Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Tanpa rencana.


__ADS_3

Dengan baju tidur yang tetap melekat di tubuhnya, Bila berjalan di sebuah lorong pesawat pribadi yang di miliki oleh Avalon.


Setelah semua makian yang di lontarkan oleh Bila untuk Avalon, akhirnya ia menandatangani surat pernikahan mereka.


Mereka resmi menjadi seorang pasangan suami istri di dalam rumah Bila yang hanya di hadiri oleh enam orang, termasuk anak Bila dan anak Avalon.


Pernikahan dengan tidak adanya gaun, hanya baju tidur yang di kenakan Bila dan jas hitam yang di kenakan oleh Avalon menjadi gaun pengantin mereka, mungkin ini adalah pernikahan yang paling aneh untuk di kenang.


Mereka sempat mengambil foto berdua sebagai dokumentasi pernikahan mereka, di lanjut dengan masing-masing berfoto dengan membawa anak mereka di gendongan masing-masing.


Lalu, setelah itu, perdebatan kembali terjadi, ketika, Avalon mengatakan bahwa ia akan memboyong Bila dan anaknya ke negara yang jauh. Negara itu ada di benua Eropa, sementara tempat tinggal Bila berada di benua Asia.


Awalnya Bila menolak karena tokonya tidak ada yang menjaga, dan sekolah Adam juga berada di negara tempat kelahirannya, namun, belum selesai Bila berbicara sebuah kertas di layangkan oleh sekertaris Avalon ke atas meja.


Kertas itu berisi surat pemindahan pendidikan Adam, dan untuk toko miliknya, Avalon telah menyiapkan seseorang untuk mengelola penuh toko bunga itu.


Bila menyerah untuk menolak ajakan Avalon, tapi, ternyata tidak sampai disitu, Bila kembali menolak ikut dengan Avalon dengan alibi, bahwa ia belum izin pada kedua sahabatnya.


Namun, lagi dan lagi, ketika Bila hendak tersenyum karena mendapatkan alasan yang tepat, sebuah video di berikan oleh bawahan Avalon.


Vidio itu berisi wajah Ed dan wajah Bian yang sedang tersenyum dengan mengucapkan kata-kata selamat untuk pernikahan Bila, mereka sudah merestuinya.


Sial4n, Bila terus mengumpat seraya menyetujui perpindahannya ke negara yang memiliki empat musim itu. Negara yang berbeda dengan negaranya yang hanya memiliki dua musim¹.


Tapi, sepertinya, kesialan masih berpihak untuk Bila, ketika Bila ingin mengganti baju tidurnya untuk menjadi baju yang lebih layak di lihat, Avalon mengatakan bahwa pesawat yang di tumpanginya akan lepas landas dalam tiga puluh menit, sementara jarak rumah Bila dan bandara sedikit jauh dan memerlukan waktu tiga puluh menit.


Akhirnya, Bila mengikuti Avalon dengan terpaksa dengan baju pernikahannya, sesampainya di bandara, Bila kembali di buat emosi dengan Avalon, pria itu tidak mengatakan bahwa pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat pribadi yang keberangkatannya bisa di atur sesuka hatinya, kalau begitu, Bila ganti baju terlebih dahulu, tadi.


Dan begitulah ceritanya, awal Bila menggunakan baju tidur untuk lepas landas.


Di dalam pesawat pribadi milik Avalon, Bila sedang duduk di temani oleh Adam yang sedang melihat balita cantik di depannya dengan tatapan memuja.


"Mommy, dia sangat cantik" bisik Adam cekikikan di telinga sang mommy.


Bila menoleh, mereka sekarang duduk di sebuah kasur mini, di atas kasur itu terdapat tubuh Bila, Avalon, Adam, dan balita cantik yang belum Bila ketahui namanya.


Bila melihat Avalon, lalu mengalihkan pandangannya seketika manik mata mereka bertemu. Bila masih marah dengan Avalon, pria itu selalu mendominasi, dan ia korban dari dominasi itu.


"Om, siapa nama bayi ini?" tanya Adam.

__ADS_1


Avalon melihat kearah Adam, 'Tuan saya sudah menyelesaikannya, semua yang telah anda katakan, terimakasih' air mata Avalon hampir tumpah melihat wajah anak dari tuannya ini.


