Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
. ...


__ADS_3

Bila menyugar rambutnya dibawa guyuran air yang terus mengalir dari sebuah benda bernama shower itu. Bila merenungi semuanya, entah apa yang dia renungkan namun Bila hanya ingin merenung saja.


Mengenai Avalon, pria itu sudah pasti mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Dan, yang membuat Bila khawatir sekarang adalah, ia takut jika Avalon tidak menerima dirinya yang sudah terikat kontrak perjanjian dengan kelompok Īpašs digitālais itu.


Bila diam, tangannya terulur untuk menyentuh kran shower itu dengan tatapan kosong, meskipun Bila tahu bahwa Avalon bukanlah orang biasa— maksudnya, dunia pria itu sama dengan dunia miliknya, namun ada rasa khawatir di hati Bila karena takut Avalon tidak mau menerima dirimu sebagai seorang istri karena mengetahui semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan.


Bagaimana jika Avalon tidak menerimanya lagi? Bagaimana jika Avalon menceraikannya? Bila tidak ingin berpisah dengan Avalon karena Avalon adalah bawahan orang yang menitipkan Adam padanya dulu. Dan otomatis jika dia berpisah dengan Avalon maka Adam akan ikut dengan Avalon.


Tidak, itu tidak boleh, Adam adalah anaknya, dan selamanya akan menjadi anaknya. Dia akan melakukan segala cara agar hubungannya dengan Avalon berpisah, meskipun harus menjadi seorang jal4ng untuk pria itu.


"Apa yang kau pikirkan?" suara berat itu terdengar ditelinga Bila di susul dengan kedua tangan yang memeluk perutnya dari belakang.


"Avalon?" Bila menoleh, ia terkejut dan terlalu banyak melamun karena memikirkan sesuatu hal yang sudah jelas kebenarannya. Dia memikirkan sesuatu yang sangat mustahil untuk terjadi.


"Kenapa melamun? Hmm?" Avalon memeluk tubuh istrinya dari belakang, Avalon turut terguyur oleh air yang sedari tadi mengguyur tubuh istrinya.


"Tidak, hanya memikirkan sesuatu" jawab Bila tanpa adanya rasa gugup ataupun canggung lagi, mungkin karena rahasia yang dilakukan Avalon padanya tadi.


Bila juga tidak mempersalahkan Avalon mandi dengannya, karena menurut Bila adalah, Avalon tetap suaminya, dan sah sah saja jika melakukan hal ini.


Avalon mengangguk dalam celuk leher Bila, dia mengendus leher Bila dan memeluk tubuh wanita itu dengan sedikit kencang.


"Avalon, apa yang kau lakukan?" tanya Bila sedikit geli.


"Aku hanya mencoba untuk menyerap wangi istriku" jawab Avalon.


Bila menoleh, tangannya kini sudah berada di kepala Avalon, ia mengelus rambut Avalon dengan lembut sembari memikirkan sesuatu yang sangat ingin dia tanyakan.


"Mmm, mengenai tadi—"


"Ayo mandi dulu, lalu kita bicarakan dengan kepala yang dingin" ujar Avalon membuat Bila mengangguk.


Benar apa kata Avalon, permasalahan ini sebaiknya dibicarakan dan mencari jalan yang terbaik. Dan tempatnya tidak disini, mungkin berada diatas ranjang dengan saling memeluk satu sama lain sepertinya sangat menyenangkan.


"Baiklah, kau mandi saja, aku akan pergi" Bila membalikkan badannya dengan cepat, lalu menatap Avalon dan mengecup dagu pria itu sekilas.


Avalon merenggangkan pelukannya, ketika istrinya itu langsung membalik badannya tanpa aba-aba. "Namun, sepertinya kita harus menambah waktu lagi" ujar Avalon.


Bila tidak mengerti, dia mengerutkan keningnya sembari berpikir dengan keras agar mengetahui maksud apa yang diucapkan oleh Avalon.


"Apa maksudmu?" tanya Bila, pada akhirnya dia menyerah untuk berpikir mengenai maksud dari perkataan sang suami.


"Kau menyenggolnya, dan kau harus bertanggung jawab" jelas Avalon memeluk tubuh Bila.

__ADS_1


Bila tenggelam di dada bidang Avalon, namun, di tengah tengah pahanya, dia merasakan sesuatu yang membuat Bila menegang dengan mata yang melebar.


"SIAL4N KAU AVALON!!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


"Aku ingin tidur di lengan mu" ujar Bila melihat Avalon yang setengah duduk dengan tangan yang berada di kepala pria itu. Pria itu sedang bersandar dengan tangannya pada kepala ranjang.


