Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Pagi hari.


__ADS_3

..."Percaya diri itu penting,...


...tapi yang lebih penting itu sadar diri"....


...----------------...


...----------------...


...----------------...


"Nyonya, mari bangun" ucap seorang pelayan pada wanita yang tengah tertidur pulas hanya dengan menggunakan selimut putih yang melindungi tubuhnya.


Bila perlahan bangun, dia melihat ke samping nya, tidak ada seorang pun, kemana perginya sang suami itu?. Lalu, Bila menoleh, melihat satu orang pelayan yang kemarin ingin memandikannya.


Bila bangkit dari tidurnya, duduk dan melirik kearah jam pukul 09.00. "Kemana Avalon pergi?" tanya Bila merekatkan selimutnya.


"Tuan sudah berangkat kekantor tiga jam yang lalu, nyonya" jawab pelayan itu. Bila mengangguk.


"Adam? Bagaimana dengannya?" Bila sampai melupakan Adam, bocah itu, seharusnya sekarang dia sudah pergi bersekolah. Dan, jika bersekolah apakah anak itu akan aman nantinya? Dia takut kejadian penculikan seperti yang kau kembali terjadi. Dia nanti akan bertanya kepada Avalon.


"Tuan muda sudah berangkat ke sekolah, nyonya"


"Siapa yang mengantarkan?"


"Tuan besar, nyonya" Bila mengangguk.


"Jadi, kalian ingin melakukan apa?"


"Kami akan memijat anda nyonya, dan ini kata tuan besar" salah satu pelayan memberikan sebuah kertas.


Bila membuka kertas itu lalu membaca tulisan yang berada didalamnya. Ketika Bila selesai membaca surat dari Avalon itu, dia mengumpat karena kesal. "SIAL4N!" pekiknya.


"Jangan memberontak, turuti apa kata pelayan, karena itu semua adalah perintahku!"—Avalon.

__ADS_1


"Sial4n!, jadi apa kalian juga akan memandikanku?"


"Benar nyonya"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Ana terkejut dengan sikap sang nyonya, tubuhnya sudah bergetar dengan tatapan tajamnya sedari tadi, ditambah dengan wajah judesnya. Ana mengira jika sang nyonya juga memiliki sikap yang judes juga sesuai dengan wajahnya.


Namun, ternyata tidak, sang nyonya sangat bar-bar, dia tidak memandang rendah kearahnya. Dan ketika berada di dalam kamar mandi tadi, Bila menyuruh Ana untuk tidak canggung padanya.


Sang nyonya bahkan mengatakan untuk menganggap dirinya sebagai seorang teman, bukan majikan, namun Ana sadar diri dan sadar posisi, dia akan menghilangkan ras canggungnya agar sang nyonya nyaman berada di dekatnya, dan menganggap Bila sebagai majikannya.


"Aku tidak akan memakai itu!" pekik Bila menunjuk dua dress yang dibawah oleh seorang wanita yang mengaku sebagai pelayan pribadinya, bernama Ana.


"Tapi nyonya, anda harus memakai ini" bujuk Ana menunjukkan dress yang berada di tangannya, dress dengan selutut dengan bawahan yang mengembang.


Dress dengan warna Sage dengan corak bunga, dan dress dengan warna pink dengan corak kotak kotak.


"Jika aku menolak bagaimana?" tanya Bila melotot, sumur hidupnya dia belum yang namanya memakai rok, dia hanya memakai celana, meskipun saat sekolah dulu.


"Standar? Apa disini semuanya di atur?!" nafas Bila memburu, dia tidak menyangka kehidupan orang kaya sangat ketat dengan peraturan.


"Iya nona, bahkan baju para pelayan pun juga di atur" jawabnya.


"Aaaa," Bila menghampiri Ana, dia memegang kedua bahu Ana dan menatap matanya.


"Apa kau tidak muak dengan semua ini, Ana?" tanya Bila menggoyang-goyangkan tubuh Ana.


Ana menggeleng, "Saya sudah terbiasa, nyonya, mungkin anda juga akan terbiasa"


Bila melepas pegangan di pundak Ana. "Sudah berapa lama kau berada di sini, Ana?" tanyanya, merekatkan kimono yang melekat di tubuhnya.


"Lima tahun"

__ADS_1


"Apaa!!" Bila melotot.


"Ayo nyonya, anda akan memakai pakaian yang mana?" tanya Ana lagi.


"Aku akan memakai celana pendek saja, dengan kaos hitam yang sangat besar, ah itu lebih nyaman daripada ini, Ana!" rengek Bila.


"Tapi anda tidak memiliki pilihan yang lainnya nyonya, dan sepertinya pakaian itu akan menjadi sebuah rencana, karena semua pakaian yang nyonya sekarang milik adalah dress, semua"


Bila meneguk ludah nya kasar, "Aku tidak ingin, aku akan menelepon Avalon!" Bila berlari kearah nakas, tapi langkahnya terhenti ketika dia ingat bahwa ia tidak memiliki nomor telepon sang suami.


"Ayo nyonya, anda ingin memakai pakaian yang mana?"


Bila melihat sekali lagi dia dress yang dibawa oleh Ana, melihatnya dengan lesu dan kemudian menunjuk kearah dress yang berada ditangan kanan wanita itu.


Dress berwarna hijau Sage dengan corak bunga itu lebih baik daripada warna pink. Dia tidak suka dengan warna itu. Menurutnya itu sangat menjijikkan.


"Baiklah, mari saya pakaikan nyonya"


"Kau gila!!"


Setelah berpakaian dengan memakainya sendiri, Bila duduk didepan sebuah cermin dengan Ana yang mengoleskan berbagai macam produk di wajahnya. Hendak menolak pun pasti ujung-ujungnya akan terjadi pula. Jadi Bila mencoba untuk menerima semua yang didapatnya.


Selain untuk menyimpan tenaganya agar tidak cepat habis, Bila juga ingin merasakan rasanya menjadi orang kaya yang menurutnya 80% biasa saja 20% nya luar biasa. Luar biasa karena semuanya telah diatur.


"Aku tidak ingin dibedaki, Ana!" peringat Bila.


"Baik nyonya, saya hanya akan mengoleskan moisturizer" ucap Ana mengoleskan cairan yang memiliki tekstur agak kental itu.


Bila hanya mengangguk, dia tidak pernah melakukan perawatan diwajahnya, hanya sabun wajah dan itu ketika mandi saja. Dan lagi, sabun wajah yang Bila kenakan bukan sabun wajah, tapi sabun badan cair. Bila sama sekali tidak mengerti tentang hal itu.


Dan ini adalah kali keempat benda yang yang menyentuh permukaan wajahnya, tapi Bila tidak tahu benda apa itu. Ia hanya duduk diam dengan Ana yang menyiapkan semuanya. Yang pasti produk yang digunakan bukan produk abal-abal, produk itu pasti berkualitas tinggi dengan harga yang tinggi pula.


"Apa masih lama, Ana~?" tanya Bila merengek.

__ADS_1


"Tidak nyonya, hanya kurang dua tahapan, untuk krim mata dan sun screen."


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


__ADS_2