Matanya.., sungguh Adam adalah salinan dari sang tuan, dan nasib bocah itu sama persis dengan sang tuan, harus menutup satu matanya demi memperkecil kemungkinan untuk di serang.


"Om!"


Avalon berdeham, untuk mengurangi rasa gugup yang di alaminya. "Khem.. namanya adalah Kara, lengkara" jawab Avalon.


"Woah... Nama yang sangat indah, Adam suka, sangat suka!"


'Nama itu...' Avalon melihat ke arah Bila, kemudian menariknya keluar dari ruangan itu, menyuruh seorang pramugari untuk menjaga kedua bocah itu sementara. Dia ingin berbicara sangat banyak dengan istrinya.


Bila terkejut, dia menghentakkan tangannya, dan mendengus kasar. "Kau kenapa, sih?!" tanya Bila ketika sudah berada di salah satu bilik yang sama persis dengan bilik yang tadi.


Bilik ini juga memiliki kasur kecil yang mungkin hanya cukup membuat tiga orang dewasa.


"Aku ingin bicara denganmu," Avalon duduk, dia menarik tangan istrinya agar turut duduk di depannya.


"Tinggal bicara, kenapa sampai membawa ku kesini? Jangan jang—"


"Ini, tentang anak mu" potong Avalon cepat, dia bahkan belum memikirkan itu sampai ke sana.


"Terkait nama Adam, kenapa kau menamainya? Padahal itu adalah nama aslinya, apa kau tahu apa arti dari tatto yang berada di—"


"Bajing4n! Jadi kau yang telah mentato anakku ha?!" Bila berdiri, dia sudah siap dengan ancang-ancang nya.


"Bukan ak—Buagghhh!!!"


"SIAL4N! JADI KAU YANG TELAH MENANAMKAN TINTA DI LEHER BAYI KECIL ITU HA!?"


Buaghh.


Buagh...


Buaghh....


"Tuan!" pintu terbuka dengan kerasnya, Sekertaris Li membuka pintu bilik dengan tangan kanan yang telah membawa pistol. Sekertaris Li khawatir ketika mendengar suara pukulan berkali-kali. Takut ada seseorang yang menyakiti sang tuan.


"SIAL4N!, TUTUP PINTUNYA"

__ADS_1


BUAGGHHKKKK!!


Kepala sekertaris Li terkena sebuah sendal, sendal itu adalah sendal rumahan yang Bila kenakan tadi, dia bahkan belum sempat mengganti sendalnya, memang semuanya gara-gara Avalon si KAPARAT itu.


Sekertaris Li langsung kembali menutup pintu bilik itu, mengingat mereka sudah menikah, mungkin urusan sebuah rumah tangga, ya meskipun sedikit tidak wajar untuk di lihat.


"Bila! Hentikan!" Avalon mencoba menepis tangan Bila yang terus menerus melayang ke arah tubuhnya.


"Sialan, di masih kecil, kenapa kau memberikannya tatto?!"


Bughhh...


Bughh...


Bugh...


"Bila, dengarkan penjelasan ku dulu!"


"Sial4n!"


BUAGGHHHKKKK....


Satu pukulan dengan menggunakan tenaga dalamnya mendarat di pipi kanan Avalon. Bila beranjak dari duduknya, dia duduk di depan Avalon seperti semula.


Avalon meringis, ternyata tenaga istrinya tidak main-main, dia kira Bila tidak sekuat yang dia bayangnya, ternyata, jauh lebih kuat.


Avalon bangkit dari tidurnya, mengelus sebentar pipinya yang terasa kram. "Jangan menyimpulkan sesuatu sebelum mendengar sebuah penjelasan, paham?" Avalon memberikan nasehatnya pertama kali untuk sang istri.


Istrinya sangat liar, dan harus mendapatkan sebuah pembinaan agar tidak liar.


Bila memutar bola matanya malas, "Jawab, Bila!"


"Paham" jawabnya tidak selera.


Avalon kembali menghela nafasnya, berhadapan dengan seorang wanita sangatlah susah, dia merasa serba salah meskipun ia tidak membuat kesalahan.


"Baiklah, apa kau mau mendengar sebuah cerita?" tanya Avalon serius.


Bila menoleh, "Apa kau yakin cerita itu akan membuat ku tertarik?" tanya Bila balik.

__ADS_1


Avalon mengangguk, "Mungkin kau akan banyak bertanya"


__ADS_2