
Lagi dan lagi, Adam terbangun dengan tubuh yang kembali terikat. Beda nya tadi pagi balita itu terikat di sebuah kursi, namun, sekarang dia terikat di sebuah tembok.
Adam terikat dengan kondisi terlentang, membentuk huruf X.
Berbanding terbalik dengan penculikan tadi pagi yang di alami oleh Adam, tempat tadi begitu bersih, rapi dan sedikit nyaman, namun, sekarang tempat penyekapan Adam sangatlah kotor, pengap dan lembab.
"Hei, bocah!" seorang pria berjalan menghampiri Adam yang sudah lelah karena di ikat berdiri di sebuah tembok. Tembok itu sudah menjamur juga.
Adam menatap kedua pria di depannya dengan tatapan sendu, air mata di pipinya tidak bisa Adam hapus karena tangannya di ikat.
Adam tidak berbicara, berteriak, meronta atau apapun itu, dia sudah lelah.
"Ah, ternyata benar, dia adalah keturunan Camora" ucap pria itu melihat manik mata Adam berbeda.
Pria itu melihat manik mata yang sama persis dengan pria itu. "Bagaimana kau menemukan nya Erick?" tanya pria itu pada pria di belakang nya.
"Saya mendapatkan foto bocah itu di market place yang menjual sebuah sesuatu yang sangat indah, termasuk manusia" jawab Erick tanpa memberikan jeda di setiap kalimat nya. Dia adalah anjing yang paling setia pada pemilik nya.
Bahkan pria bernama William itu tak segan untuk memberikan kepercayaan pada bawahan nya, anjing nya untuk sebuah proyek besar yang jika gagal mampu menghancurkan perusahaan miliknya sekejap mata.
Wiliam mengangguk. "Erick, aku ingin duduk" ujar nya tanpa menoleh, matanya masih melihat lekat kedua manik mata yang menatap nya dengan polos.
Dengan sigap, Erick mengambilkan sebuah kursi untuk sang tuan. Wiliam duduk, dia menyulut rokok nya dan memandang Adam dengan senyum yang tetap melekat di bibir tebalnya.
"Bacakan Erick" Wiliam memberikan perintah.
Erick mengangguk, dia mengeluarkan ponsel nya dan membacakan semua hal yang berkaitan dengan Adam.
Mulai dari Bila sebagai ibu dan Bian yang menjadi ayah. Ed yang menjadi sahabat keduanya serta pegawai yang bekerja di toko Bila, keseharian dan semua rekam jejak kriminal yang di lakukan oleh ketiga nya.
"Apakah kau yakin bahwa anak di depan ku ini adalah keturunan Camora Erick, bukan kah dia memiliki ayah serta ibu yang lengkap?" tanya Wiliam mengerutkan keningnya, sedikit dongkal dengan datang dan membuang waktunya. Dirinya jauh jauh dari UK datang ke negara ini demi hanya mendapatkan hal ini?
"Saya sedikit ragu tuan, pasalnya, manik mata yang dimiliki oleh bocah di depan tuan adalah manik mata yang sangat langkah, hanya gen tertentu yang dapat memiliki nya. Dan saya mendapatkan sedikit bocoran tentang gen khusus yang hanya di miliki oleh kelompok Camora tuan, yaitu gen yang menurunkan manik mata yang berbeda di setiap generasi nya" jelas Erick tegas, meskipun ia sedikit ragu.
Wiliam mengangguk, "Lalu, apa pendapatmu?"
__ADS_1
"Saya berpendapat jika bocah itu adalah keturunan Camora yang di kabarkan hilang sebelum pertemuan pertama di ledakan, dan bukti di perkuat dengan kedua orang tua anak itu belum menikah, serta tidak adanya catatan medis bahwa ibu dari bocah di depan pernah melahirkan di rumah sakit manapun" Erick memberikan pendapat nya.
Wiliam mengangguk. "Hei, siapa namamu?" tanya Wiliam berdiri, menggeser kursi lalu duduk kembali.
"Adam" jawab Adam lirih.
"Siapa nama ayah mu?"
