
Bila melebarkan matanya, begitu pula dengan Bian dan Ed yang mendengar itu. "Duel?" lirih Bila menghampiri laci samping ranjang nya dengan tertatih.
Wajah cantik nya sungguh sudah sangat pucat seperti mayat yang mati karena darah nya sudah habis keluar sia-sia.
Bila mengambil sebuah kertas, menuliskan sesuatu lalu menghampiri Wiliam yang sedang duduk di atas ranjang nya.
"Kamar yang bagus, selera mu cukup untuk ukuran seorang gembel" ujar Wiliam, Bila tak menggubris itu, karena jika dia menggubris, maka dia yang akan merasakan sakit.
"Ini, aku kembalikan uang mu, dan tolong jangan ganggu aku lagi" Bila bersimpuh di depan Wiliam, tangan nya meletakkan cek itu di samping Wiliam.
"Ah, sayang nya aku hanya ingin berduel dengan mu, sejujurnya, uang sebanyak itu hanya debu untuk ku" Wiliam mengambil cek di samping nya, merobeknya dan melemparkannya ke wajah Bila.
"Aku tidak bisa, bolehkan aku menyerah sebelum memulai," ucap Bila lirih, sungguh dia sudah tidak sanggup lagi hanya untuk sekedar berdiri jika tidak di paksa.
"Sayang nya tidak, Erick, sebaiknya kau menjual mata balita palsu itu"
"Baik tu—"
"Jangan, mari berduel dengan ku" Bila melihat anak nya yang ketakutan, dia tersenyum, melepas pegangan nya pada lukanya dan menghela nafasnya.
"Mari" Bila berdiri tegap, melepas jas nya dan melemparkannya ke atas lantai.
"Jangan, duel dengan ku saja, seorang pria sejati pasti akan memilih lawan yang seimbang" ujar Ed dengan wajah yang merah padam karena menahan emosi nya.
Prok...
Prok...
Prok..
"Woah...!!! Sahabat yang sejati~" ucap Wiliam sedikit mengejek.
"Aku jadi bertanya-tanya, siapa ayah balita itu sebenarnya?" sambung Wiliam tersenyum smirik.
"Jadi, apakah, dia?" Wiliam menunjuk ke arah Ed.
__ADS_1
"Atau dia?" kini beralih ke arah Bian.
"Diam lah, mari, katamu ingin berduel?" Bila marah di hina seperti itu, memangnya dia perempuan seperti apa hingga di tanyakan siapa ayah Adam sebenarnya.
Dia ingin berteriak dan mengatakan bahwa Adam bukanlah anak kandung nya, namun, seperti nya itu sangat berbahaya, untuk sekarang. Wiliam seperti nya belum mengetahui tatto di belakang leher Adam yang bertuliskan Cmr. Nama yang di sebut nya waktu itu.
"Mari" Wiliam bangkit dari duduknya. Bila sekarang pasrah dengan keadaan, sebelum nya dia tidak pernah di titik pasrah dengan mudah seperti ini, namun, untuk sekarang dia tidak bisa. Mengingat kondisi nya yang terluka.
"Aku memiliki syarat," Bila melihat Wiliam, lalu menoleh melihat Bian dan Adam yang terikat.
Wiliam yang mengerti melambaikan tangan nya, pasukan yang di pimpin Erick itu menurunkan senjata nya. "Jangan bergerak sebelum ada perintah dari ku, apapun kondisi nya, paham?" peringat Wiliam.
"Tap—"
"Diam lah, dan jalankan perintah ku!"
Mereka mengangguk. Sementara Bila yang mendengar itu merasa mendapatkan kesempatan sangat emas untuk menghabisi Wiliam.
"Hei, kau!" Wiliam menunjuk Ed.
"Tutup pintu itu, jangan biarkan pel4cur mu melihat semua ini!" titah Wiliam.
Ed menutup pintu sesuai perintah Wiliam, dia tidak bodoh dengan kode yang di berikan oleh Bila sedari tadi.
"Ayo serang aku," ujar Wiliam.
Bila diam ketika Wiliam tersenyum miring, sedetik kemudian sebuah pukulan mendarat di pipi Wiliam di susul dengan tendangan di perut nya.
Wiliam terjatuh di atas ranjang. "Woah, santai nona" Wiliam hendak bangkit, namun pergerakan Bila lebih cepat, Bila menaiki ranjang dan duduk tepat di perut Wiliam, posisi Bila saat ini hampir menyentuh ular milik Wiliam jika dia bergerak sedikit saja.
