Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
tidak bisa.


__ADS_3

"Bukan kah tadi terlalu mudah ya Bil?" tanya Ed.


"Benar, tadi terlalu berjalan mulus, tidak ada perlawanan, seperti yang biasanya" jawab Bila tenang. Jika dulu mereka menemukan kejadian seperti ini, maka mereka harus berhati-hati untuk selanjutnya.


Karena, biasanya, ini adalah sebuah jebakan, jebakan untuk melihat musuh merasa senang hingga terbang ke langit, dan menghancurkan nya sedalam neraka.


Bian pun sudah menyadari hal ini sedari awal.


"Seperti nya kira harus berhati-hati mulai sekarang, bukankah Adam yang mereka incar?"


"Ya, Adam yang mereka incar, namun, kenapa harus Adam?"


"Mungkin karena dia memiliki mata yang berbeda, bukan kah jika seorang memiliki keistimewaan pasti akan mendapatkan hal yang istimewa juga?"


"Aku hanya curiga tentang tatto di belakang Adam"


"Sudahlah jangan di bahas, biarlah berjalan seperti air"


"Bagaimana bisa kau menemukan lobang itu Bil?" tanya Ed menguyah cemilan yang Bian beli saat membelikan minum untuk Adam tadi.


Sore ini mereka berada di sebuah danau yang jauh dari hutan tadi. Hutan ini sebelah Utara, sementara hutan yang tadi berada di selatan. Dan jarak antara hutan bagian Selatan dan bagian Utara kurang lebih 10,5 meter. Jarak yang lumayan.


Awalnya Bian dan Ed menolak alasan nya karena keselamatan Adam karena tempatnya tak jauh dari tempat kejadian. Namun, setelah Bila bujuk dengan alasan menghibur diri, akhirnya mereka setuju dengan syarat Bian kembali ke rumah Bila untuk mengambil persediaan jarum. Lagi-lagi untuk jaga jaga.


"Aku merasakan pijakan yang aneh, seperti bukan tanah" jawab Bila santai, matanya tak lepas dari Bian dan Adam yang tengah mandi bermain air.


"Lalu, katamu kau pernah ke hutan itu, dan menemukan sesuatu" tanya Ed lagi.


"Iss, banyak tanya, aku ke hutan bagian sini, bukan sana" kesal Bila.


Ed mengangguk, Bila tersenyum manis ketika Adam menghampiri nya dengan tubuh yang basah dan hanya terbalut dengan celana nya.


"Mommy, ayo andi!" (Mommy, ayo mandi!) ajak Adam. Balita itu seperti nya sudah tidak mengingat apa yang terjadi tadi. Buktinya, balita itu tidak menangis, ia hanya menangis tadi, di pelukan sang mommy.


"Tidak, mommy, tidak mandi" jawab Bila mengacak rambut Adam.


"Ayo mommy, eru! ta om Ian, ir ya ernih!" (Ayo mommy, seru! Kata om Bian, air nya jernih!) bujuk Adam.

__ADS_1


Bila berdiri, dia menuntun Adam ke pinggir danau. Bila melihat air danau itu, sangat jernih, danau itu tidak terlalu dalam, bisa di bilang jika danau itu dangkal, jika di ukur hanya di bawa dada Bian saja.


Danau yang begitu jernih hingga ia bisa melihat banyak nya ikan yang berenang menemani Bian.


"Ayo mommy~" rengek Adam menyeret Bila.


"Baiklah, ayo kita berenang!" ujar Bila melepas pegangan tangan mereka.


Byurr....


"Aahhh, segar nyaa!~" pekik Bila tertawa di akhir kalimat nya.


"Mommy, ku au enang!" (Mommy, aku mau berenang)pekik Adam berbinar sambil merentangkan tangan nya.


"Ayo melompat!" ujar Bila berdiri, air itu seleher Bila.


"Sebentar!" sambung nya memberikan telapak tangan nya.


"Pa mommy?" (Kenapa mommy?) Adam frustasi, dia ingin bermain air secepat nya.


Bian terkejut, dia memunculkan kepalanya ke permukaan. "Ada apa Bil?" tanya Bian.


"Tolong Adam, aku tenggelam jika menggendong nya" bisik Bila. Bian mengangguk. Lalu Adam berenang bersama dengan Bian di gendongan nya.


"Ayo Ed, ini menyenangkan!" pekik Bila mengajak Ed.


Ed menggeleng, dia masih menikmati cemilan gratisan nya. "Tidak, kau saja"


"Yasudah"


Mereka bermain air seperti anak kecil, mencoba menangkap ikan, dan kejar-kejaran di dalam air.


Ed yang telah menyelesaikan makannya pun sangat ingin mengetahui rasa berenang di dalam danau yang sama sekali belum tercemar. Dia berdiri, mendekati tepi danau dan...


Byur...


"Ahahahhh!" tawa itu berasal dari mulut semua orang.

__ADS_1


Biarlah mereka menemukan ketenangan meski hanya sebentar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa? kau akan tetap melakukan balapan ini?" tanya Ed menyeruput kopi nya.


Mereka sekarang berada di ruang tengah rumah milik Bila. Kenapa selalu rumah milik Bila? Karena kedua sahabat nya itu tinggal di kontrakan, bukan rumah sendiri.


"Memang nya kenapa?" Bila menaikkan satu kakinya, melihat kartu yang berjajar rapi di depannya.


"Bagaimana dengan Adam?" Bian mengeluarkan satu kartu.


Bila menoleh ke arah Adam, balita berusia dua tahun kurang itu tengah memainkan kartu versi kecil dan sebuah gelas di samping duduk nya. Gelas itu berisi susu coklat. Adam nampak santai dengan wajah yang fokus dengan kartu yang di pegang nya.


"Seperti nya Bian terlalu mencemaskan balita ajaib itu" sahut Ed mengeluarkan kartu nya.


"Benar, perasaan ku sedikit tidak nyaman"


"Biarkan saja, aku akan tetap balapan bersama Ed, kau menjaga Adam bagaimana?" tanya Bila.


"Baiklah"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan lupa jarum yang telah aku siapkan Bil" peringat Bian, dia tiduran di ranjang samping Adam yang tengah tertidur dengan pulas.


Hari sudah sangat gelap, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh lima menit. Dan balapan kali ini akan berlangsung pukul 00.00.


"Sebaiknya aku memakai sarung tangan sekarang atau nanti?" tanya Bila. Dia sekarang memakai legging hitam dan berpadu dengan jaket hitam yang sedang viral sekarang.


"Lebih baik sekarang, jika ada sesuatu, kau langsung melemparkan nya" saran Ed. Bila mengikuti saran Ed, dia memakai sarung tangan itu dan menghampiri Adam yang sedang tertidur dengan bekas air mata di pipinya.


"Maafkan mommy ya nak, selesai balapan ini kita akan berlibur ke luar kota untuk membangun sebuah toko" ujar Bila mencium seluruh permukaan wajah Adam.


"Jaga baik-baik ya, jangan sampai kecolongan hingga Adam terluka"


"Akan aku usahakan"

__ADS_1


__ADS_2