
"Happy birthday anak mommy" ujar Bila di lanjut dengan Bian dan Ed.
Adam tersenyum. "Adi Adam ulang ahun mommy?" (Jadi Adam ulang tahun mommy?) mata Adam berbinar-binar.
"Benar, Adam berulang tahun," Bila bertepuk tangan sembari tersenyum lebar. Bian dan Ed juga ikut bertepuk tangan.
"Woah, hebat! ayo anyi mommy" (Ayo bernyanyi mommy) seru Adam tersenyum lebar.
Yang Adam tahu tentang ulang tahun yang pernah dia tonton di televisi bersama dengan pelayan baru nya adalah, sebuah perayaan yang di dalam nya terdapat badut, bermacam-macam balon, bernyanyi, kue yang besar dan indah, tepuk tangan, nyanyian yang meriah dan satu yang Adam inginkan sedari dulu, yaitu, meniup lilin. Adam sangat ingin.
"Baiklah, mati kita bernyanyi!" seru Bila menyenggol Bian dan Bian.
"Ayo bernyanyi" Ed tersenyum lebar. Begitupula dengan Bian, dia sekarang tersenyum tipis dengan tangan yang sudah menyatu bersiap untuk bertepuk tangan.
Tepat hari ini, adalah hari Adam di temukan, satu setengah tahun yang lalu tepat nya.
"Happy birthday Adam..."
"Happy birthday Adam..."
"Happy birthday, happy birthday....."
"Happy birthday Adam..."
Prok...
Prok...
Prok...
Prok...
Prok..
Nyanyian itu selesai, dengan di akhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari keempat tangan yang memiliki bentuk, tekstur yang berbeda.
Adam tertawa senang, "Horeee!!!" pekiknya melompat kecil sembari bertepuk tangan meriah.
"Sekarang, waktu nya Adam meniup lilin ny—"
Dor..
"SIAL4N, ANAK KU BAHKAN BELUM MENIUP LILINNYA BANGS4T!" Bila memekik kesal, sebuah peluru dari sebuah pistol menghancurkan kue anak nya.
Untung saja Bila menyingkirkan tubuh Adam sedetik sebelum peluru itu menembus kue ulangtahun milik Adam.
"Ue Adam~" lirih Adam melihat kue nya yang sudah hancur tak bersisa.
"Menunduk!" seru Bila. Bian mengambil tubuh Adam kemudian menunduk, di ikuti oleh Bila dan Ed.
Mereka bersembunyi di belakang meja untuk menghindari peluru yang mulai di tembak kan.
Brak...
__ADS_1
Pintu di dobrak dengan kencang nya.
Bila marah, dia melipat celana nya, mengambil dua buah pisau dari bawah paha nya. Untung saja dia memakai sebuah jas, jika dia tadi memakai dress pergerakan nya tidak akan bebas.
Bian yang tidak membawa senjata apapun akhirnya memilih untuk melindungi Adam, dia mendekap tubuh Adam erat erat.
Sementara Ed mengambil pistol yang baru dia beli beberapa hari yang lalu.
"Bian, lindungi Adam, aku dan Ed akan keluar" ujar Bila menyumbulkan kepalanya. Dia mengamati sepuluh orang yang berjalan ke arah tempat persembunyian nya.
"Bodoh" maki Bila melihat kesepuluh orang itu hanya membawa pistol, mereka sangat bodoh tidak membawa senjata lainnya.
"Ed, aku akan mengincar tengkuk mereka, dan kau bertugas untuk melindungi ku dari kejauhan" ujar Bila keluar dari persembunyiannya, dia berlari dengan kencang menuju sepuluh orang yang masing masing membawa sebuah pistol di tangan Bila.
Ed menyimpulkan kepalanya, dia melihat Bila yang sekarang sudah menantang maut dengan berlari, melompat di tengah tengah hujaman peluru.
"Matikan saja, yang terpenting anak itu tidak mati!" ujar seorang pria dengan tegas, para team nya mengangguk.
Mereka mulai menembak ke arah Bila yang dengan lincah nya melompat, berguling, berlari menghindari peluru yang mereka tembakkan.
Sret...
Dor!..