Wiliam tersenyum smirik, dia tertawa di dalam hatinya, memang benar apa yang menjadi prinsip nya, tipuan wanita itu sangat dahsyat.
Bila memajukan wajah nya berbisik kepada Wiliam sesuatu yang membuat nya geli sendiri. "Apa kau mau di puas kan, tuan?"
Bila menarik kembali wajah nya, menoleh ke arah Bian dan Ed lalu kembali menatap wajah Wiliam dengan senyum manis nya. "Mereka sangat puas dengan service ku, hingga tak sengaja menumpahkan benih nya ke rahimku" sambung Bila membisik sensual.
__ADS_1
Bila menggerakkan tubuh nya, dia tidak sengaja bersentuhan dengan ular Wiliam yang sudah berdiri di balik celana bahan nya.
Semua lelaki yang berada di ruangan itu terkejut dengan apa yang di lakukan dengan Bila. Tak menyangka jika wanita yang terluka itu menggoda seorang pria yang hyper.
Wiliam meletakkan tangan nya ke tengkuk Bila, tak munafik jika wajah pucat di depan nya sangat menggoda hasrat yang dua jam yang lalu sudah di puas kan dari seorang wanita yang menjabat sebagai ibu dari anak-anak nya.
Wiliam menarik tengkuk Bila hingga hidung mereka saling bersentuhan, "Bibir mu sangat sexy baby girl, meskipun warna nya sudah memutih" bisik Wiliam menyatukan bibir mereka.
Dan lagi lagi hal itu membuat para pria terutama dua pria yang tidak bisa melakukan apapun sangat terpukul dan sangat ingin membuat Wiliam mati di tangan mereka.
Wiliam sudah berani menyentuh wanita yang mereka jaga. Ed hendak berlari ke arah Bila, namun, lagi lagi, kode dari tangan Bila menghentikan pergerakan nya.
Bibir Bila Wiliam hisap dengan kencang nya, me-ngemut lalu mengigit nya. Bila melepaskan ciuman itu, dia juga tidak menyangka jika ia akan melepaskan ciuman pertama nya untuk si brengsek Wiliam.
Bila mengambil nafas untuk mengisi jantung nya yang kosong. "Bibir mu sangat manis baby, aku tidak sabar untuk merasakan mil—Sssttt"
"Ternyata kucing ini sangat liar ya" ringis Wiliam merasakan sesuatu yang dingin menembus kulit perut nya.
"Tolong jangan mengganggu keluarga ku lagi" mohon Bila bersandar di dada Wiliam, sementara tangan kirinya memegang pisau kecil nya yang setengah nya sudah berada di dalam diri Wiliam.
"Maafkan aku baby girl, aku hanya ingin mencari keturunan asli dari musuh ku, dan aku salah mengira bahwa anak mu adalah anak musuh ku, karena seperti yang kau dengar tadi, aku sudah menemukan anak itu, dan aku sudah menghabisi nya"
Wiliam bangkit dari tidur nya, memegang kepala dan paha Bila lalu meletakkan nya di atas kasur dengan pelan dan hati-hati. "Jaga anak mu, dia memiliki mata yang indah" ujar Wiliam lalu mengecup kening Bila.
Sebenarnya Wiliam datang ke rumah Bila dengan cara mengendap-endap hanya untuk berbaikan, dia sudah salah menganggu, meneror wanita beranak satu yang ternyata adalah anak kandung Bian.
Dari informasi yang di dapatkan nya, berarti Bian adalah ayah kandung Adam, sementara Bila sebagai seorang sahabat dia hanya ikut merawat Adam dan berperan sebagai ibu nya.
Bila mengangguk dengan senyuman nya yang merekah, dia mengelus pipi pria tampan di depan nya dengan tangan yang gemetar.
"Kau mengambil ciuman pertama ku, sial4n"
"Maafkan aku, anggap saja uang itu untuk membeli ciuman perta—Sssttt," Wiliam memejamkan matanya, merasakan pisau itu semakin menusuk ke dalam.
"Kembali lah, aku bukan wanita seperti itu" lirih Bila sebelum kesadarannya hilang dalam senyum yang manis mengutuk kebodohan Wiliam yang percaya dengan dongeng yang dia tuliskan di jejak digital.
__ADS_1