Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Tangis Bila.


__ADS_3

"Adam" panggil Avalon menghampiri Adam yang tengah duduk terdiam melihat pemandangan hutan dengan senjata laras pendek ditangannya.


Adam menoleh kearah sumber suara "Iya, Dad?"


Avalon tersenyum simpul, dia mendudukkan dirinya disamping anak dari atasannya itu. Mengelus kepala Adam dan melihat pepohonan daunnya bergoyang diterpa oleh angin.


Hari ini mereka masih belum juga pulang setelah satu minggu menetap di markas ini, kegiatan sekolah Adam juga Avalon ganti dengan kegiatan belajar privat yang dilakukan oleh guru pribadi mulai satu minggu yang lalu.


Adam juga mengerti bahwa dia harus memutus sekolah di luarnya dan menggantinya ke pribadi karena Adam telah memutuskan untuk memperdalam ilmu bela diri dan menggunakan bermacam-macam jenis senjata untuk menjadi ketua dari kelompok Camora ini.


Adam juga sudah diberi tahu oleh Avalon tentang kelompok Camora, namun hanya kelompok dan cerita sekilasnya saja.


"Adam sudah berusia berapa?" tanya Avalon membuka pembicaraan.


"Tujuh tahun"


"Sudah tujuh tahun ya. Adam sudah mengetahui tentang Camora bukan?"


Adam mengangguk, pria kecil yang memiliki otak jenius itu sudah mengerti semua yang dimaksud oleh Avalon meskipun hanya satu kali mendengarkannya. Dia juga sangat tanggap dalam meniru apa yang diajarkan oleh Avalon padanya. Seperti saat Avalon mengajarinya cara menembak dengan baik dan benar, beserta cara menghabisi musuh agar tidak terlalu mengeluarkan tenaganya.


Jika anak kecil sepantaran dengan Adam akan berteriak ataupun menjerit karena telah membunuh seseorang, maka Adam tidak, baginya ia sangat senang untuk mempermainkan nyawa seseorang. Namun, Adam tidak memberitahunya kesenangannya itu pada Avalon ataupun Bila.


"Langsung pada poinnya saja, Dad" sergah Adam membuat Avalon tersenyum. Adam, dan semua yang dimilikinya adalah copy paste dari Andrew. Jika ingin melihat Andrew, maka lihatlah Adam, dan kau akan menemukan Andrew.


"Dengan satu syarat" ujar Avalon.


Adam mengangguk, "Apa?"


"Jangan menangis, dan jangan membenci siapapun" ujar Avalon membuat Adam mengangguk, hanya itu.

__ADS_1


Avalon mengambil nafasnya, dia harus menceritakan ini sekarang, Avalon tahu bahwa Adam bukanlah anak biasa yang tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya.


"Sebenarnya kau bukan anakku, ataupun anak Bila" ujar Avalon membuat Adam mengangguk.


"Aku sudah tahu" sahut Adam membuat Avalon terkejut.


"Darimana kau tahu?" tanya Avalon, apa Bila sudah memberitahu pada Adam tentang hal ini, tapi tidak mungkin.


"Dari pembicaraanmu dengan mommy untuk pertama kalinya" jawab Adam santai.


"Hanya itu? Omong-omong, kapan aku bisa pulang dan bertemu dengan mommy? Aku sangat merindukannya" ujar Adam melihat kearah Avalon.


Avalon terdiam, dia masih sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. "Sebentar, apa kau tidak mencaritahu dimana kedua orang tuamu yang asli?" tanya Avalon lagi.


"Tidak, lagipula mereka sudah mati, untuk apa?" sungguh, Adam memiliki otak seperti seorang pria dewasa.


Avalon terkejut, seharusnya Adam menangis karena mendengar bahwa dia bukan anak kandung dari Bila, dan menangis karena mengetahui bahwa orang tua aslinya telah meninggal.


