Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Kepala.


__ADS_3

Satu bulan berlalu..


"Suamiku tidak pulang pulang" keluh Gina menghela nafasnya pelan. Dia memandang langit yang sangat cerah berwarna hitam itu dengan lesu.


Tepat hari ini, adalah hari ketiga puluh suaminya pergi namun tak kunjung kembali. Sang suami pergi dengan suami Bila dan sahabatnya. Waktu itu, suaminya tidak mengatakan apapun sebagai alasan. Dia hanya mengabari bahwa dia akan pergi mengikuti Avalon membalaskan dendamnya.


Bila tersenyum simpul, bagi Gina, mungkin hari ini adalah hari ketiga puluh suaminya pergi namun belum kembali juga. Berbeda dengannya, hari ini adalah tepat hari ke-lima puluh delapan. Sang suami belum juga kembali setelah kejadian malam itu yang mampu membuat dirinya begitu tidak dianggap oleh sang suami.


Berarti, kurang lebih dua bulan setengah dirinya tidak bertemu dengan anaknya. Jika Gina beruntung untuk diberikan kejelasan meskipun hanya setitik cahaya, itu lebih baik jika dibandingkan dengan dirinya yang tidak sama sekali tidak diberikan kabar apapun dari Avalon.


"Sebentar lagi pulang" jawab Bila mengelus rambut Lengkara yang sudah tertidur di pahanya. Malam ini mereka habiskan di roof top mansion milik Adam. Roof top yang biasanya gunakan untuk mendaratkannys sebuah helikopter. Sebab ada huruf H besar di area yang sangat luas itu.


"Kau bertambah gemuk, Bil" celetuk Gina melihat tubuh Bila yang lebih berisi dari bulan lalu.


Bila mengangguk, "Entah kenapa, akhir-akhir ini aku gampang lapar" jawab Bila.


"Hamil mungkin" ucap Gina gamblang.


Bila menoleh, kemudian terkekeh geli "Jangan sembarang—"


Wusshhh...


Gina dan Bila serentak mendongak kesamping kanan mendengar sebuah baling baling besar yang diterpa oleh angin. Gina tersenyum lebar, dia seketika berdiri dan melompat lompat senang karena dirinya sebentar lagi akan bertemu dengan Bian.


Sementara Bila hanya tersenyum simpul dengan hati yang bergetar hebat merasakan rasa sakit. Entah kenapa, tiba tiba hatinya terasa sangat ngilu.


Bila tidak berdiri, dia masih berada diposisi semula, dan jarak antara tempatnya duduk dan berhentinya helikopter itu lumayan jauh.


"Sayang!" pekik Gina melambaikan tangannya ketika helikopter yang ditumpangi oleh suaminya telah berada diatas tanah.


"Sayang!" pekiknya sekali lagi.


Diujung sana ada Bian yang turun dengan senyuman yang merekah, dia membuka kedua tangannya bermaksud untuk mempersilahkan istrinya berlari lalu memeluknya.


Gina berlari dengan kencang, begitu pula dengan Bian yang sangat merindukan pelukan hangat dari tubuh kurus itu.


"Sayang!" pekik Gina melompat ke tubuh Bian lalu memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Apa kau merindukanku?" tanyanya.


"Sangat!" Bian berjalan mendahului rekannya, dia telah selesai dengan pekerjaannya, dan dia tidak lagi perduli dengan rekannya yang tertinggal. Kerinduannya sangat besar untuk sang istri yang sudah lama tak ia temui bahkan hubungi.


Bian membawa Gina ke pintu lift untuk menuju kekamar nya.


"Aku pergi!" ujar Ed menepuk punggung Avalon pelan lalu sedikit berlari ke arah lift, matanya sangat berat dan mengharuskan untuknya segera tidur.


Tinggal Avalon dan Adam yang menenteng sebuah benda.


"Mommy!!!" pekik Adam ketika kakinya sudah menyentuh tanah, dia berlari dengan benda ditangannya menghampiri Bila dengan segala keterkejutannya.


Sementara Avalon menatap Bila yang tengah memangku anaknya dengan datar, dia berjalan menghampiri Bila.


"Apa ya—"


"Kepala Ferguson untuk mommy!"


"Uhuk..."


Huek ....


Malam pembasmian.


Setelah kurang lebih satu bulan berada di negara orang untuk menjemput ajal Ferguson dan Wiliam, mereka merangkai berbagai rencana dan persiapan mulai dari fisik hingga segala aspek yang dibutuhkan. Para pria itu sudah berada disebuah hutan yang terletak di negara istri Avalon.


