Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Gombalan dari Adam.


__ADS_3

"Nyonya!" pekik Ana berlari kearah sang nyonya dengan membawa baju tidur atasan sang nyonya.


Adam berhenti ketika mendengar pekikan dari Ana, dia menoleh dan melihat seorang wanita cantik berlari kearah mereka dengan cepat.


Bila membalik tubuhnya, sementara para bodyguard yang menjaga didepan Bila berhenti menundukkan sangat kepala mereka. Sembari mengumpat karena tidak sengaja melihat benda besar yang bisanya tertutup itu.


"Nyonya!" Ana berhenti didepan Bila, dan dengan sigap tanpa seijin dari sang nyonya, Ana langsung memakaikan baju tidur atasan dari celana tidur yang Bila gunakan.


Ana tadi berlari sembari membawa baju tidur itu karena ia diberitahu oleh seorang pelayan yang melihat penampilan sang nyonya yang terbuka.


Ana yang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk berjaga jaga jika nyonya sudah terbangun langsung berlari dan masuk kedalam kamar Bila, meskipun dia tahu masuk kedalam kamar sang nyonya sangatlah lancang tanpa seijin dari pemilik kamar itu.


Hari ini, Ana mendapatkan kabar dari sang tuan agar tidak membangunkan Bila sebelum wanita itu terbangun dengan sendirinya.


Namun sangat membuat dirinya sangat syok adalah, penampilan sang nyonya yang jika sang tuan tahu bisa bisa dihukum, bukan hanya dirinya, melainkan sang nyonya.


"Kenapa, Ana?" tanya Bila menguap, dia belum sadar dengan penampilannya saat ini, dan tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Ana pada tubuhnya.


Adam hanya melihat pelayan itu memakaikan baju pada sang mommy dengan tatapan penuh tanyanya, kenapa mommy nya dipakaikan baju oleh Ana, padahal mommy nya sudah memakai baju, meskipun dapat terlihat dengan jelas perut keras Bila. Baju itu juga biasa digunakan oleh Bila dulu, ketika mommy nya belum menikah dengan daddy nya.


Adam menoleh kearah kanan dan kirinya, dia melihat para pria dengan badan besar itu menunduk, tidak berani melihat mommy nya. Biasanya para pria berbadan besar itu akan menatap kearah depan ketika mommy nya berjalan. Tapi, entahlah, Adam tidak akan memusingkan hal tidak berguna itu.


"Kak Ana, bawa mommy ke kamar Lengkara, Adam melupakan sesuatu" ujar Adam ketika melihat Ana selesai dengan pekerjaannya— memakaikan baju Bila.


"Baik, tuan muda!" Ana menuruti permintaan dari Adam, membawa sang nyonya yang masih menutup matanya sesekali menguap ataupun menggaruk kepalanya kearah kamar nona mudanya.


Setelah melihat sang mommy berjalan sedikit jauh, Adam menghampiri salah seorang bodyguard yang kini sudah kembali menegakkan kepala mereka.


"Om!" ujar Adam, tiba tiba saja pria itu berlutut didepan Adam, menyetarakan tubuhnya dan menunduk.


"Iya, tuan" jawab pria itu tegas.

__ADS_1


"Adam mau bertanya" ucapnya.


"Silakan, tuan!"


"Kenapa kalian menundukkan kepala ketika mommy berjalan?" tanya Adam.


"Karena kamu tidak pantas untuk melihat tubuh nyonya besar, tuan!" jawab pria itu membuat Adam mengangguk mengerti, jadi, mereka merasa tidak pantas untuk melihat tubuh mommy nya, padahal hanya sebatas perut, tapi kenapa?


"Memangnya kenapa, Om?" tanya Adam polos. Pria itu menelan ludahnya kasar, bagaimana ini, bagaimana cara mengatakannya pada sang tuan muda?


"Mm, saya tidak tahu tuan, lebih baik anda bertanya pada tuan besar, agar lebih jelas" ujar pria itu membuat Adam kembali menganggukkan kepalanya mengerti.


"Baiklah kalau begitu, aku akan bertanya pada Daddy, terimakasih om!" ujar Adam berlari untuk menyusul sang mommy.


