Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Adam.


__ADS_3

"Aku ingin membunuh Ferguson, Ava!" pekik Bila ketika ia diseret oleh Avalon menuju mobil mereka.


Avalon diam, dia memasukkan istrinya kedalam mobil dengan paksa.


Setelah kejadian tadi, Avalon langsung membawa Bila untuk pergi dari pelabuhan itu. Para anak buah Ferguson dan Wiliam sudah mati, Ferguson dan Wiliam saja yang Avalon biarkan untuk pergi dengan hidup hidup, meskipun banyak luka yang berada ditubuh mereka.


"Kenapa sih, aku tidak ingin hidupku terganggu oleh kedua pria biadab itu, aku ingin hidupku tenang, meskipun banyak orang yang menganggu, tapi tidak seperti mereka" keluh Bila mengeluarkan pendapatnya.


"Tuan besar hanya mengizinkan Adam yang menghabisi Ferguson!" jawab Avalon dengan nada sedikit membentak.


Amarahnya masih meluap-luap karena adegan ciuman panas antara Bila dan Wiliam. Katakan pada Avalon, mana ada suami yang rela melihat istrinya mencium orang lain didepan mata mereka sendiri. Apalagi orang lain itu adalah musuhnya sendiri.


Bila diam, selama pernikahan hanya sekali Avalon membentaknya, dan sekarang kenapa pria itu tiba-tiba marah, apa Bila memiliki salah?


Mobil berjalan dengan keheningan yang melanda, Avalon hanya fokus dengan ponsel yang dipegangnya. Sementara Bila tengah memikirkan apa yang telah terjadi sehingga Avalon mendiaminya.


Meskipun bisanya Avalon juga sama sama diam, namun sekarang diam Avalon Bila rasa sangat berbeda dengan diam Avalon yang biasanya.


Setelah perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam tanpa adanya pembicaraan, akhirnya mobil itu telah sampai pada mansion Avalon.


Avalon melirik istrinya yang sedang tidur sekilas, kemudian dia keluar tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Bila yang tengah tertidur didalam mobil.


"Tuan, bagaimana dengan nyonya?" tanya sekertaris Li mencegah Avalon masuk dengan melemparkan pertanyaan.


"Biarkan" jawab Avalon singkat lalu pergi menuju ruang kerjanya. Dia harus memutar otaknya lagi untuk cepat menyelesaikan permasalah ini. Sebenarnya ini masalah yang sepele, anak buah Ferguson dan Wiliam sangat lemah dibandingkan dengan kelompok Camora sekarang.


Jika dulu Camora kalah, maka, Avalon bersumpah sekarang, bahwa Camora akan memenangkan pertempuran jika ada.


Namun yang menjadi masalah utama kali ini adalah, Adam. Bagaimana caranya untuk melatih Adam agar bisa menghabisi nyawa Ferguson secepat mungkin.


Jika dia membiarkan Ferguson tetap hidup sampai Adam tumbuh dewasa. Besar kemungkinan hidup Avalon tidak akan tenang dan setiap waktu pasti ada anggota dari Camora yang akan kehilangan nyawa karena melindungi Adam.


Belum lagi Wiliam yang tidak bisa ia bunuh dengan instan, karena Andrew telah mengatakan padanya bahwa Wiliam harus dibunuh oleh tangan Adam sendiri. Sama seperti Ferguson.


Sementara itu, sekertaris Li memarkirkan mobilnya didepan mansion, mobil yang didalamnya ada sang nyonya yang ditinggal oleh Avalon.

__ADS_1


"Hei!" panggil sekertaris Li pada penjaga pintu mansion itu.


"Iya, tuan?"


"Jaga mobil ini, nyonya masih ada didalam" ujar sekertaris Li kemudian di angguk oleh penjaga tadi. Sekertaris Li kemudian berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai satu mansion besar ini.


                         >>[][][][][][][][][][][][][][][]<<


Mentari sudah mulai meninggi, sinarnya yang begitu hangat diawal-awal, lalu begitu panas ditengah-tengah dan sangat indah diakhir hari.


Kelopak mata cantik itu perlahan terbuka, mengerjabkan perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.