"Ini adalah tempat yang sering Bila kunjungi ketika sedang ada masalah dulu" monolog Ed menatap danau yang tenang.


"Aku ingin mandi disini, om" sahut Adam menatap danau itu dengan berbinar.


"Ayo bergerak!" titah Avalon berjalan menaiki mobilnya diikuti dengan Ed, Bian, dan Adam.


Karena jarak antara dan markas Wiliam— tempat Ferguson bersembunyi sedikit jauh dari danau yang terletak diujung Utara sementara markas itu terletak diujung selatan.


"Apa semuanya sudah berjalan sesuai rencana, Dad?" tanya Adam memainkan tab yang dipegangnya.


Avalon hanya mengangguk. Tak lama, mereka sudah sampai diatas tanah yang sedikit tinggi dan melihat markas Wiliam sudah terkepung oleh pasukan Camora dari berbagai arah.

__ADS_1


Mulai dari udara— para pasukan berada diatas pohon, pasukan itu adalah pasukan khusus senjata jarak jauh yang akan mem-backing atau orang yang siap dijadikan tameng atau pelindung ketika terjadi masalah atau keadaan yang menyudutkan yang tentunya dari jarak jauh.


Dan darat yang sudah bersedia berjejer didepan pagar yang membentengi seluruh markas ini. Tak lupa pula dengan para hacker yang mulai menyebar virus di seluruh perangkat lunak di seluruh mansion itu.


"Sudah semuanya, Dad, para hacker telah berhasil mengacak-acak semua perangkat lunak di mansion itu. Saatnya untuk membalaskan dendam ini" ujar Adam masuk kedalam mobil diikuti oleh ketiga pria dibelakangnya.


Mobil itu bergerak dengan kecepatan diatas rata-rata. Dengan Avalon yang menjadi pengemudi kali ini.


Brak!!


Mobil itu menghantam keras pintu gerbang mansion itu, pintu yang semu terkunci akhirnya jebol karena mobil Avalon yang di disain khusus anti penyok. Kekuatan mobil itu setra dengan kekuatan tank milik anggota militer di negara manapun.


Dan ketika mobil itu sudah masuk kedalam markas yang sangat megah yang cocoknya disebut dengan mansion itu, para pasukan mulai masuk dan menyerang anggota dari Ferguson maupun Wiliam.


Penyerangan kali ini di buat sangat sunyi. Para pasukan langsung membunuh tanpa adanya adu jotos atau apapun itu. Mengingat bahwa Ferguson masih memiliki darah keturunan Camora. Untuk para anggota Arion, Camora memberikannya ijin untuk merasakan kematian yang tidak menyakitkan. Hitung-hitung bonus pengabdian mereka untuk Ferguson serta Wiliam.


Avalon masuk kedalam kamar Ferguson dengan Adam dibelakangnya. Sementara Ed dan Bian mengincar Wiliam.


Ferguson yang tengah tertidur dengan pulas tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya.


"Beri kematian yang singkat serta tidak menyakitkan" peringat Avalon ketika melihat Adam sudah berjalan maju dengan belati dikedua tangannya.


"Baik" Adam naik keatas ranjang Ferguson, Avalon melihat dan sudah membakar cerutunya.


Satu bulan terakhir, dia sangat menyukai cerutu untuk bahan penghilang pikiran yang sangat ampuh tanpa harus kehilangan kesadaran alias mabuk.


Adam tersenyum miring, dia mengangkat tinggi-tinggi belati itu dan langsung menusukkannya tepat di jantung Ferguson.


Mata Ferguson yang semula terpejam langsung terbuka dengan sangat lebar diikuti dengan batik yang mengeluarkan darah.


"Hai, paman" ujar Adam, dia sekarang berada diatas tubuh Ferguson dengan kedua kaki yang sudah menginjak tangan Ferguson.


"Sial4n, ap—"


"Aku hanya membalaskan dendam kedua orang tuaku" ujar Adam kembali menancapkan belati ke-duanya ke jantung Ferguson.


Crazzt...

__ADS_1


"Ahhh!" erang Ferguson merasakan sangat sakit. Dia sudah tidak bisa melawan, yang dirasakan sekarang adalah, ingin mendapatkan udara yang perlahan demi perlahan tidak masuk kedalam rongga dadanya.


Darah sudah mengucur, Adam menarik satu belati. "Sesuai dengan ucapan Daddy, kematian yang tidak menyakitkan" ujar Adam langsung menancapkan belati itu ke leher Ferguson.


__ADS_2