahi, pipi, pangkal hidung, dan dagunya.
"Ava, bangunlah, jangan mati!"
"Ava, kumohon!"
Avalon tersenyum tipis dikala rasa sakit yang menghantam seluruh tubuhnya karena efek dari ledakan itu.
Avalon bergerak, dia duduk dan langsung mengelus rambut Bila. "Ada apa? Aku tidak selemah itu, Angelina" ujar Avalon lirih. Dia menatap lekat wajah Bila kemudian memalingkan pada kobaran api yang masih menyala sangat dahsyatnya.
Dada Avalon berdebar. Ia merasa debaran ini berbeda dengan debaran yang biasa dia dapatkan ketika mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Debaran ini seperti membuatnya ketagihan.
"Aku masih hidup" sambungnya berdiri lalu mengulurkan tangannya ke istrinya. Avalon tidak boleh lemah ataupun lengah. Jika dia lengah atau lemah, wibawanya sebagai seorang ketua dari kelompok Camora akan langsung tercoreng.
Cukup sekarang dia kecolongan karena tidak mempererat keamanan dan minimnya keamanan di mansion ini. Lain kali dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Avalon bersumpah akan hal itu.
Bila menghapus air matanya. "Sial4n kau Ava!" umpat Bila merasa sangat lemah melihat Avalon tadi. Tidak dipungkiri, meskipun pernikahannya dengan Avalon terkesan sangat monoton dan lebih kearah 'saling membutuhkan' Bila masih menganggap Avalon sebagai suaminya. Suami yang sepatutnya untuk diperhatikan, dikhawatirkan dan disayangi.
Memikirkan hal itu, tiba-tiba pipi Bila memerah, 'Sial4n, kau bajing4n! bisa-bisanya aku memikirkan hal itu dikala kekacauan seperti ini! Sadarlah, Bila!' umpat Bila pada dirinya sendiri.
"Apa kau yang akan mati?" tanya Avalon membuat Bila mendengus kesal. Dia sekarang menyesal karena telah menangisi pria biadab ini.
Bila menerima uluran tangan, namun, ketika Bila ingin berdiri, ia merasa bahwa tubuhnya tidak sanggup. Dia tidak kuat. Seperti ada yang memberikan batu pada tubuhnya.
"Bajing4n!" umpat Bila berusaha, namun tidak berhasil.
Avalon berjongkok didepan Bila. "Ayo, aku gendong" ujar Avalon membuat Bila rasanya ingin menangis saja.
Kenapa suaminya ini tidak peka terhadap dirinya. Bila berharap akan mendapatkan sebuah gendongan ala pengantin, namun sepertinya terlalu berharap tidaklah baik, karena Bila tidak mendapatkan harapannya pada pria seperti Avalon.
Bila berusaha untuk menaiki pundak Avalon, dan sekarang dia sudah berada dipundak pria itu dengan kaki yang memeluk erat perut Avalon, dan kedua tangan yang melingkar erat di leher berdarah pria itu.
"Aku ingin kau bersikap romantis, Ava, namun sepertinya kau tidak akan melakukan hal itu" bisik Bila menyenderkan kepalanya pada pundak Avalon.
"Sudah aku katakan Angelina, bahwa aku bukan pria yang bisa melakukan keromantisan!" ujar Avalon membuat Bila mengangguk.
__ADS_1
Mulai hari ini dia tidak akan meminta hal itu lagi pada Avalon.
"Bila, Avalon, apa kalian baik-baik saja?" tanya Ed dan Bian yang datang menghadang mereka.
"Aku baik-baik saja, namun sepertinya teman kalian yang sekarat" jawab Avalon melirik kearah Bila. Pria itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya.
"Sila4n, jangan dengarkan pria jelek ini!" umpat Bila mengeplak kepala Avalon.
Bian dan Ed saling tatap, lalu mengangguk dan tersenyum. Setidaknya hidup sahabat perempuannya tidak seburuk yang mereka kira. Dan Bila juga berani untuk sekedar melawan dengan umpatan dan pukulan kecilnya untuk ukuran seperti Avalon.
