Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Menjenguk.


__ADS_3

Satu hari ada 24 jam. Dan dalam satu hari juga hanya ada tiga jam istimewa yang sangat dinantikan oleh Avalon untuk saat ini.


Mulai pukul 7 pagi hingga 8 pagi, pukul 14 siang hingga 15 siang, dan pukul 21 malam hingga 22 malam. Adalah waktu jenguk yang diperbolehkan untuk menjenguk Bila.


Hari ini adalah Adam yang pertama kali menjenguk. Sementara Avalon, Ed, dan Bian hanya dapat melihat Bila dari kaca yang tidak ditutup oleh perawat.


"Jika Bila sudah sembuh, aku akan membawanya" celetuk Ed melihat kondisi Bila yang sangat mengenaskan.


"Aku juga akan pergi, persetan dengan perjanjian itu" sahut Bian.


"Tidak, kalian tidak boleh membawanya tanpa persetujuan dari istriku" sahut Avalon, hanya ini satu-satunya hal yang dapat digunakan untuk mencegah istrinya pergi. Avalon tidak dapat berkutik lagi sekarang. Meskipun dirinya seorang mafia yang tidak pandang bulu, sahabat istrinya adalah orang yang tidak bisa dia sentuh.


Perjanjian hitam diatas putih seterusnya akan berlaku.n


Ed tersenyum miring, "Apa baru sekarang kau mengakui bahwa Bila adalah istrimu?"


"Aku baru tahu seorang mafia tidak dapat dipegang ucapannya" celetuk Bian menambahi.


Avalon kembali terdiam, dia tidak dapat lagi berbicara karena kedua sahabat istrinya sangat pandai berbicara. Jika begini jadinya, ia tidak akan mengambil kedua sahabat istrinya untuk dijadikannya rekan. Namun, jika tidak diambil, maka kesempatan untuk memajukan Camora akan minus. Dan kedua sahabat istrinya itu adalah orang yang sangat dicari oleh seluruh kelompok mafia di dunia ini.


Ibarat dua pria yang telah dibekali emas oleh tuhan.


Ceklek...


Perdebatan yang berakhir cukup membuat Avalon panas itu akhirnya berakhir juga dengan Adam yang keluar dari ruangan Bila.


"Ayo, om, kita pulang" ujar Adam menarik kedua tangan Ed dan Bian.


"Om akan berjaga" tolak Ed dan Bian bersamaan.


"Tidak, biarkan Avalon yang berjaga, hitung-hitung untuk merenungi semua kesalahannya" cegah Adam, Avalon yang mendengar itu hanya tersenyum tipis di ujung sana.


Ed dan Bian nampak berpikir sebentar, kemudian saling tatap dan mengangguk, "Baiklah, ayo" ujar Ed.

__ADS_1


Tanpa berpamitan pada Avalon, mereka bertiga akhirnya keluar dan memberikan ruang untuk Avalon berjaga.


Avalon berdiri, dan berjalan menuju pintu ruangan istrinya, ia ingin segera bertemu dengan sang istri secepat mungkin.


"Maaf tuan, namun waktu untuk berkunjung telah selesai," ujar seorang perawat mencegah langkah Avalon untuk masuk kedalam kamar istrinya.


"Aku suaminya, aku berhak!" balas Avalon dingin, menatap tajam perawat itu.


"Sudah SOP peraturan di rumah sakit ini, bahwa waktu berkunjung di jam tertentu dan dibatasi. Hal itu memberi waktu beristirahat bagi tubuh pasien pasca operasi" jelas perawat itu mencoba untuk kekeuh, karena malam ini waktunya untuk berjaga, dan jika ada seseorang yang melanggar maka dia yang akan terkena hukuman dengan pemotongan gaji sebesar 38%.


"Minggir!" seru Avalon memutar bola matanya malas.


"Maafkan saya tuan"


"Minggir atau—"


"Mohon maaf, ini ada keributan apa?" tanya seorang dokter menyela pembicaraan diantara kedua orang itu.


Avalon menoleh, "Panggil direktur utama rumah sakit ini!" titah Avalon membuat pria yang menyela tadi sedikit terkejut.


