
Satu Minggu berlalu...
"Mari berjemur" ujar Avalon langsung menggendong tubuh Bila ala pengantin.
Pagi ini, dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Avalon selalu menyempatkan diri dan meluangkan waktunya untuk istrinya. Dia berusaha menjadi yang terbaik untuk menebus kesalahannya yang sangat menyakitkan.
Bila diam, dia seperti sudah terbiasa dengan perlakuan Avalon padanya, namun kebenciannya masih tetap ada, dan tidak berkurang sedikitpun.
Avalon membawa Bila ketaman bunga tulip untuk berjemur pagi agar supaya kondisi tubuh Bila cepat pulih. Mereka akan berjemur selama 15 menit sebelum Avalon pergi dengan Ed dan Bian yang kini sudah menjadi bagian dari perusahaan miliknya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Avalon mengelus rambut pendek Bila. Rambut yang Avalon potong sendiri satu Minggu yang lalu karena menghalangi pergerakan Bila. Dan karena itu Bila kembali marah.
"Baik," jawab Bila singkat. Matanya tidak lepas dengan hamparan bunga tulip yang bermekaran. Melihat bunga itu, Bila jadi teringat akan Lengkara yang memintanya untuk diajari merakit buket.
Semenjak Bila sakit, Adam dan Lengkara jarang bertemu dengannya. Entah karena apa tapi yang pasti itu membuat Bila sangat sedih karena kedua anaknya kini tidak bermanja dengannya seperti dulu.
Avalon menatap Bila dengan tatapan penuh kekagumannya. Wajah yang sangat cantik dengan rahang yang tegas, tatapan mata yang mempesona membuat Avalon semakin merasa menyesal karena telah menyakiti Bila.
Tangan Avalon berada diatas kepala Bila, dia mengelus rambut itu dengan lembut sembari meniupnya pelan. Bila mampu membuat Avalon tergila-gila, dan gila dalam waktu yang sangat singkat. Enam bulan.
Sementara wanita yang mendapatkan perhatian dari seorang yang ditakuti dan seorang pria yang sangat dingin dan datar hanya diam, hatinya terlalu sakit sebab perlakuan pria itu sendiri.
Sementara dibalik pintu kaca yang menghubungkan antara ruangan dan hamparan kebun tulip itu ada banyak orang yang tengah melihat kediaman Bila.
Para orang itu adalah, Ed dan Bian. Mereka saling tatap dengan apa yang mereka lihat.
"Aku akan membiarkan Bila pada pilihannya, kurasa Avalon benar, bahwa yang menjalani adalah Bila, bukan kita" ujar Bian bijak.
"Aku juga akan mendukung penuh pilihan yang dipilih oleh Bila" sahut Ed menganggukkan kepalanya.
Mereka sudah berpendapat, bahwa Avalon telah berubah, dan sesama pria yang mengetahui perasaan pria lain. Apalagi jika Avalon telah mengatakan alasan ia melakukan hal itu pada Bila. Hanya karena cemburu buta.
__ADS_1
Sementara Gina, sekarang wanita itu bersama dengan Lengkara, untuk sekedar mengisi waktu dan bermain serta bercerita dengan gadis cilik itu.
Adam? Jangan ditanya, pria kecil itu hanya akan kembali pada hari minggu, hari liburnya. Jika hari Senin hingga Sabtu, Adam berada di markas untuk belajar apa itu leadership¹ dan strategi.
"Kau sangat cantik" ujar Avalon tiba-tiba. Bila diam, tidak ada wajah bersemu merah lagi seperti dulu. Sudah dibilang, luka yang diberikan oleh Avalon sangat dalam.
"Sudah lima belas menit, aku ingin kembali" ujar Bila berdiri, Avalon tersenyum kecut, di pun ikut berdiri.
"Biar aku gendong" Avalon membungkuk hendak menggendong Bila, namun Bila terlebih dahulu menghindari Avalon.
"Aku ingin berjalan" ujarnya langsung berjalan.
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
"Ingin makan apa, sayang?" tanya Avalon pada Bila. Malam ini, mereka semua termasuk dengan para sahabat Bila, melakukan makan malam seperti malam- malam sebelumnya.