Dan mereka lihat, meskipun Avalon adalah seorang pria yang monoton dan sangat kaku, mereka dapat melihat ketulusan dari mata pria itu. Oh ayolah jika kalian bertanya pada mereka kenapa bisa mengetahui hal itu, jawabannya adalah. Mereka adalah seorang pria. Dan pria tahu apa yang pria lain rasakan.
"Waw! Kau begitu berani pada Avalon!" Ed berbinar.
"Untuk apa takut pada pria yang sangat takut tidak di beri jatah ini?!" Bila mengejek Avalon.
"Bila!" peringat Avalon.
Ed tertawa dengan kencang. Sementara Bian yang sudah merasakan ancaman itu hanya meneguk ludahnya kasar. Dia tahu rasanya tidak diberi jatah oleh istrinya.
"Bodoh! Bertanyalah pada sahabatmu" sahut Avalon menimpali tawaan Ed.
"Hahahah, kalian sepertinya takut is—"
"Maafkan kami, tuan, kami terlambat!" ujar seorang pria yang memakai baju serba hitam. Dari ujung kepala hingga kakinya. Bahkan wajah mereka. Hanya terlihat kedua matanya saja.
Avalon memberhentikan jalannya. "Aku akan mentolerir kali ini, jika terulang lagi maka hukuman akan menanti kalian!" tegas Avalon membuat Bila ingin tertawa. Ternyata pria seperti Avalon sangat ditakuti oleh bawahannya. Namun terkadang dia juga takut pada Avalon.
"Hei! Kau " seru Bila menginterupsi antara atasan dan bawahan itu.
Pria itu mengangguk, "Iya, nyonya!" tegas pria itu.
"Kau boleh pergi, namun bereskan kekacauan ini!" perintah Bila membuat pria itu ragu untuk mengambil tindakan. Dia harus mengikuti siapa, kali kni? Sang tuan atau nyonyanya.
"Turuti kata istriku, dan beritahu pada yang lainnya, turuti kemauan nyonya kalian jika tidak beresiko" timpal Avalon.
"Laksanakan, Tuan, Nyonya!" pria itu menunduk. "Saya permisi!"
"Baiklah, hati-hati, jangan sampai mati! Beritahu pada yang lainnya!" pekik Bila melihat pria itu berjalan menjauh dari arah nya.
__ADS_1
Avalon geram, tangannya yang berada dipantat Bila memerasnya kencang, sebagai tanda peringatan untuk sang istri.
"Sstt, shhh...." desahnya merasa pantatnya ada yang memeras.
Ed dan Bian yang melihat itu pun terkejut. "Santai bro, ingatlah, kalian sedang terluka!" Ed heboh sendiri. Avalon hanya memutar bola matanya malas.
"Aku tunggu pukul satu dini hari, diruang kerjaku!" ujar Avalon beranjak dari hadapan kedua pria itu.
"Tapi, diamana letak ruangan kerja mu, hey!" pekik Ed namun tak ada jawaban dari Avalon.
"Sial4n!" umpatnya menendang krikil didepan kakinya.
"Bersabarlah" Bian memukul pundak Ed kecil.
"Tap—"
"Tuan, mayat itu sebaiknya diapakan?"
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
"Mommy!" pekik Adam menghampiri sang mommy yang tengah digendong oleh sang Daddy bersama tante Gina nya.
"Adam tidak tidur?" tanya Bila lembut.
"Maafkan Adam mommy, tadi Adam langsung melemparkan bom itu, dan membuat mommy terluka" Bila memeras pundak Avalon. Dia masih belum sepenuhnya menerima bahwa Adam adalah adalah bagian dari dunianya— bukan, lebih tepatnya adalah pewaris resmi.
"Good job, boy! Sekarang tidurlah, besok akan daddy beri hadiah" ujar Avalon mengelus kepala Adam.
"Sebuah hadiah?"
Avalon mengangguk.
"Baiklah, aku akan memegang ucapanmu, Dad!" Adam menarik tangan Gina dan membawanya kekamar tidur nya. "Tidur bersama ku, aunty cantik!"
"Apa yang akan kau berikan pada Adam, Ava?"
"Револьвер"
"Ha?"
__ADS_1