
Ruangan itu hening, hanya ada suara kipas angin yang berputar serta detik jam yang yang terpasang di dinding kamar bercat putih itu.
Ketiga orang itu diam setelah Bian menyelesaikan cerita dari apa yang di alami oleh Bian tadi. Kejadian yang membuat Bian terluka dan Adam yang menghilang.
Ketiga orang itu diam, mereka hanya fokus dengan pikiran masing masing dengan detak jantung yang sangat menggila.
Mereka diam, namun tidak dengan hati dan pikirannya. "Maafkan aku Bil," ujar Bian menunduk.
Ed yang sedang mengobati luka Bian mendongak, melihat lekat ke kedua sahabat nya lau kembali mengobati luka itu.
"Tidak, ini salah semuanya, jadi—" Bila menjeda kalimat nya, dia mengambil nafasnya mencoba meredam semua emosi yang bersarang di dirinya. Marah, kecewa, ingin menangis, khawatir semuanya bercampur menjadi satu seperti adonan kue yang akan di kembang kan menjadi sebuah donat.
"Bagaimana cara kita menemukan Adam?" sambung nya. Nada yang di ucapkan oleh Bila sudah tidak normal. Khawatiran nya sudah memuncak seat ini.
"Aku tidak tahu, tidak ada pelacak di tubuh Adam" jawab Bian lirih. Sama sekali tidak ada jejak, mereka tidak meletakkan alat apapun pada Adam. Tidak ada jejak.
Ed diam, dia tidak bisa melakukan apapun pada bocah itu.
Bila menumpahkan air matanya, kali ini mereka telah di pukul mundur sebelum berjuang. Entah karena apa Adam yang menjadi incaran para orang orang itu
"Kenapa mereka mengincar Adam?" tanya Bila lirih. Dia menangis dengan kedua tangan yang sudah menutup wajah nya sekarang.
"Dia istimewa, Bil," jawab Ed menyahuti.
Perasaan Bila sekarang bercampur aduk, dia ingin menyalahkan siapa saat ini? Mereka semuanya lengah, menganggap semuanya akan baik baik saja.
"Apa kita ke ruangan bawah tanah tadi?" tanya Ed seperti mendapatkan pemikiran cara mendapatkan bocah istimewa itu kembali.
Bila lupa. Dia terlalu terbuai dengan kertas yang memiliki nominal yang besar itu. Bila terlalu fokus dengan uang hingga melupakan Adam yang pagi tadi di culik oleh orang. Dia lupa.
"Tidak. Mereka tidak ada di sana" sahut Bian cepat sembari menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bagaimana Bi, siapa ta—"
"Pakai logika mu, Ed" sahut Bila memotong ucapan Ed, dia berdiri dan mengambil sebuah kertas yang dia simpan dengan sangat apik.
Mengambil dan membawa nya keluar kamar dan meninggal dua orang yang sedang berpikir dengan keras nya.
__ADS_1
Bila duduk sembari mengeluarkan rokok dan korek api dari bungkus nya. Mengapit nya di celah bibir dan menyulutnya dengan korek api.
Bila bukan pecandu, namun, dirinya sangat suka menghembuskan nafas yang bercampur dengan asap putih itu ketika sedang tertekan.
Cobaan silih berganti. Seperti tidak ada jeda untuk Bila merasakan bernafas dengan bebas nan lega.
Bila melihat kertas kecil yang memiliki tekstur aneh di tangannya. Kertas itu adalah kertas yang dia temukan satu tahun yang lalu di depan pintunya.
Kertas yang memberitahu Bila bahwa dirinya harus merawat dan menjaga Adam sepenuh nya. Kertas dengan tulisan yang sangat rapi dan indah.
"Siapapun kau, maafkan aku telah gagal menjaga bayi istimewa itu" ujar nya melihat lekat kertas yang di pegang nya.
Bila mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu. Awal semua kejadian yang membuat dia bahagia saat melihat tawa dan senyum bayi itu.
Bila bangkit duduk nya, meletakkan kertas itu dan melangkah ke tengah tengah rumput di depan rumah nya.
"BAJING4N!!!"
"KAPARAT SIALAN!" pekik nya, lalu kembali duduk. Dia tidak segila itu untuk berteriak terlalu lama dan menggangu tidur para tetangga nya. Hari sangat petang, sangat sepi dan sangat dingin.
Bila mengacak rambut nya. "Tuhan bantu aku" lirih nya. Sudah lama dia tidak mengingat dengan tuhan nya.