"Akhhhh!!!
Suara erangan, pekikan, tembakan, hantaman beradu menjadi satu. Bian hanya diam sembari menutup telinga Adam yang mulai ketakutan.
Sret...
Srettt....
Dor...
Dor.
Bila melompat kesana kemari, menggores dan menendang.
Dor...
Dor...
Hampir saja sebuah peluru menembus perut nya jika Ed tidak menembak tepat peluru itu.
Namun, lagi dan lagi Bila terlena dengan peluru yang hampir mengenai nya tadi, dia merasakan seorang pria menggoreskan sebuah pisau ke perut nya, namun, lagi dan lagi Ed membantu nya.
"Ada satu lagi, dia bersembunyi di belakang meja itu, hati- hati!" peringat pria itu baru menyadari bahwa ada Ed yang menembak mereka.
Kemeja putih milik Bila mulai berwarna merah, itu adalah warna darah nya.
"Sialan!" Bila menggila, dia menusuk jantung seorang pria dan mengambil pistol yang dia pegang.
Bruk....
__ADS_1
Dor!...
Bruk...
Dua orang mati, mereka terjatuh.
Orang orang itu geram ketika melihat kedua temannya sudah mati, mereka berdelapan melingkari Bila yang sedang berhenti mengambil nafas mereka.
"Siapa kalian? Apa kalian orang orang Wiliam?" tanya Bila was was. Setelah satu bulan lebih hidup tanpa adanya gangguan dari pria itu, ah lebih tepat nya Bila menghindari untuk keselamatan Adam.
Merek diam, Bila melihat mereka satu persatu dengan cara berputar, 'Wah, mereka adalah teman yang setia, mereka langsung bertindak ketika tahu bahwa teman nya ada yang mati. Dan mereka seperti nya tak menghiraukan apa yang di katakan oleh teman nya tadi' gumam Bila dalan hatinya, dia melihat tatapan orang- orang di depan nya saling memberikan sinyal.
Ed yang takut Bila kenapa-napa karena sudah dikerubungi oleh orang orang itu hampir keluar jika Bila tidak memberikan sebuah tanda dengan gelengan kepalanya agar Ed tidak keluar.
Ed hanya melindungi Bila dari jauh, biarkan dia yang turun tangan langsung menghabisi orang yang membuat ulang tahun anak nya kacau.
Dor...
Dor..
Dor...
Bila menunduk, sedetik kemudian orang orang itu terjatuh dengan peluru rekan nya yang menembus jantung mereka. Mereka menembak teman mereka sendiri, bukan Bila.
"Hahahaha, kalian mati!" pekik Bila melihat ruangan yang penuh dengan darah ini.
Bila melihat pisau milik nya yang berbalut d egan darah orang orang itu. "Ternyata mereka sangat bodoh seperti wiliam" ejek Bila menghampiri Ed dan Bian yang sudah keluar dari persembunyiannya.
"Tidak perlu banyak tenaga ternyata, pergerakan mereka seperti orang yang baru belajar, ahahahaha" sambung Bila tertawa lebar.
"Mommy~" lirih Adam melihat Bila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa anak mommy hmm?" tanya nya mengelus pipi bulat Adam dengan tangan penuh darah yang mulai mengering itu.
"Darah~" tunjuk Adam melihat perut Bila yang terbalut dengan kemeja putih yang sudah memerah itu.
"Sssttt" Bila memejamkan matanya, dia lupa jika dirinya terluka karena sayatan.
"Ayo keluar, dan pulang, seperti nya ini tidak segampang yang kita kita" Bian was- was.
"Benar, ayo pulang" ujar Bila berbaik arah, dia memimpin perjalanan kali ini.
Dor!..
Bila menembak seseorang yang akan menembak mereka yang bersembunyi di tengah kegelapan di balik pohon tempat parkir mobil nya.
"Ayo masuk cepat, mereka bertambah banyak!" ujar Bila.
"Telepon polisi, tidak mungkin kita menghadapi mereka bertiga!" ujar Ed menelepon polisi.
"Halo, saya ada di gedung Xc, saya di kejar oleh sekelompok orang, tolong saya, saya membawa balita"
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤...
__ADS_1