"Yah? pa tu?" (Ayah? Apa itu?) karena, Adam tidak pernah mendengar apa yang namanya Ayah, dia tidak pernah mendengar itu dari mulut Bila, Bian ataupun Ed.
Wiliam mengerutkan keningnya. "Kau berbicara apa bocah?" geram Wiliam.
"Maaf menyela tuan, bocah itu belum bisa berbicara dengan lancar" sela Erick.
"Ah, apa kau tahu apa yang dia katakan?" tanya Wiliam.
"Maafkan saya tuan, saya belum pernah mempelajari bahasa bayi" jawab nya.
"Lalu bagaimana cara ku mengetahui apa yang di ucapkan nya?" Wiliam geram sendiri.
"Saya akan memanggil pengasuh tuan kecil, tuan" Erick menekan earphone yang berada di telinganya, meminta seseorang untuk memanggilkan pengasuh anak dari Wiliam.
"Segerakan, aku tunggu lima menit"
"Baik tuan"
Lima menit berlalu, akhirnya seorang pengasuh bayi perempuan datang dengan nafas yang ngos-ngosan. "Saya sendiri tuan" ujar wanita itu menunduk.
"Terjemahkan bahasa balita itu" titah Wiliam menunjuk Adam dengan dagu nya.
Pelayan itu mengangguk, dia menghampiri Adam dan berdiri di depannya. Wanita itu nampak nya tidak terkejut dengan kondisi yang di alami oleh Adam. Karena ada banyak orang telah mengalami hal serupa sebelumnya.
"Hei bocah, siapa nama ayah mu?" tanya Wiliam sekali lagi.
"Yah? pa tu?" (Ayah? Apa itu?) Adam sangat ingin tahu apa yang di namakan Ayah apakah Mungkin sebuah benda? Atau nama seseorang?.
__ADS_1
"Apa yang dia katakan?" tanya Wiliam pada pelayan wanita itu.
"Ayah? Apa itu" jawab nya sesuai dengan apa yang di ketahui selama 15 tahun merawat anak orang dari satu tempat ke tempat yang lainnya.
"Apa-apaan ini, apa dia tidak punya ayah, kenapa sampai tidak mengetahui apa itu ayah?"
"Ayah itu pasangan dari ibu atau mommy, atau mama, atau bunda" jelas wanita itu pelan.
Adam mengangguk ketika mendapatkan informasi itu. Sungguh dirinya baru mengetahui itu, bahwa mommy memiliki pasangan yang di sebut sebagai Ayah.
Adam tahu, pasangan itu terdiri dari 2 orang, benda atau yang lainnya, Ed memberitahu nya dulu.
"Dak, Adam nya unya mommy" jawab Adam polos, memangnya kenapa jika dirinya tidak memiliki ayah?. Dia memiliki mommy yang hebat sampai dirinya ingin seperti mommy nya kelak.
"Kata nya, Adam tidak punya ayah, hanya punya mommy, tuan" jelas wanita itu.
"Sialan, yang benar ini mana?! Erick!" geram nya.
"Seperti yang saya duga tuan, kemungkinan besar bocah ini adalah keturunan Camora" jelas Erick mencoba meredam kemarahan sang tuan.
"Benar, sebaiknya kita apakan dia?" tanya Wiliam mulai yakin.
"Seba—"
"Maaf lancang tuan, sistem keamanan di retas oleh seseorang!" seorang pria datang dengan tergesa.
Wiliam sudah tidak dapat menyembunyikan kemarahan nya lagi, dia berdiri dan menghampiri pria tadi. "Kenapa kau mengacau sialan?" bentak Wiliam memukul wajah pria tadi.
"Maafkan saya tuan, sistem keamanan kita di serang dan data kita sebagian telah bocor" lapor pria itu sedikit bergetar.
"Sialan! kemana orang orang yang menjaga di sana? Tidak becus sama sekali bajing4n!" maki Wiliam melangkah menuju ruangan IT.
Jika data mereka bocor maka mereka bisa saja di serang oleh musuh. Karena kelemahan mereka ada di di data itu.
"Ayo keluar nak!"
__ADS_1
"Mom—sssttthhhh"