***


Adam melihat mommy nya tengah duduk dan menatap layang kearah Lengkara yang tertawa dengan seluruh cat terbalut ditubuhnya.


"Nyonya, tolong saya~" lirih wanita itu menangis karena tidak tahan dengan semua kejahilan yang dimiliki oleh Lengkara.


Ana pun sama terkejutnya, dia menutup mulutnya agar tidak tertawa dikala seperti ini, teman seperjuangannya sekarang seperti patung hidup yang diberi cat dengan warna yang beragam.


Bila mengucek matanya agar bisa melihat dengan jernih apa yang berada didepannya, nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul kini sudah terkumpul dengan sangat cepatnya.


Bila berdiri, dia menghampiri Lengkara yang fokus dengan cat dan kuasnya. "Kau pergilah, bersihkan dirimu" ujar Bila membuat wanita yang menjadi pengasuh Lengkara beranjak pergi dengan kalimat syukur yang terucap atas bantuan dari Bila.


"Lengkara, kenapa Lengkara melukis ditubuh pengasuh Lengkara?" tanya Bila pelan, dia duduk disamping Lengkara yang masih asik dengan dunia lukisnya. Bila sudah pengalaman dengan hal seperti ini.


Merawat Adam lebih menantang daripada merawat Lengkara yang hanya melakukan hal jahil sedikit, pernah Adam dulu menyembunyikan kartu atm nya ketika ingin membayar uang bunga yang dikirim ke tokonya.


Adam pun juga ikut duduk disebelah Lengkara, kini gadis kecil itu diapit oleh Adam dan Bila.

__ADS_1


"Dia jahat, makanya Lengkara jahil padanya"


"Lengkara diapakan oleh dia?!" tanya Adam geram, dia tidak tahu kejadian aslinya, ketika dia ingin bermain ke kamar Lengkara untuk mengisi liburan di hari sabtunya melihat Lengkara tengah menyipratkan cat pada wanita itu.


Dan Adam langsung memanggil Bila karena ingin menjahili Lengkara, tujuannya agar Lengkara dimarahi oleh Bila.


"Dia mencubit Lengkara karena tidak tidur, padahal Lengkara ingin melukis!" seru Lengkara sebal dia menunjuk lengannya yang membiru terkena cubitan dari wanita laknat itu.


Bila geram, dia akan mengadukan hal ini pada Avalon nanti, "Apa Lengkara sering dicubit oleh pelayan itu?" tanya Bila membuat Lengkara dengan polosnya mengangguk.


"Setiap hari mom" adu Lengkara melihat kearah Bila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ututututu, sayang, jangan menangis, nanti cantiknya hilang" ujar Bila semakin membuat Lengkara menangis dengan kencangnya.


Lalu, gadis itu berbalik badan menghadap ke Adam, "Kakak, kata mommy aku jelek, apa seperti itu?" tanya Lengkara disela sela tangisnya.


"Tidak, Lengkara cantik kok, malah tercantik setelah mommy!" puja Adam menghapus air mata gadis cantik didepannya dengan pelan.


"Kenapa Lengkara tidak menjadi yang utama?" tanya nya lagi.


"Karena, Lengkara tidak menjadi istri Adam, jika Lengkara menjadi istri Adam maka Lengkara adalah wanita tercantik di hati adam!"


Uhuk!..


Bila tersedak ludahnya sendiri, kenapa Adam mengatakan hal manis seperti itu? Dan pernikahan, hahahah, Adam hanyalah bocah ingusan, kenapa dia mengatakan pernikahan dikala umurnya masih sebiji jagung. Tapi tak apa, mungkin itu hanya sebuah hiburan agar Lengkara tidak menangis.


Bila iri juga mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh Adam pada Lengkara. Sayangnya, Avalon tidak memiliki sifat seperti Adam, pria yang menjadi suaminya itu hanya memiliki sifat monoton, dan membosankan, namun disisi lain pria itu adalah pria sabar, menurutnya.


Dan pria sabar seperti Avalon cocok untuk wanita yang banyak tingkah sepertinya.


"Tapi, menikah itu ap—"

__ADS_1


"Lengkara, bagaimana jika Lengkara mengajari mommy melukis?"


__ADS_2