
"Ayo Bil, masuk!" ujar Bian panik, dia membuka pintu taxi di depannya dan mempersilahkan Bila untuk masuk.
"Hiks.. atit..my..." lirih Adam memeluk leher Bila erat, tak lupa dengan wajah yang dia sembunyikan di celuk leher mommy nya.
Bila mengelus pundak Adam pelan, mencoba menenangkan anak nya. Bila berjalan memasuki taxi yang telah Bian buka pintunya, tadi, Bila masih sempat menelpon Bian untuk di mintai pertolongan tadi ketika dia memasuki gerombolan ibu-ibu itu.
Ketika Bila merasa jika situasi tidak bisa dia kendalikan sendirian, karena mendengar market place yang di sebutkan oleh ibu-ibu tadi, dengan diam diam, dia mengambil handphone miliknya, menghubungi kedua sahabat nya melalui sambungan telepon grup, tak lama sambungan itu tersambung di salah satu sahabat nya, Bila langsung memasukkan ponselnya pada kantung celananya.
"Tangan nya tolong di jaga Bu, dia kesakitan!" hardik Bila berdiri dari jongkok nya. Di dalam hatinya, Bila berdoa, semoga kedua sahabat nya itu bisa mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sebuah pertolongan dan membantunya.
Meskipun di hatinya merasa sedikit kekhawatiran bahwa sambungan telepon di ponsel nya mati.
Untung saja Bian belum jauh dari supermarket tak sehat itu.
''Nanti aku susul ke sana, pak, tolong ke rumah sakit terdekat'' ujar Bian melalui kaca depan mobil taxi itu. Si sopir mengangguk. "Baik"
Mobil itu berjalan, Bian berbalik arah dan menemukan Ed yang tengah berdebat dengan segerombolan ibu-ibu tadi. Bian mendekat.
"Dia anak saya Bu, jadi wajar-wajar saja kalau saya tidak memperbolehkan ibu-ibu sekalian untuk memfoto anak saya, dan saya mendengar dari istri saya tadi, bahwa ibu-ibu berniat untuk menjual foto anak saya di market place ilegal yang marak sekarang!" jelas Ed mencegah ibu-ibu itu untuk menyusul Bila dan Bian.
Ed tengah berdebat dengan ibu-ibu di depannya sedari tadi, sejak Bila berjalan menuju taxi. Ed langsung mencegah pergerakan ibu-ibu itu agar tidak menyusul Bila.
"Kata siapa kamu kami akan menjual foto itu hah? Jangan fitnah kamu heh?!" teriak ibu-ibu di belakang mengelak.
'Ibu siapa ini woy!, tolong bawa pulang!' pekik ya tertahan dalam hati. Ed dongkal dengan kelakuan ibu-ibu di depannya nya ini.
"Saya tidak mengelak ibu, saya mendengar nya sendiri, tadi istri saya menelepon ketika melihat gerombolan yang mengerubungi anak dan istri saya, dan saya bisa laporkan hal itu pada aparat, dan mungkin ibu-ibu sekalian akan mendapatkan pasal berlapis, karena market place itu ilegal!"
"Dan asal ibu sekalian tahu, menjual foto anak saya di market place yang ilegal itu, membuat ibu-ibu sekalian menjadi tersangka untuk penculikan berencana, ibu tahu kan, bahwa market place itu mengincar seseorang yang memiliki tubuh unik dan langka untuk di jadikan sebagai alat penghasil uang?"
__ADS_1
"Mau lapor apa kamu hah? punya bukti kamu?" tanya ibu ibu satunya mulai panik ketika mendengar Ed berbicara soal penjara.
Ed menoleh ke arah Bian yang berjalan menuju parkiran.
''Saya memiliki bukti, bukti percakapan para ibu-ibu sekalian yang berencana menjual foto anak saya, untuk itu silahkan pergi!" ujar nya beranjak pergi dari hadapan keenam ibu-ibu rese itu.
Meninggalkan ibu-ibu yang tengah berdiskusi atas kesalahan mereka, mereka terlalu gegabah untuk menerima informasi mengenai market place itu. Sehingga tidak mengetahui kabar bahwa mereka bisa saja di penjara seumur hidup.