"Panggil sekarang, aku ingin dia sekarang. Sepuluh menit dari sekarang!" Avalon berjalan mundur sembari melihat jam tangannya, bersandar pada tembok rumah sakit dengan ponsel yang sudah dia pencet.


Dokter itu bertanya pada perawat, "Ada apa ini?"


"Tuan itu mengaku sebagai suaminya, dan beliau ingin masuk, padahal tadi ada seorang bocah kecil yang baru saja keluar, sesuai dengan SOP peraturan di rumah sakit ini, saya melarangnya, dokter" jelas perawat wanita itu dengan gugup.


Dokter itu mengangguk. Lalu dia menghampiri Avalon, "Maaf tuan, seau—"


"Tiga menit berlalu, sebelum seluruh rumah sakit ini aku bom" potong Avalon melempar ponsel kedua miliknya pada dokter itu, sementara dirinya masih belum terlepas pada ponsel yang dipegangnya.


Dan saat ini, saat dimana dirinya mempergunakan kekuasaan yang dipegangnya selama ini. Avalon memanfaatkan kekuasaannya dengan sebaik mungkin.


Dokter itu heran sendiri melihat ponsel yang dipegangnya. Lalu dokter itu memegang ponselnya dengan benar dan layar dari ponsel itu seketika menyala dan memperlihatkan titik titik merah dan waktu yang berada diatasnya.

__ADS_1


"Lima menit kau membuang waktumu" peringat Avalon menyeletuk.


Dokter itu gemetar, dia menatap wajah wanita didepannya yang mulai pucat. "Silahkan tuan, namun tolong matikan seluruh bom itu" hidup di negara yang super bebas, membuat dokter itu harus menelan kenyataan pahit bahwa seluruh peraturan di negara baik yang tertulis maupun tidak, pasti ada seorang pembangkang yang rela melakukan apapun untuk kepentingannya.


"Pilihan yang bagus" ujar Avalon melangkah, lalu memencet ponselnya dan ponsel yang dipegang oleh dokter tadi seketika terbakar membuat luka di bagian telapak tangannya.


"Dokter!" pekik perawat itu.


"Panggilkan cleaning service!"


Avalon masuk dengan tatapan yang berbeda, jika sedari tadi hanya tatapan datar dan tajamnya, maka sekarang adalah tatapan sendu yang diberikannya pada sang istri.


Avalon menghampiri ranjang Bila, lalu duduk disebelah ranjang yang menampung tubuh kurus istrinya.


"Sayang~" lirih Avalon menyentuh tangan Bila yang sedikit berisi. Sudah lama dirinya tidak kontak fisik dengan istrinya secara langsung. Sejak kejadian malam itu.


"Maafkan aku" ujar Avalon mengecup tangan dingin milik Bila.


Avalon sungguh menyesal, dirinya telah salah menilai semuanya. Seharusnya dia tidak melakukan hal gila seperti ini. Dia adalah ketua Camora sekarang.


Dan seorang ketua apalagi kelompok Camora tidak menyakiti seorang wanita. Sekarang malah dirinya sendiri yang menyakiti seorang wanita yang akan menjadi pendamping seumur hidupnya.


Avalon akan mencegah Bila untuk tidak pergi dari sisinya barang sedikit pun. Dan tidak akan membiarkan Ed dan Bian menjauhkan dia dan Bila. Tidak. Meskipun dirinya harus menentang keras seluruh dunia, Avalon akan menerobos itu.


Kesalahannya tidak dapat dimaafkan dengan sangat cepat. Dan Avalon bersumpah atas nama Camora, dirinya akan membuat Bila menjadi ratu baik di hati maupun dunianya.


Avalon juga kehilangan calon anaknya yang bahkan belum merasakan indahnya melihat ciptaan tuhan didepannya.


"Maafkan aku, Angelina, aku harap, setelah kau sadar, kau dapat memaafkan ku dan mau memulai hidup baru bersama dengan calon anak kita" Avalon mengecup bibir Bila yang pucat dan kering itu.


"Selalu manis, dan sekarang aku akan tidur disini, menemani tidur indah mu selama dua hari ke depan tanpa melihat pria bren gsek ini" ujar Avalon kembali mengecup bibir Bila, mengelus rambut Bila dan pipi wanita itu dengan sangat lembut.


•••

__ADS_1


Happy end, atau sad ending????


__ADS_2