Menatap sekitar lalu wanita berwajah cantik dengan luka codet di alisnya seketika terkejut melihat dirinya berada dimana.


Dia berada didalam mobil yang ditumpanginya tadi malam. Tidak ada seorangpun kecuali dia.


Matanya mulai memerah menahan tangis, tubuh yang berada kaku dan tegang mendukung air mata itu turun dengan perlahan.


Wanita itu merasa tidak di perdulikan oleh seorang pun. Setidaknya jika tidak dipindahkan, dirinya dibangunkan untuk tidur ditempat yang seharusnya.


Bila menghapus air matanya. Apa Avalon marah padanya, apa ia membuat sebuah kesalahan?


Bila membuka pintu mobil itu, lalu keluar dan disambut oleh seorang penjaga dan seorang wanita yang sedang menunduk. Wanita itu adalah Ana, pelayan pribadinya.


"Nyonya" Ana menghampiri Bila.


"Kemana Avalon?" tanya Bila seketika. Jantungnya sudah berderak tak takuran, hatinya terasa diremas-remas. Baru saja Avalon merubah sikapnya sedikit hangat untuknya. Namun, sekarang apa, bajingan, pria sialan itu mampu memporak-porandakan hati Bila tanpa mengeluarkan satupun kata.


Ana terdiam, "Tuan sudah pergi pukul lima dengan tuan muda, nyonya" jawab Ana.


"Pergi?, kemana?"


"Saya tidak tahu, nyonya," jawab Ana membuat Bila kembali meneteskan air matanya.


"Anda menangis, nyonya?"

__ADS_1


"Ti—"


"Siapa yang menangis?" tanya Ed datang dari pintu keluar mansion. Pria itu menghampiri Bila.


Bila langsung menghapus air matanya, mengambil nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan.


"Dari mana, kau?" tanya Ed melihat Bila masih memakai baju yang sama.


Bila menggeleng. "Ayo Ana, aku ingin dipijat" Bila menarik tangan Ana, dia beranjak pergi dari hadapan Ed.


Namun, sebelum itu, Ed terlebih dahulu menarik Bila dalam dekapannya. "Menangis lah," ujarnya membuat Bila seketika itu menangis.


Dia mengencangkan pelukannya pada Ed. Entah kenapa hatinya terasa sangat nyeri dan sakit saat tahu bahwa Avalon meninggalkannya dalam mobil semalaman.


Bersahabat dengan Bila selama bertahun-tahun, membuat Ed sangat peka dengan kondisi Bila, meskipun tanpa Bila mengucapkan dirinya Kenapa.


Sudah Ed bilang, Bila adalah wanita ekstrofet. Jika Bila tiba tiba diam dia pasti memiliki satu masalah, dan itu sangat mudah untuk ditebak.


Ed mengelus rambut Bila lembut.


Lima menit berlalu, Bila ingin melepaskan pelukan itu, namun, Ed menahan, dia mencakup wajah Bila dengan kedua tangannya lembut.


"Jangan menangis, kau semakin jelek" ujar Ed menghapus sisa-sisa air mata dimata Bila.


Bila mengangguk, tangannya semakin berpegang erat pada pinggang Ed. Bila sangat beruntung memiliki sahabat seperti Ed, pria lajang itu selalu mengerti dirinya.


"Terimakasih," ujarnya tersenyum simpul, dia mencium pipi Ed kemudian mundur tiga langkah, "Aku akan mandi, kau pergilah" sambung Bila lalu beranjak pergi dari hadapan Ed diikuti oleh Ana di belakangnya dengan perasaan yang juga sama kacaunya.


Di ujung sana, Ana melihat tuan besarnya tengah menatap nyonyanya dengan datar serta tangan yang mengepal erat, lalu tuannya langsung pergi menghampiri tuan mudanya yang sudah memanggilnya ketika nyonyanya mencium sahabatnya.


Avalon melangkah masuk kedalam mobilnya kembali, niat hati untuk mengambil pistolnya seketika urung melihat istrinya berada di pelukan pria lain setelah kejadian malam tadi.


Apa ia telah salah menjadikan Bila sebagai istrinya?.


"Sial4n, dia seperti seorang pelacur yang memiliki banyak lelaki"

__ADS_1


__ADS_2