Mereka hanya tergiur dengan harga yang di tawarkan oleh market place ilegal itu. Satu juta dolar. Siapa yang tidak tergiur?.
"Sialan, memang rese ibu-ibu itu, ingin menjual tapi tidak tahu berita!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bila sekarang tengah duduk sambil mengumpat karena Adam masuk ke dalam ruang pemeriksaan sendirian, Bila tidak di perbolehkan masuk karena ruangan pemeriksaan itu semuanya steril. Bebas dari kuman.
"Sialan memang ibu-ibu rese itu!" umpatnya menendang nendang lantai di bawah nya kesal.
'Dia bukan wanita paten, wanita jika keadaan begini pasti menangis, ini malah mengumpat' Bian hanya menyimpan nya di dalam benak.
"Si4l4n, Si4l4n, Si4l4n, Si4l4n!" umpat nya mengacak-acak rambut nya.
Orang-orang yang berlalu-lalang dan melihat apa yang di lakukan oleh Bila mendelik, orang-orang itu seperti melihat orang gila ketika melihat Bila mengumpat dan mengacak rambut nya sendiri.
"Si4l4n, Si4l4n, Si4l4n!"
"Ada apa Bil?" tanya Ed duduk di samping Bian. Dia juga khawatir akan kondisi Adam, tapi sepertinya Ed tidak seperti Bila.
"Si4l4n! kapan dokter itu keluar b4ngs4t!" maki nya.
__ADS_1
"Duduk Bil" ujar Ed menarik baju Bila.
"Tid—"
Ceklek, "Keluarga pasien bernama Adam?" tanya seorang dokter.
Bila menoleh, dia menghampiri pria yang memakai baju pelindung di seluruh badannya. "Bagaimana Adam dok?" tanya nya menggebu-gebu. Tak lupa dengan senyum yang seakan menanti sebuah kabar baik yang terucap oleh mulut dokter itu.
Ed dan Bian datang, mereka berdiri di belakang tubuh Bila. "Adam memiliki kulit yang sangat sensitif, tapi bagian dari kulit itu hanya ada di seluruh wajah Adam" ujar dokter itu menjelaskan.
"Bagaimana dok? yang jelas kalau bicara!" tanya Bila menekan.
"Adam memiliki kulit yang sangat sensitif, tapi hanya di bagian sekitar wajah, dan untuk itu, sebaiknya ibu tidak membiarkan orang lain menyentuh pipi anak ibu sembarangan" jelas dokter itu lagi. Dokter itu tahu jika pipi Adam telah di cium atau di pegang oleh tangan yang membuat nya seperti ini. Selain karena penjelasan dari Bila tadi yang mengatakan bahwa anaknya di kepung oleh ibu-ibu rempong di supermarket sesaat sebelum Adam mengalami itu.
"Berarti saya tidak boleh mencium anak saya dok?" tanya Bila.
"Saya bilang, sebaiknya ibu tidak membiarkan orang lain, bukan ibu, jadi ibu boleh mencium anak ibu, dan ayah—" ucapan dokter itu berhenti karena melihat kedua orang pria di depannya "Dan ayahnya, siapa ayah nya?" tanya dokter itu.
"Saya!" jawab Ed dan Bian serentak. Bila menghela nafasnya. Kemudian dia menendang kaki di belakang nya. Entah kaki siapa.
"Ha?" dokter itu linglung.
"Maksud saya, dia" tunjuk Bian pada Ed. Dia mengalah karena Bila menendang kakinya. Dokter itu mengangguk paksa.
"Baik ibu, untuk itu saya permisi, dan untuk obat nya pihak rumah sakit yang akan memberikan nya sendiri, dan untuk sementara waktu anak ibu akan menginap di sini dan keluarga pasien tidak boleh menemuinya, hanya bisa melalui kaca" ujar dokter itu kembali masuk.
Bila mencerna ucapan dokter itu, sebelum umpatan nya kembali menggelegar di lorong rumah sakit itu. "DOKTER SI4L4N!"
***
__ADS_1
Maaf kemarin gak up karena kakak author menikah, dan untuk sekarang author akan up lagi. Nanti.
🙏🙏🙏❤️🩹❤️🩹