Bila menatap Avalon datar. Dia berdiri lalu mengambil makanannya sendiri.
Bukan hanya satu kali ini, namun Bila sudah sering melakukan hal itu pada Avalon.
"Silahkan makan" ujar Bila menyantap makanannya.
🌿🌿🌿.
Setelah makan malam selesai, seluruh anggota yang berada didalam rumah itu kembali kekamar mereka.
Seperti Bila yang sudah duduk di ranjang dengan tangan yang saling bertaut, dan Avalon yang baru saja menutup pintu kamarnya.
Bila menatap kearah Avalon. "Ini sudah satu bulan, dan aku ingin bercerai" ujar Bila membuat Avalon yang semula tersenyum kini meredupkan senyum itu.
Sudah satu bulan berlalu Bila memberikan kesempatan untuk Avalon, dan sesuai apa perkataan Avalon waktu itu.
__ADS_1
Avalon diam, dia menghampiri Bila dan duduk didepannya. Tangannya langsung memegang kedua tangan Bila, menggenggamnya sangat erat dan menatap Bila dalam.
"Aku meminta maaf," ujar Avalon mengecup punggung tangan Bila berkali-kali.
Bila muak, setiap hari mendengarkan kata itu. "Tolong, berilah aku waktu lagi, bukankah ku sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada perpisahan diantara kita?" tanya Avalon memelas. Dia belum rela melepaskan Bila. Dan tidak akan rela. Bila adalah miliknya, dan hal itu adalah hal yang mutlak, tidak bisa dibantah.
"Dan kau yang meminta satu bulan untuk memberikanmu waktu," sahut Bila.
"Maafkan aku, tolong, jangan ada perpisahan diantara kita" ujar Avalon memohon, dia mengecup punggung tangan Bila berkali-kali.
Bila melepaskan paksa tangan Avalon, "Tidak, keputusanku sudah bulat aku ingin berpisah" putus Bila sepertinya sudah sangat muak dengan Avalon.
"Maafkan aku, tolong beri kesempatan sekali lagi untukku " pinta Avalon.
"Tidak, luka yang kau torehkan cukup dalam hingga sulit untuk disembuhkan hanya dengan sekedar kata maaf" ujar Bila tegas. Tidak da tangis, dirinya malah terlihat bahagia dengan keputusannya. Dan hari ini adalah hari yang selama ini dia tunggu.
"Maka dari itu, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahanku dan menyembuhkan luka yang ku perbuat" ujar Avalon memohon, dan baru kali ini dia memohon, dan itu hanya untuk Bila.
"Sama untuk pertama kali tamparan yang kau layangkan dulu, kau berjanji untuk tidak menyakitiku lagi, namun apa buktinya? Kau lebih menyakitiku lagi dengan bertanya siapa ayah dari bayi yang bahkan baru saja meninggal!" Bila emosi.
Avalon diam, dia mencerna apa yang diucapkan oleh Bila dengan seksama. "Maafkan aku, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon" Avalon beranjak dari duduknya, dia turun kebawah dan menyentuh kaki Bila dengan lembut.
"Maafkan aku, beri aku kesempatan sekali lagi, aku ingin membahagiakan mu, aku berjanji" ujar Avalon memohon, dia tidak ingin berpisah dengan Bila, sungguh dia telah mencintai Bila dengan segenap hatinya. Dan dia tidak ingi. Kehilangan miliknya.
"Dengan bercerai kau akan membuatku bahagia" ujar Bila, dia ikut turun dan melepaskan tangan Avalon pada tubuhnya. Lalu dia menyatukan kedua tangannya didepan dada.
"Aku mohon, berpisah adalah pilihan terbaik, kita akan sama- sama bahagia, tidak akan ada yang menyakiti dan tidak akan ada yang tersakiti dengan pernikahan wasiat ini!" ujar Bila membuat Avalon menatap Bila dengan perasaan yang tak karuan.
Kenapa Bila bisa mengetahui bahwa ini adalah pernikahan yang di wasiatkan?
"Ka-kau tahu?"
__ADS_1