"Bicaranya besok?" tanya Avalon merubah posisinya agar tidur terlentang, dia menuruti permintaan sang istri yang menurutnya sangat sepele namun bisa membuat wanita itu bahagia.


Bila menggeleng, dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam didinding kamar mereka. "Lalu?"


Bila tak menjawab, dia menaiki ranjang dan memposisikan dirinya tidur dengan bantal lengan Avalon.


Avalon melihat gerak gerik wanita yang memiliki tubuh kecil yang sekarang terbalut dengan baju tidur berlengan pendek itu. Wanita itu semakin hari semakin berisi jika dilihat lihat.


"Sepertinya kau bertambah gemuk" celetuk Avalon melihat Bila yang tengah memposisikan tubuhnya disamping Avalon.


"Apa benar?" tanya Bila membuat Avalon mengangguk. Bila tidak terlalu terkejut dengan celetukan dari Avalon, karena memang selama dia menikah dengan Avalon, Bila jarang berolahraga. Jangankan untuk berolahraga, bergerak saja Bila malas karena semua layanan yang telah disediakan oleh Avalon untuknya.


"Kenapa kau tidak marah?" tanya Avalon heran sendiri dengan kelakuan sang istri.


"kenapa harus marah?" tanya Bila yang juga heran dengan pertanyaan dari Avalon, memangnya harus marah kenapa? Avalon tidak membuat nya marah.


"Menurut buku yang aku baca, wanita normal akan marah jika ada seseorang yang menyinggung tentang berat badannya" jelas Avalon, dia memang pernah membaca sebuah buku yang berjudul 'seribu satu cara kesalahan seorang pria'.


"Kau yang mengatakannya" ujar Avalon terkekeh kecil. Posisi mereka sudah saling berpelukan seperti apa yang Bila inginkan tadi.


"Kau pria gila!" maki Bila memukul dada bidang Avalon.


"Terimakasih untuk pujiannya, nyonya Hibrida"


"Kenapa Hibrida?" tanya Bila dengan pipi yang memerah karena dipanggil dengan marga yang dimiliki oleh Avalon.


"Karena Camora bukan marga asli ku. Hanya karena aku di angkat menjadi ketua aku mendapatkan marga ini" jelas Avalon. "Jadi, aku ingin membuat keluarga sendiri dengan marga Hibrida, dan yang terlahir dari rahim seorang ibu yang berandal sepertimu" sambung Avalon panjang lebar.


"Kau membuat orang terbang tinggi namun sedetik kemudian kau menghempaskan ku kedalam jurang yang sangat dalam"


"Hanya bermain lidah"


"Namun, apa kau akan menceraikan ku?" tanya Bila, jari jemari lentiknya tidak diam, jati itu perlahan memasuki baju tidur Avalon dan bermain dengan dada yang ditumbuhi sedikit rambut rambut itu.


"Apa maksudmu?" Avalon sama sekali tidak berpikir sampai sana.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan menceraikan ku?" tanya Bila sekali lagi.


"Sebut, dan jelaskan kenapa aku harus menceraikan istri ku yang sempurna ini?" tanya Avalon mengelus pipi Bila.


"Kau sudah mengetahui semuanya, Ava" ujar Bila membuat elusan tangan Avalon terhenti, dia menatap lekat manik Bila yang sedang mendongak itu.


"Aku tidak berpikiran sampai kesana, dan jangan harap untuk berpisah denganku"


"Tapi, aku adalah bagian dari dunia gelap mu, Ava" ujar Bila memancing Avalon.


"Sudah kuduga bahwa kau sudah mengetahuinya,"


"Benar, tapi kenapa aku tidak boleh berharap untuk berpisah denganmu?"


"Because, your heart, your body, your life, everything that belongs to you is now mine.!¹"


"I am your life from now on, but can you tell me everything, tell me about your real life?" ujar Bila yang mulai detik ini menyerahkan semua hidupnya pada Avalon. Pada sang suami yang akan dia percaya, dukung, apapun kondisinya. Meskipun dunia melarang untuk percaya pada pria itu.


"Promise?³"


"I promise⁴!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.



"Karena, hatimu, tubuhmu, hidupmu, semua milikmu sekarang menjadi milikku.!"



2."Aku adalah hidupmu mulai sekarang, tetapi bisakah kamu menceritakan semuanya padaku, ceritakan tentang kehidupanmu yang sebenarnya?"




"Janji?"




"Aku berjanji!"

__ADS_1




__ADS_2