Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
102


__ADS_3

Avalon berdiri dengan tangan yang sudah menyatu dengan tangan Bila. Mereka melakukan kesepakatan dan mengakhiri pertemuan mereka dengan membicarakan bahwa Bila akan menyerahkan seluruh apa yang akan dilakukan oleh Camma selanjutnya tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu. Bila mempercayai Avalon sepenuhnya.


Bukannya seperti dulu, yang setiap bulannya selalu ada perkembangan dan perubahan serta pengeluaran produk baru dengan persetujuan darinya memalui virtual atau hanya sebatas maya.


"Baik, mari saya antar," ujar Avalon menunjuk kearah pintu keluar dari ruangan privat di restoran itu.


Bila mengangguk, dia mengambil kembali berkas dan tasnya lalu menaruhnya didepan tubuhnya lalu berjalan dengan sangat anggun.


Setelah keluar dari ruangan itu, tepatnya didepan pintu, Avalon langsung memeluk tubuh Bila dengan sangat erat. Dia tidak lagi memperdulikan siapapun bahkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika dirinya telah kepergok oleh suami Bila telah menyentuh miliknya.


Karena, menurut Avalon, dirinya harus bersikap profesional dalam ruangan, jika sudah tidak berada didalam ruangan, maka peraturan tak kasat mata itu akan hilang.


"Bila, maafkan aku, aku mohon kembalilah" ujar Avalon memeluk tubuh Bila dengan erat, dia langsung mengatakan apa yang dia rasakan dan ia harapkan.


Bila terkejut, tubuhnya menegang, apa yang Avalon katakan itu.

__ADS_1


"Maaf, tuan," Bila mencoba melepaskan pelukan dari Avalon, namun, bukannya berhasil, pelukan Avalon semakin mengencang.


"Bila, maafkan aku, ayo kembali, apakah kau tidak merindukanku? Dan merindukan kedua anak kita yang terlantar semenjak kau pergi dari kehidupan kita?" tanya Avalon masih berada dipundak Bila.


Bila terdiam beberapa saat, bersamaan dengan ia merasakan rembesan air dipundaknya, Bila langsung menoleh dan melepaskan pelukan itu.


Avalon menatap Bila dengan air mata yang sudah merembes, ini kali kelima dirinya menangis karena Bila.


Sementara Bila agak sedikit terkejut dengan kenyataan Avalon yang menangis.


Avalon tersenyum miris. "Apakah tidak ada kesempatan untukku lagi, sayang?" tanya Avalon mengambil tangan Bila dan memegangnya. Sementara berkas yang tadi dipegangnya sudah terjatuh diatas lantai.


"Maaf tuan, tolong lepaskan saya," tangan Bila bergerak agar tangan Avalon dapat terlepas.


"Bila! Tolong jangan memakai bahasa sial4n itu, tolong kembalilah, aku sangat mencintaimu, tolong Bila, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi pendampingmu!" Avalon langsung mengatakan apa yang dirasakan tanpa membuang waktunya lagi.

__ADS_1


Bila yang sudah geram langsung menghempaskan tangan mereka agar terlepas begitu saja. "Tolong mengertilah, Avalon! Aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang baru, tolong jangan ganggu aku lagi!" ujar Bila.


"Kembalilah, Bila, aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuatmu bahagia denganku,"


"Aku sudah memiliki suami, Avalon!"


Avalon terdiam sebentar, lalu dengan brutalnya dia menggeleng dengan keras. "Tidak, kau bohong, kau belum menikah, kembalilah padaku, Bila, aku masih sangat mencintaimu, ijinkan sekali lagi untukku membahagiakan mu dan calon anak kita" Avalon kembali memegang kedua tangan Bila.


"Aku mohon,"


"Aku sudah memiliki suami, aku sudah memiliki keluarga sendiri Avalon, aku sudah memiliki kebahagiaanku sendiri!"


"Kau bohong!" sentak Avalon cepat.


"Dari mana kau tahu bahwa aku bohong ha? Katakan! Dari mana?!" pekik Bila. Untungnya mereka dalam ruangan privat. Jadi sedikit aman, meskipun ada CCTV yang mengawasi.

__ADS_1


"Aku tahu, kita masih terikat dengan perasaan kita Bila! aku mencintaimu, dan kau masih mencintaiku!"


__ADS_2