"Bajing4n!" Bila melihat kertas itu basah karena embun yang sudah mulai bermunculan malam ini.
Bila meletakkan kertas itu di atas pahanya yang terlipat, baru saja meletakkan nya, kertas itu berubah warna menjadi kertas berwarna coklat tua dan ukiran aksara Jawa di atas nya.
"Apa ini?" beo Bila berdiri. Dia merasa jika ini adalah sebuah petunjuk yang di berikan oleh tuhan pada nya.
Bila masuk dengan tergesa. "Hei, lihat ini!" pekik Bila tersenyum. Dia duduk di sebelah Bian yang tidak beranjak dari duduk nya sedari tadi.
"Apa itu Bil?" tanya Ed melihat kertas yang berada di tangan Bila. Ed penasaran, tadi Bila keluar dengan kacau sekarang kembali dengan senyuman yang tak wajar.
"Kalian ingat kertas yang aku temukan di depan rumah dulu?" tanya Bila.
Kedua pria itu mengangguk.
"Apa kalian mendengar aku mengumpat tadi?" tanya nya lagi.
__ADS_1
Kedua pria itu kembali mengangguk.
"Tadi aku keluar, aku membawa. Kertas ini, semula berwarna putih, aku tinggal mengumpat saat kembali aku sudah menemukan kertas yang semula berwarna putih jini berubah menjadi warna coklat"jelas Bila.
Bian mengambil kertas itu dari tangan Bila. "Aksara Jawa, aku butuh sebuah ponsel!" ujar nya menatap Ed.
Ed yang mengerti pun mengeluarkan ponsel nya, dan memberikan nya pada Bian.
Bila diam, dia melihat kembali tulisan yang sedang di terjemahkan oleh Bian. Tulisan dengan aksara Jawa yang memenuhi kertas. Lagi lagi aksara Jawa, ada apa dengan aksara jawa?.
꧋ꦣꦶꦭꦺꦲꦺꦂꦧꦪꦶꦆꦤꦶꦄꦣꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦠꦠ꧀ꦠꦺꦴ꧈ꦄꦂꦠꦶꦠꦠ꧀ꦠꦺꦴꦆꦠꦸꦄꦣꦭꦃꦱꦤ꧀ꦝꦶꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦥꦼꦭꦕꦏ꧀ꦪꦁꦠꦼꦭꦃꦠꦼꦂꦠꦤꦩ꧀ꦝꦶꦠꦸꦧꦸꦃꦚ꧉ꦣꦤ꧀ꦕꦩꦺꦴꦫ꧉ꦣ꧀ꦩ꧀꧈ꦄꦭ꧀꧈¹
"Kemari" pinta Bian. Bila memberikan kertas itu.
Bian mengambil kertas itu, memfoto nya lalu menerjemahkan di sebuah situs web yang berada di internet. Tak sampai lima detik. Arti dari tulisan itu sudah terpampang jelas di layar 6,5 inci itu.
"Di leher bayi ini ada sebuah tatto, arti tatto itu adalah sandi sebuah pelacak yang telah tertanam di tubuh nya. Dan Camora. Dm. Al." Bian bergumam mem arti dari tulisan itu dengan cepat.
Lalu, tangan yang terbalut dengan banyak nya plester itu mengambil laptop milik Bila yang berada di atas nakas.
Bila yang penasaran dengan artinya pun mengambil ponsel yang di pegang oleh Bian, membaca artinya dan kembali terkejut.
"Kenapa Bil?" tanya Ed mengerutkan keningnya.
"Ini" jawab nya memberikan ponsel itu pada Ed.
Ed sama terkejut nya dengan Bila. "Berarti Adam bukan lah bayi biasa, dia istimewa" simpul Ed. Bila mengangguk mantap.
"Apa kalian ingat apa kata dari tatto yang berada di leher Adam?" tanya Bian membuka sebuah situs rahasia. Seperti nya situs yang sengaja di buat dan situs itu adalah situs yang yang berbeda dengan situs yang lainnya.
"Apa sebuah situs?" tanya Bila membuat Bian mengangguk.
"Biar aku saja!" Bila hendak mengambil laptop itu namun pergerakan nya di cegah oleh Bian.
"Biarkan aku menebus kesalahanku dengan ini Bil,"
•••|
__ADS_1
NB: aksara Jawa dan artinya saya cari di google, jika ada salah mengenai arti yang sebenarnya, tatak letak dan sebagainya, saya minta maaf sebesar-besarnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Dan mohon dukungan nya, seperti memberi like, Komen dan lainnya, agar novel ini berkembang dan author senang...