Menurutnya, di dunia ini pembunuhan dan saling membunuh untuk bertahan hidup dari sana lain sudah biasa. "Lalu kenapa, jangan berbelit-belit, Dad!" Adam geram sendiri.


"Sebenarnya, orang tua mu tidak mati—"


"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Adam memotong ucapan Avalon yang belum selesai. Dan lagi, Avalon kembali terkejut akan hal itu. Avalon akui sekarang. Otak Adam sangat jenius.


"Ferguson dan, Wiliam"


"Wiliam?" Adam menoleh, dia curiga pada satu orang yang tidak asing. "Apa Wiliam itu?" tanya Adam ragu.


Avalon mengangguk, membuat raut wajah Adam yang tadinya biasa kini seperti sedang marah.

__ADS_1


"Kenapa bisa? Ceritakan, Dad, semuanya"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Setelah bercerita panjang lebar dengan Adam, Avalon kini sudah memasuki mansion nya. Dia sekarang pulang, untuk mengambil berkas yang sebenarnya sekertaris Li bisa mengambilnya. Akan tetapi, Avalon juga ingin mengganti bajunya dan mengambil sesuatu di laci samping tempat tidurnya untuk diberikannya pada Adam nantinya.


Ceklek ....


Avalon membuka pintu kamarnya, dan langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seorang wanita tengah berpose dengan sangat sexy nya diatas ranjang dengan menggunakan pakaian malamnya yang sangat terbuka.


Pakaian malam yang diberikan oleh Gina tadi.


Dan wanita itu adalah Bila, istrinya. Bukannya terangsang atau yang lainnya. Justru yang dirasakan oleh Avalon sekarang adalah perasaan jijik. Kenapa wanita didepannya ini berpakaian seperti itu? Dan untuk siapa?.


"Avalon" panggil Bila gugup, dia berpakaian seperti ini atas saran dari Gina untuk memberikan ‘jatah’ pada sang suami dengan cara sedikit merendahkan harga dirinya.


Dia bahkan rela untuk memohon pada sekertaris Li agar memberitahu padanya jika Avalon akan datang ke rumah.


"Cih" decak Avalon menatap Bila dengan perasaan yang sangat marah, dia ingin melampiaskannya sekarang namun, teringat dengan janjinya dulu, Avalon mengurungkan hal itu.


Avalon berbalik arah ketika Bila berjalan meliuk-liukkan tubuhnya kearahnya. Lalu kembali keluar untuk segera melampiaskan kemarahannya. Kenapa Bila sampai berpakaian seperti itu. Apa dia ingin menggoda Bian atau Ed agar berhubungan dengannya? Karena hanya kemungkinan itu yang bisa saja terjadi mengingat bahwa dirinya tidak pernah mengatakan pada siapapun jika akan pulang.


Bila terduduk lemas diatas lantainya, kenapa dengan Avalon akhir-akhir ini? Kenapa pria itu sampai seperti ini menguraikannya. Apa ada perempuan lain dihidupnya selain dirinya?.


Bila menangis, dia sudah merendahkan dirinya agar membuat Avalon kembali seperti dulu lagi malah dirinya yang mendapatkan tatapan jijik serta decakan dari pria itu.


Bila menangis, dan kali ini adalah tangisnya kedua yang sengaja Avalon buat didepan matanya.


Avalon mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh, mengingat istrinya yang seperti seorang wanita murahan yang haus akan sentuhan membuat Avalon marah. Apa wanita itu tidak puas dengan Wiliam dan Sahabatnya itu hingga kembali menggoda dirinya untuk melampiaskan hasrat gilanya?

__ADS_1


Mengingat bahwa Bila sama sekali tidak memiliki baju seperti itu dan jika memang Bila membelinya, maka pasti ada notifikasi sistem di ponselnya untuk pengeluaran Bila.


"Gila, tuan, maafkan aku jika kali ini sepertinya penilaian anda salah terhadap seseorang"


__ADS_2